Pena 98 : Pemuda Milenial Tidak Mengerti Apa yang Terjadi pada Masa 1998

Konferensi Pers Pena 98

Pena 98 akan menyelenggarakan Pentas Seni, pameran foto aksi-aksi 1998 serta dialog publik dalam rangka memperingati 20 tahun reformasi, di Taman Sari Banda Aceh, 10-13 Mei 2018 mendatang.

Ketua Panitia kegiatan Fendra menyebutkan, kegiatan tersebut sebagai refleksi 20 tahun reformasi dan akan menghadirkan pelaku-pelaku reformasi 1998, khususnya yang berasal dari Aceh seperti Ikbal Farabi, Arie Maulana, Kausar M Yus, Tarmizi MSI, Cut Farah, Islamudin Ismadi, Raihana Diani, Taufik Abda dan Falevi Kirani.

“Ini adalah bagian dari upaya untuk menjaga hasil reformasi dan menularkannya kepada generasi sekarang,” ujar Fendra yang juga Ketua Pewarta Foto Indonesia (PFI) Aceh ini.

Aktifis Pena 98 Tarmizi MSI mengatakan, 20 tahun pasca reformasi masih banyak cita-cita yang belum terwujud, seperti kesejahtraan rakyat khususnya para petani. Sehingga ada agenda reformasi agraria yang juga harus diperjuangkan dan butuh pengawalan ketat oleh para aktifis.

Namun demikian kata Tarmizi, kondisi saat ini sudah jauh lebih baik dibandingkan dari sebelum reformasi, hal itu setidaknya ditandai dengan kebebasan menyampaikan pendapat, ruang demokrasi mulai terbuka dengan system multi partai, kebebasan berorganisasi serta kebebasan pers.

Oleh karenanya kata Tarmizi perlu adanya pengawalan dan transformasi sejarah bagi aktifis-aktifis pasca reformasi, khususnya pemuda milenial yang tidak tau dan tidak mengerti lagi apa yang terjadi pada tahun 1998, sehingga mereka berfikir kondisi saat ini terjadi dengan sendirinya, tidak terkait dengan perjuangan aktifis 1998.

“Ada sebagian yang berfikir bahwa kondisi sekarang lebih buruk dari masa Soeharto, tapi kenyataannya hari ini menyangkut dengan kebebasan kita berbicara sudah cukup bagus, meskipun ada yang belum berjalan dengan baik. Dan 20 tahun reformasi, Pena 98 terus mengajak bahwa perjuangan belum selesai dan tidak boleh berhenti,” ujarnya didampingi presidium Pena 98 Arie Maulana.

Sementara itu Aktifis Pena lainnya Teuku Banta Syahrizal mengatakan pasca 20 tahun reformasi jarang sekali adanya konsolidasi membahas kemana arah bangsa pasca reformasi.

Menurut Banta, jika tidak ada upaya untuk membangun konsolidasi, maka sejarah 1998 menjadi sangat sia-sia dan tidak berguna untuk tatanan Indonesia menjadi lebih baik, karena menurutnya gerakan reformasi belum cukup dengan jatuhnya Soeharto.

“Dan yang menyedihkan ada yang menganggap reformasi itu salah dan lebih enak pada masa Orde baru. bahkan hal ini disampaikan oleh orang yang terlibat pada era reformasi,” tambahnya.

Di tempat yang sama Presidium Pena 98 Arie Maulana menyebutkan langkah-langkah konkrit yang sudah dilakukan oleh aktifis 98 antara lain dengan cara masuk dalam sistem, menjadi anggota DPR dari partai-partai politik yang ada.

“Langkah konkritnya adalah dengan terjun langsung dalam system atau menjadi anggota DPR, terserah partainya apa tapi tetap kita dukung,” ujarnya.