Berawal dari kegemaran berkeliling Aceh, Mila Rosa Aprilyani yang akrab disapa Ocha, merintis usaha kuliner khas Aceh bernama Nyunti, produk olahan sambal sunti yang kini menjadi salah satu pilihan oleh-oleh dari Banda Aceh.
Nyunti menghadirkan berbagai olahan berbasis sambal sunti, bumbu khas Aceh dengan cita rasa asam, gurih, dan pedas. Produk ini dikemas praktis dan mampu bertahan hingga enam bulan di suhu ruang tanpa menggunakan bahan pengawet.
“Saat ini kami memiliki beberapa varian seperti Kerang Sambal Sunti, Kerang Cabai Hijau, Ayam Suwir Sunti, dan Tongkol Suwir Sunti” kata Ocha. Dari seluruh varian tersebut, kerang sambal sunti menjadi produk paling diminati sekaligus ikon dari Nyunti.
Ide usaha ini muncul ketika Ocha melakukan perjalanan ke wilayah barat Aceh dan melihat banyak pedagang menjual kerang di pinggir jalan. Kerang tersebut ternyata bernama lokan, yaitu kerang air tawar yang banyak ditemukan di wilayah barat selatan Aceh seperti Aceh Jaya, Meulaboh, hingga Blangpidie.
“Waktu itu saya berpikir, belum ada yang memperkenalkan kerang sebagai makanan ready to eat di Aceh” ujarnya.
Ia kemudian belajar dari masyarakat di kawasan Teunom, Aceh Jaya, yang biasa mengolah kerang dengan sambal sunti, bumbu khas Aceh yang dibuat dari belimbing wuluh yang difermentasi dan dikeringkan. Pengalaman tersebut mendorongnya meninggalkan pekerjaan kantoran dan fokus membangun usaha Nyunti.
Nyunti mulai dirintis pada 2020, bertepatan dengan masa pandemi Covid-19. Saat itu Ocha memanfaatkan waktu untuk bereksperimen dengan resep dan produksi.
Namun perjalanan membangun usaha tidak selalu mudah. Salah satu tantangan terbesar adalah menjaga kualitas bahan baku kerang. Kerang lokan harus direndam selama dua hari sebelum direbus agar pasir yang terkandung di dalamnya hilang.
“Kalau tidak bersih, pasirnya masih nyangkut di daging kerang dan ini bisa merusak produksi sekaligus menurunkan kepercayaan pelanggan” jelas Ocha.
Dalam proses produksinya, kerang dimasak bersama sambal sunti lalu dikemas menggunakan retort pack, yaitu kemasan khusus yang memungkinkan produk disterilkan dengan suhu tinggi.
“Dengan teknologi retort, produk bisa bertahan sampai enam bulan di suhu ruang tanpa mengalami pembusukan” ujarnya.
Produksi dilakukan berdasarkan permintaan pasar, biasanya dua hingga tiga kali dalam sebulan dengan kapasitas sekitar 400 kemasan setiap kali produksi.
Sejak awal, Nyunti memang menargetkan pasar oleh-oleh bagi wisatawan yang berkunjung ke Aceh. Menurut Ocha, banyak produk oleh-oleh yang dijual di Aceh sebenarnya juga dapat ditemukan di daerah lain.
“Kalau orang datang ke Aceh biasanya mencari pisang sale, padahal itu juga ada di daerah lain. Sementara sambal sunti benar-benar khas Aceh” katanya.
Untuk menjangkau konsumen lebih luas, Nyunti juga menghadirkan dua tingkat kepedasan, yakni original dan spicy, serta varian lain seperti ayam suwir dan tongkol suwir sunti bagi konsumen yang tidak mengonsumsi kerang.
Dalam pemasaran digital, Nyunti mengembangkan konsep konten “Cerita Tanah Rencong” yang memperkenalkan Aceh melalui cerita-cerita sederhana tentang budaya dan kehidupan masyarakat.
“Orang Aceh jadi merasa bangga, sementara orang luar yang sebelumnya tidak tahu tentang Aceh bisa melihat sisi menariknya” kata Ocha.
Dalam pengembangan bisnisnya, Nyunti juga mendapatkan dukungan dari BSI UMKM Center melalui pelatihan dan pendampingan usaha.
Setelah enam tahun berjalan, Nyunti kini memiliki beberapa karyawan dengan dapur produksi di Tingkeum, Aceh Besar. Produk ini juga telah mengantongi legalitas usaha seperti NIB, sertifikasi halal, dan PIRT, serta sedang dalam proses pengajuan izin BPOM.
Saat ini Nyunti dapat ditemukan di berbagai toko oleh-oleh dan supermarket di Banda Aceh. Konsumen dari luar daerah juga dapat memesan melalui media sosial dan platform e-commerce dengan akun @nyunti.id. (Nurul Ali)


