Wawancara Prof. Dr. Bahrein T Sugihen: Kalau Dia Mau Mengusir Saya dengan Alasan Apa?

Prof. Bahrein T Sugihen/Foto Zulfikar Sawang

Rektor Universitas Syiah Kuala Prof. Dr. Ir. Samsul Rizal, M.Eng., mengirimkan surat perintah pengosongan rumah dinas dosen di wilayah Sektor Selatan Darussalam pada November 2020 silam. Samsul memberikan jangka waktu hingga 21 Maret 2021 agar para penghuni mengosongkan komplek perumahan.

Di area perumahan dosen senior rencananya akan dibangun Gedung Fakultas Hukum dan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.

Berbagai pihak bereaksi atas surat rektor. Pimpinan DPRA meminta Rektor USK menunda pembangunan tersebut. Melalui surat Rektor USK menyampaikan bahwa pengembangan kampus ke depan membutuhkan area yang lebih luas sehingga berdampak pada pembongkaran bangunan rumah dinas yang berada dalam lingkungan USK.

Salah seorang dosen senior USK yang menempati komplek perumahan Kopelma dan menerima surat perintah pengosongan rumah adalah Prof. Dr. Bahrein T Sugihen. Guru Besar Sosiologi USK yang juga penulis buku “Sosiologi Pedesaan Suatu Pengantar” ini mulai mengabdi di USK sejak 1 Februari 1963.

Lulusan Lousiana State University ini merupakan akademisi yang teguh melakukan proses kaderisasi pada dunia intelektual di kampus Jantong Hate Rakyat Aceh sejak kedatangannya ke Banda Aceh, ketika kampus USK baru didirikan.

Berikut wawancara Lia Dali dari Kantor Berita Radio Antero bersama Prof. Dr. Bahrein T Sugihen:

Apa perasaan Anda setelah diminta pindah dari rumah dinas oleh Rektor USK?

Saya sebenarnya tidak merasakan apa-apa karena saya menganggap ini seperti main-main saja begitu.

Saya mengerti ini surat, rumah ini supaya dikosongkan. Begini, begini. Saya pikir, saya ini di bawah perintah siapa sebetulnya. Jadi, saya biarkan saja begitu. Ketika saya ditanya, ya saya beritahu, saya tidak menjawab surat itu karena berpikir ini surat tidak ada maknanya buat saya. Saya menganggap ini rumah, saya disuruh tempati. Pertama saya datang ke sini dengan surat disuruh tempati, ya saya tempati. Selesai. Tidak ada masalah buat saya.

Kalau dia mau mengusir saya dengan alasan apa? Tidak pernah ada alasan diberikan. Mengapa harus saya meninggalkan? Saya pernah menerima surat dengan dikatakan mau dipakai untuk membangun. Entah membangun apa, saya tidak tahu. Membangun apa? Membangun kantong. Maaf-maaf atau membangun apa begitu. Saya tidak begitu tahu.

Jadi, ya saya biarkan saja. Saya diundang oleh, saya pergi. Saya katakan bahwa saya tidak tahu masalahnya karena saya tidak pernah diajak bicara apapun.

Saya ini kan ditempatkan dulu oleh universitas lalu masa’ tanpa pemberitahuan apapun masalahnya, saya disuruh meninggalkan rumah. Saya bilang, ya saya diam saja. Tidak saya layani pun. Sampai hari ini saya tidak pernah melayani tindakan apapun.

Bagaimana riwayatnya dulu, Prof menempati rumah tersebut?

Saya dulu dijemput, diajak membangun FKIP di sini. Pertama sekali saya didatangi oleh saudara pimpinan universitas saya dulu di sana lalu menanyakan siapa-siapa yang bakal tamat. Saya termasuk dalam daftar, sebagai salah satu dari 3 orang yang diminta untuk membina jurusan Bahasa Inggris di Unsyiah.

Saya belum ujian sarjana, tetapi saya sudah menunggu dalam ujian. Sudah ada jadwal ujian lalu karena sudah tak ada jadwal ujian, rupanya dia beritahu kepada pimpinan jurusan di FKIP Medan dulu bahwa dia membutuhkan. Dia cari nama-namanya siapa. Kebetulan ada tiga orang yang memiliki koneksi dengan teman-teman yang ada di Aceh karena itu kemudian memilih. Ya sudah, ikut saja dulu.

Jadi, ada tiga orang dulu. Dari tiga orang ini, kebetulan saya yang pertama lulus. Saya lulus tanggal 25 Januari kemudian tanggal 1 Februari saya sudah punya SK untuk bekerja di Syiah Kuala. FKIP Bahasa Inggris. Saya menunda datang ke sini karena ketika itu Aceh kan tidak begitu kondusif dalam bidang keamanan dan sebagainya. Saya menunda-nunda, sampai tertunda setahun, tetapi kemudian suatu saat saya tidak bisa menunda lagi. Saya bahkan dijemput. Orang di sini dulu barangkali berpikir, orang ini mungkin tidak berani datang ke Aceh karena masalah begitu lalu memang saya alasannya  terutama karena saya dijemput.

Saya datang ke sini naik kapal barang dari Medan. Dua hari, dua malam. Sampai ke Ulee Lheu. Pelabuhannya sudah mau dibongkar semua. Tidak ada orang siapa pun di situ. Tak ada yang menjemput pun lalu saya mendarat. Saya angkat barang sendiri. Saya bawa buku dua box besar lalu angkat sendiri. Tunggu kendaraan pun tak ada. Jadi, sampai sore, kami berdua saja. Orang lain tidak ada di pelabuhan. Buruh pelabuhan tidak ada sama sekali. Semula ada dua orang buruh di situ, tetapi karena kita tidak meminta bantuan buruh ini, mereka pulang. Kami tertidur di bawah pohon asam di situ, sampai pukul 16.00 sore. Tidur pulas. Ya sudah. Kedai nasi tidak ada. Kami sudah mutar-mutar di Ulee Lheu itu, tidak ada kedai nasi yang berjualan. Kebetulan, rupanya hari Minggu lalu tahu-tahu, sore-sore, ada lewat kereta satu orang. Ketika suruh tumpangi, “Tidak bisa satu sado, Pak, mesti dua. Saya cari kawan dulu.” Mesti cari satu lagi. Tunggu lagi. Satu jam lagi lalu diangkut, mau diajak ke Darussalam, ternyata saat sampai ke kota, “Oh, tidak bisa, Pak. Kuda ini tidak bisa ke Darussalam. Jauh, Pak. Jauh. Jauh.” Katanya begitu. Bagaimana, jalan kaki. Ya, sudah, diturunkanlah di simpang menuju ke Darussalam ini. Sekarang ada tugu di situ. Tunggulah di situ. Kebetulan lewat jeep satu. Kebetulan yang bawa dikenali oleh teman saya yang menjemput saya itu. Dia kenal kemudian stop di situ, diangkutnya kami ke Darussalam. Sampai di Darussalam pukul 03.00 malam. Jadi, belum makan, apa segala itu. Jadi, ya sudah. Sampai di Darussalam ditampung oleh keluarga. Ada yang tampung. Sudah. Sampai tempat tinggal pindah-pindah, keluarga belum datang.

Barulah sesudah sampai sebulan begitu, disuruh jemput keluarga lalu saya jemput keluarga. Bawalah semua keluarga ke sini. Pindah. Rumah belum ada, tetapi sudah disiapkan. Katanya, ada rumah 12 pintu yang diprioritaskan untuk orang-orang tertentu yang sudah ditentukan dalam daftar mereka. Sudah ada nama saya,  nama teman saya dua orang lagi dari Medan juga, kemudian diundi. Saya kebetulan dapat yang nomor dua dari ujung.

Begitu dapat diundi, belum siap rumah itu. Tangganya belum ada, tetapi tidak apa-apa.
Sementara itu, sebelum tinggal di rumah ini. Suatu saat ditampung di asrama, bekas asrama mahasiswa. Tidur di situ satu keluarga. Rupanya tidak ada pagar di belakang. Habis dicuri. Periuk-periuk makan. Semua. Segala tak ada. Jadi, susah, tetapi tidak apa-apalah. Itu masalah pribadilah.

Selesai itu. Sebulan, dua bulan kemudian, ya sudah siap rumah itu. Belum selesai betul, tetapi sudah ada tangga. Ya sudah, masuk saja karena sudah diundi. Nomornya sudah ada. Masuklah saya. Kebetulan keluarga sudah ada. Ya, sudah, masuk pelan-pelan dari tempat orang, dari wisma itu. Pindah barang sedikit-sedikit.

Ya, itu saja. Sampai hari ini. Jadi, sudah 50 tahun lebih itu. Saya sudah menempati rumah itu sejak pertama kali saya datang ke sini sampai sekarang, belum pernah pindah, semeter pun. Jadi, sekarang disuruh pindah, ya saya tidak menjawab apa-apa. Saya katakan, cuma ya saya dulu disuruh ke sini. Saya kira kontrak saya belum selesai. Dulu yang mengundang saya ini. Kalau bisa ada surat, paling kurang dari universitas atau siapa, begitu. Namun, ternyata datang surat yang begitu. Semacam, ya bukan pengusiran, tetapi permohonan supaya meninggalkan rumah itu. Kalau bisa secepatnya, begitu.

Ada pertemuan, saya pergi, tetapi dalam pertemuan pun saya tidak berbicara karena kalau berbicara saya pikir itu panjang ceritanya. Jadi, ya sudah. Saya diam. Sampai sekarang.

Saya dipanggil, diminta datang ke DPR, ya saya ceritakan bagaimana sampai di sini. Saya takut menceritakannya karena ya nanti susah kan. Menceritakannya panjang sekali, di depan sidang orang, kan tidak begitu baik. Saya pikir etikanya kurang baguslah begitu. Jadi, saya hanya ceritakan bagaimana saya datang ke sini, tetapi tidak sedetil ini.

Itu, Prof, di depan pimpinan DPRA terkait permintaan pindah rumah ini, Prof?

Iya.

Prof, tidak mengatakan apa-apa?

Saya tidak. Saya hanya mengatakan kapan saya datang ke sini dan bagaimana saya tinggal di sini. Itu saja karena mereka pun tidak bertanya karena saya berpikir kalau terlalu panjang ceritanya tidak enak didengar, kan begitu. Jadi, saya hanya satu kalimat itu. Saya datang tanggal sekian naik kapal laut lalu ceritakan pengalaman saya seperti tadi juga. Selesai. Sekarang, beginilah ceritanya. Ada surat begitu. Saya tidak tahu lagi surat itu di mana karena itu sama seperti pemberitahuan dan itu selembar. Tidak tahu pun di mana saya simpan. Begitu saya bilang. Saya anggap tidak adalah begitu, tetapi tidak bisa mengaku tidak ada kan karena sudah disampaikan. Kita sudah mengikuti beberapa program seperti ini, tidak diundang begini karena berhubung mau dibongkar dan sebagainya. Saya tidak tahu, apakah mereka mau bongkar atau tidak. Saya tidak begitu berkepentingan untuk tahu juga, sebab saya pikir saya toh tinggal di sini, saya sudah dijanjikan bahwa saya boleh tinggal di rumah ini, ya sepanjang yang saya mampu. Jadi, karena itu saya tidak bilang pada siapapun. Tidak ada yang mengganggu saya di rumah ini.

Kalau disuruh tukang-tukang sapu itu hanya antar surat, tidak bisa tidak, buat apa, saya lawan saja. Kalau dia mau datang, ya saya hadapi. Jadi, saya kira, ya kurang paslah. Kalau memangnya ada rencana. Katanya, ya macam-macamlah. Barangkali, Anda sebagai wartawan mungkin tahu lebih banyak tahu daripada saya, apa yang sebenarnya terjadi sekarang di sini.

Saya hanya tahu bagaimana menderitanya orang-orang yang sudah diancam-ancam begini kan. Kalau saya tidak peduli. Mau bikin apa dia. Begitu.

Bagaimana sejarahnya Kopelma Darussalam dan peran dosen senior dalam membangun Universitas Syiah Kuala?

Sebenarnya, ya tentu satu universitas itu baru bisa berjalan kalau ada dosen-dosennya. Oleh karena itu, dicarilah orang-orang universitas ini dulu dari pimpinan. Kalau di sini dulu pilihannya pimpinan kelompok. Jadi, yang pergi ke mana-mana itu namanya Drs. Syamsuddin Ishak, dari dulu. Itu yang mencari dosen pergi ke mana-mana. Seperti saya bertemu pertama sekali di Medan, ketika dia meminta saya agar mau ke Banda Aceh setelah selesai. Ya, itu kemana-mana dia pergi. Banyak universitas dia datangi untuk mencari dosen.

Ternyata, ketika sampai saya di sini, memang ada beberapa orang dosen yang dari luar Sumatera juga, dari Jawa, ada yang dari Padang. Jadi, di mana dia perolehlah, tetapi yang terdekat cuma ada tiga orang dari Medan, terutama dosen Bahasa Inggris.

Nah, itu saja yang bisa saya katakan. Sejauh ini, saya tidak pernah mengalami masalah. Apapun kata, ya saya tidak bermasalah kok. Jadi, saya mau bikin apa. Sekarang dikode disuruh usir. Jangan orang sudah tinggal 50 tahun lebih, masa’ diusir begitu saja. Kayak anjing kurap saja kan. Paling kurang, ya kita di ajak ngobrol. Ini tidak, dikasi surat. Bagi saya itu perbuatan pimpinan universitas yang sudah kurang ajar. Masa’ tidak berani datang. Padahal saya secara pribadi masih berhubungan keluarga lewat perkawinan dengan rektor. Saya kemana-mana pun tidak bicara apapun karena saya berpikir nanti ya sampainya ke situ juga. Saya pikir, ya saya lebih bagus tidak usah bicara, biar orang lain. Saya hanya beritahukan pada siapa yang saya anggap bisa memahami masalah ini.

Orang yang dulu mengundang saya ke sini, tidak ada lagi satu pun di sini. Masih ada barangkali Syamsuddin Mahmud mungkin, tetapi Syamsuddin Mahmud pun, dia juga itu lebih dulu saya sampai pun dari dia di Darussalam.

Ini hanya masalah etika saja yang saya kira tidak pas. Masa’ orang dikirimin surat begitu tanpa pemberitahuan apapun. Tidak ada apapun. Seolah-olah kucing kurap. Itu yang saya tidak bisa terima. Kalau baik-baik, ya besok pun bisa pergi, kok. Saya ada kampung saya di Medan. Tidak ada masalah, tetapi maunya, ya yang benar. Saya dulu di sini bukan datang sendiri, kok. Saya dijemput, dijanjikan macam-macam. Jadi, sekarang karena saya sudah tua mungkin, tidak bisa saya mengajar lagi. Ya, saya tidak bisa memaksa diri sendiri.

Bagaimana Prof menilai Universitas Syiah Kuala sekarang dibandingkan semangat awal Unsyiah dibangun sebagai “Jantung Hati Rakyat Aceh”?

Begini. Sebenarnya, pimpinanlah yang harus menghayati Jantung Hati Rakyat Aceh itu. Saya ini sudah menghayatinya sejak saya menginjakkan kaki pertama di Aceh. Walaupun ini bukan tanah air saya. Asing bagi saya. Ya, asing bagi saya. Saya dulu takut ke Aceh. Takut. Namun, saya sudah sampai. Saya mencintai daerah ini. Jadi, tidak bisa saya banget-banget mau mengatakan apa tentang Aceh. Saya sudah makan dan tidur, minum di Aceh selama 60 tahun. Itu, ya susah juga bagi saya untuk meninggalkan begitu saja. Ya, susah juga, tetapi kalau dipaksa, ya apa boleh buat. Kalau dipaksa, tetapi kalau dipaksa tidak bisa begitu saja. Datang kan ada biaya. Sekarang suruh bawa barang-barang. Dulu di sini tidak diberikan. Saya bawa semua dari Medan. Tilam-tilam saya bawa dari Medan. Nah, sekarang saya masih punya tilam, walaupun bukan yang dulu lagi. Kalau saya bawa pulang, pakai apa saya angkut. Saya sudah pensiun. Jadi, maunya, ya tau benarlah, ah. Saya ini manusia. Itu tadi, masa’ saya dianggap seperti kambing.

Jadi, saya pikir, ini anak saya ya. Saya memanggil anak pada rektor ini. Saya tidak begitu tahu juga apa yang membuat dia begitu jadi gila.

Dia datang, tidak masalah buat saya. Saya lebih tua. Saya tidak punya permasalahan pribadi dengan beliau. Saya, kapan saja saya datang pada dia, mau bilang begini begitu, ya tetapi di dalam hal ini saya tidak mau karena muncul di luar acara hubungan saya dengan dia. Itu karena semua orang sudah tahu kan. Saya kalau datang begitu begini kan, tidak bisa juga ya. Susah juga saya, tetapi secara kekeluargaan saya tidak ada masalah dengan dia. Besan berbesan-besan. Jadi, kan susah.

Prof, terima kasih untuk waktu Anda bersama Antero

Ya, terima kasih kembali. Saya kepingin sekali supaya begini. Kalau sudah lewat radio kan sudah lebih banyak orang tahu, tetapi manfaatnya sebenarnya apa, sih, karena kalau dulu kita bisa membangun kekuatan lewat udara begini, tetapi saya tidak berniat membangun kekuatan begitu. Saya setidaknya, ya saya fair-fair saja. Lewat secara official saja, bagaimana mestinya. Kalau kita mengundang orang, lalu kita sepak keluar begitu saja. Manusia apa itu.

LIA DALI