Mengenang Sejarah Aceh di Pameran Aceh Story Expo

Wali Nanggroe Aceh mengunjungi stan Aceh Story Expo

Aceh Story Expo menyuguhkan ragam cerita sejarah dan kebudayaan Aceh masa lampau. Pameran yang berlangsung di Museum Aceh ini, ikut memeriahkan serangkaian acara Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) VII.

Pameran ini diikuti sebanyak 27 komunitas pecinta sejarah berlangsung selama Sembilan hari mulai 7 hingga 15 Agustus 2018 mendatang.

Pameran sejarah ini mengusung cerita tentang kerajaan Aceh Darussalam, Samudera Pasai, Abad kejayaan Aceh, hingga keruntuhan Aceh. Panitia Aceh Story Expo membagi dua lokasi pameraran yaitu di lantai pertama dan kedua.

Panitia Aceh Story Expo, Yusri Ramli mengatakan, dilantai pertama panitia menyuguhan pameran mulai dari lukisan perdabadan Aceh Darusslam, Artefak, Batu Nisan, Mata Uang, Alat-alat perang, dan benda-benda yang dipakai sehari-hari oleh orang Aceh.

Sementara dilantai dua, menghadirkan pameran tentang manuskrip, baju adat Aceh, sejarah tentang konflik hingga perdamaian Aceh. Serta stand yang diisi oleh Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP) Sejarah, yang mengangkat tentang nilai-nilai pendidikan sejarah.

“Namun yang menjai daya tarik pada pameran ini adalah lukisan tentang dari awal terbentuknya Aceh Darussalam, Samudera Pasai, Perang Aceh, sampai runtuhnya kerajaan Aceh. Selain itu, dari keseluruhan pameran kita ikut memajang artefak sejarah Aceh pada abad 6 Hijriah, dan lukisan peradaban Aceh pada abad 179 hijiriah,” kata Yusri.

Dijelaskannya, target dari pemeran sejarah itu sendiri ingin menyemangati para komunitas pencinta budaya dan sejarah serta generasi untuk lebih mencintai sejarah dan peradaban Aceh. “Pameran tidak hanya sekadar pameran tetapi juga berupa informasi masyarakat baik di dalam maupun dari luar. Siapapun berkunjung ke Aceh harus tahu bahwa Aceh itu punya identitas luar biasa hebat di masanya,” pungkas Yusri

Sementaran itu, Wali Nanggroe Aceh, Malik Mahmud Alhaytar, saat mengunjungi pameran memberikan apresiasi kepada pihak penyelenggaran pameran yang sudah berusaha mencatat bagaimana sejarah Aceh melalui lukisan-lukisan.

“Sebagai orang Aceh kita harus bangga dan saya harapkan putra-putri Aceh yang cinta sejarah, agar bersama-sama kita lestarikan dan mengungkit kembali sejarah Aceh yang sudah mulai hilang,” katanya.