Berangkat dari kebutuhan masyarakat modern akan produk makanan yang praktis, cepat saji, namun tetap sehat, Rani Desari bersama suaminya mengembangkan Jungge Food, produsen bumbu basah instan dan sambal Nusantara khas Aceh yang mengandalkan rempah-rempah alami sebagai bahan utama.
Nama Jungge Food merupakan singkatan dari Jadi Unggulan Generasi, yang mencerminkan harapan agar produk tersebut tidak hanya dinikmati oleh generasi saat ini, tetapi juga dapat terus dikenal dan digunakan oleh generasi mendatang. Rani Desari mengatakan, seluruh produk Jungge Food dibuat dari rempah asli tanpa bahan kimia berbahaya. “Semua bumbu diproduksi dari rempah alami tanpa MSG, dengan kadar gula dan garam rendah,” ujarnya.
Menurut Rani konsep tersebut menjadi pembeda dibandingkan banyak produk bumbu instan yang beredar di pasaran saat ini. Usaha tersebut dirintis dari skala rumahan dengan modal yang sangat terbatas. “Modal awal kita sekitar Rp250.000, menggunakan peralatan yang ada di rumah mertua,” kata Rani.
Jungge Food mulai dikembangkan sejak 2022 dan dipasarkan secara resmi pada 2023 setelah melalui berbagai tahapan uji coba dan penyempurnaan produk. Resep dasar yang digunakan berasal dari warisan keluarga. “Komposisi bumbu dikembangkan dari resep keluarga yang diwariskan mertua, kemudian kami modifikasi agar bisa diterima oleh berbagai daerah,” jelas Rani
Saat ini Jungge Food memiliki sejumlah produk unggulan, di antaranya bumbu Mie Aceh dan nasi goreng dalam satu saset yang dapat digunakan untuk dua menu masakan sekaligus. Selain itu tersedia bumbu nasi minyak khas Aceh, bumbu bakar dengan rempah Aceh dan asam sunti, serta bumbu pepes Aceh yang menggunakan daun kari dan asam sunti sebagai ciri khas rasa.
Seiring berkembangnya usaha, Jungge Food juga menghadirkan varian lain seperti bumbu nasi goreng Jakarta yang dirancang dengan cita rasa lebih ringan agar sesuai dengan selera konsumen yang lebih luas. Berbagai sambal Nusantara turut diproduksi dengan tingkat kepedasan yang beragam sehingga dapat disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan.
Produk yang paling banyak diminati konsumen hingga saat ini adalah bumbu Mie Aceh, nasi goreng, nasi minyak, dan nasi goreng Jakarta. Setiap kemasan dilengkapi informasi mengenai komposisi bahan, cara penggunaan, takaran penyajian, serta level kepedasan untuk memudahkan konsumen.
Dari sisi ketahanan produk, Rani menjelaskan bahwa bumbu Jungge Food mampu bertahan hingga satu tahun sebelum kemasan dibuka. “Kandungan asam sunti, garam, dan minyak berfungsi sebagai pengawet alami, sementara ketahanan juga dipengaruhi oleh cara pengemasan,” katanya.
Dalam memasarkan produknya, Jungge Food mengandalkan strategi digital marketing melalui media sosial dan marketplace nasional. Selain bekerja sama dengan berbagai toko di Aceh, promosi juga dilakukan secara aktif melalui platform digital untuk menjangkau pasar yang lebih luas. “Harapannya bumbu Aceh ini tidak hanya dinikmati di Aceh, tetapi juga di luar daerah dan oleh wisatawan yang ingin merasakan cita rasa asli Aceh,” ujar Rani.
Jungge Food juga tergabung dalam BSI UMKM Center yang aktif mendukung pengembangan UMKM melalui pelatihan, fasilitasi akses investor dan modal usaha, serta kesempatan mengikuti berbagai bazar untuk memperluas promosi dan meningkatkan kepercayaan konsumen.
Menurut Rani, kualitas produk dan pelayanan kepada pelanggan menjadi kunci utama dalam membangun loyalitas pasar. Salah satu pengalaman yang paling berkesan terjadi ketika seorang pelanggan dari Kota Langsa menghubungi langsung untuk menanyakan ketersediaan produk nasi minyak Jungge Food. “Pernah pelanggan di Kota Langsa mencari kontak kami melalui media sosial lalu menelepon menanyakan kapan produk nasi minyak Jungge Food masuk lagi ke Suzuya. Waktu itu kami belum produksi lagi dan stok di sana ternyata juga habis,” tuturnya.
Pengalaman tersebut semakin menguatkan keyakinannya bahwa usaha yang memberikan manfaat kepada masyarakat harus dibangun dengan niat baik dan perencanaan yang matang. Kini, jangkauan pemasaran Jungge Food telah meluas hingga berbagai daerah di Sumatera, Jakarta, dan Kalimantan. Bahkan, sebagian produk dibeli sebagai oleh-oleh untuk dibawa ke luar negeri.
“Sekarang jangkauan pasar kita sudah sampai Sumatera, Jakarta dan Kalimantan, bahkan ada yang memesan sebagai oleh-oleh ke luar negeri,” kata Rani.
Selain tersedia di berbagai toko lokal dan pusat perbelanjaan di Aceh hingga Sumatera, produk Jungge Food juga dapat diperoleh melalui marketplace dan media sosial seperti Instagram, TikTok, Facebook, serta Shopee dengan nama akun @junggefood.
