Kertas yang Menyimpan Cerita

Bingkai lukisan berwarna tergantung rapi di dinding pameran. Garisnya masih sederhana, warnanya tidak selalu rapi keluar dari batas, tetapi di atas kertas itu tertulis nama anak-anak dari desa yang jauh dari hiruk pikuk kota namun memiliki semangat untuk belajar.

Di ruangan lobi Perpustakaan Wilayah Aceh di Banda Aceh itulah karya anak-anak dari beberapa desa di Kecamatan Pulo Aceh, Kabupaten Aceh Besar, dipamerkan dalam Festival Pustaka Kampung Impian pada September 2025 lalu.

Dinding-dinding dipenuhi lukisan, gambar, tulisan tangan, dan kerajinan sederhana. Sebagian pengunjung berhenti cukup lama di depan karya-karya itu, membaca, memperhatikan detail, dan sesekali tersenyum.

Bagi anak-anak yang mengikuti kegiatan di Pustaka Kampung Impian, kertas adalah tempat pertama mereka menuliskan cerita, menggambar imajinasi, dan mencoba memahami dunia.

Penggagas program Pustaka Kampung Impian, Rahmiana, mengatakan festival ini menjadi ruang untuk memperlihatkan potensi anak-anak desa yang sering kali jauh dari akses pendidikan mewah.

“Walaupun mereka tinggal jauh dari Kota Banda Aceh, mereka memiliki kemampuan. Jika mendapatkan akses dan fasilitas, mereka bisa mengembangkannya” ujarnya.

Dari ruang pamer sederhana itu, kertas menjadi medium kecil yang menampung mimpi anak-anak desa. Namun jauh sebelum itu, kertas telah menjadi saksi perjalanan panjang pengetahuan di Aceh.

Di ruang pamer Museum Aceh, suasananya jauh lebih tenang. Lampu dibuat temaram, sementara pendingin ruangan menjaga suhu tetap dingin. Di balik kaca vitrin, manuskrip-manuskrip kuno tersimpan rapi.

Beberapa lembar kertas tampak telah berubah warna menjadi kekuningan. Ada yang mulai memudar, bahkan menunjukkan tanda-tanda pernah ditumbuhi jamur halus. Meski demikian, sebagian tulisan masih terlihat jelas.

Salah satu yang paling menarik perhatian adalah mushaf Al-Qur’an tulisan tangan dengan bingkai hias berwarna di halaman awalnya. Pola-pola ornamen itu digambar langsung dengan tinta dan warna alami.

Edukator museum, Muhammad Nur Aulia, menjelaskan sebagian besar manuskrip Aceh pada masa lalu ditulis menggunakan kertas impor dari Eropa yang masih mampu bertahan hingga sekarang.

“Penulisan naskah Aceh pada abad ke-17 hingga menjelang Perang Belanda tahun 1873 menggunakan kertas Eropa dari Inggris, Belanda, dan Perancis, kemungkinan karena kualitasnya lebih baik” ujarnya.

Jika diterawang ke arah cahaya, beberapa kertas memperlihatkan watermark, yaitu tanda air yang menunjukkan asal dan tahun pembuatan manuskrip tersebut. Simbolnya beragam, mulai dari mahkota hingga bulan sabit.

Museum Aceh sendiri menyimpan sekitar 1.800 manuskrip dengan berbagai tema. Ada kitab fikih, tasawuf, hikayat, hingga catatan pengobatan tradisional yang disebut mujarabat.

Naskah-naskah itu dulu menjadi bahan pembelajaran di dayah, disalin tangan oleh para penyalin karena mesin cetak belum dikenal pada masa itu.

Di sudut lain seorang pengunjung berhenti cukup lama memperhatikan manuskrip di depannya, mencoba mengamati detail hiasan iluminasi yang menghiasi halamannya.

Kertas-kertas tua itu tidak hanya menyimpan tulisan, tetapi juga jejak sejarah panjang Aceh sebagai pusat perkembangan ilmu pengetahuan Islam di kawasan Asia Tenggara. Namun perjalanan kertas sebagai medium penyimpan pengetahuan kini mulai berubah.

Berbeda dengan Museum Aceh yang menampilkan manuskrip fisik, di Museum Tsunami Aceh pengunjung hampir tidak menemukan dokumen kertas kuno yang dipamerkan. Sebagian besar arsip justru disajikan dalam bentuk digital.

Ruang-ruang pamer menampilkan dokumentasi tragedi tsunami 2004 melalui layar multimedia, rekaman video, dan instalasi visual. Beberapa foto dokumentasi masih dicetak di atas kertas foto dan dipajang di lorong serta teras museum.

Peralihan ini menunjukkan bagaimana cara manusia menyimpan memori kolektif terus berkembang. Jika dahulu pengetahuan disalin tangan di atas kertas seperti manuskrip ulama, kini sejarah juga disimpan dalam bentuk data digital yang dapat diakses melalui layar.

Meski begitu, kertas tidak benar-benar hilang dari kehidupan manusia. Dalam dunia seni kontemporer, medium ini justru kembali mendapatkan ruang eksplorasi baru.

Hal itu terlihat dalam pameran Art Jakarta Papers 2026 yang digelar pada Februari lalu di City Hall, Pondok Indah Mall 3, Jakarta. Pameran ini menghadirkan 28 galeri, terdiri dari 22 galeri dari Indonesia dan enam galeri dari berbagai negara di Asia.

Di ruang pamer itu, kertas tidak lagi sebatas media tulis. Medium ini menjelma menjadi sarana ekspresi seni rupa: dilipat, dicetak, dipotong, bahkan dibentuk menjadi instalasi artistik.

“Medium ini semakin sering muncul di berbagai bienal dan pameran khusus, sehingga penting bagi kami untuk menyorotinya” ujar Adinda Yuwono, Manajer Komunikasi Art Jakarta.

Salah satu karya yang menarik perhatian pengunjung adalah milik seniman Aurora Arazi. Ia menjadikan kertas sebagai medium utama dalam karyanya dengan membuat struktur kertas berlubang untuk menyisipkan benda-benda kecil yang ia temukan saat berjalan kaki, seperti punting rokok dan penghapus pensil, aktivitas yang ia sebut sebagai bentuk meditasi.

Benda-benda itu bukan sesuatu yang sengaja ia cari, biasanya justru barang yang dianggap tidak berharga di jalanan. Namun bagi Arazi, objek-objek tersebut menyimpan makna tersendiri.

Dari gambar sederhana yang dipajang di dinding perpustakaan itu, perjalanan panjang kertas seakan bertemu kembali dengan masa kini. Medium yang sama pernah digunakan ulama Aceh berabad-abad lalu untuk menyalin pengetahuan dalam manuskrip, dan kini juga hadir dalam karya seni kontemporer di galeri internasional.

Fungsinya mungkin berubah dari waktu ke waktu, tetapi kertas tetap menjadi ruang tempat manusia menyimpan pengetahuan, ingatan, dan imajinasi.(Nurul Ali)

Berita Terkait

Berita Terkini

Google ads