Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh bersama Pemerintah Aceh dan Pemerintah Kabupaten Aceh Besar menyerahkan bantuan sarana dan prasarana (sarpras) kepada kelompok tani, kelompok peternak, dan kelompok usaha garam di Kabupaten Aceh Besar. Program ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat ketahanan pangan daerah, meningkatkan produktivitas komoditas unggulan, serta menjaga stabilitas harga pangan di Provinsi Aceh.
Penyerahan bantuan dilakukan oleh Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh, Agus Chusaini, bersama Wakil Gubernur Aceh yang diwakili oleh Asisten II Sekretaris Daerah Aceh, T. Robby Irza, serta Wakil Bupati Aceh Besar, Syukri A. Jalil, kepada para ketua kelompok penerima manfaat. Kegiatan tersebut turut dihadiri Plt. Kepala Dinas Pertanian Aceh Besar, anggota DPRK Aceh Besar, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam), serta para kelompok tani dan peternak.
Penguatan sarana dan prasarana ini dinilai penting untuk menjawab berbagai tantangan di sektor pangan, mulai dari keterbatasan alat produksi, rendahnya efisiensi usaha tani, hingga tingginya kehilangan hasil pascapanen. Mengingat Aceh Besar memiliki lahan pertanian yang subur dan jumlah petani yang besar, dukungan sarpras diharapkan dapat meningkatkan produktivitas serta efisiensi usaha kelompok tani dan peternak.
Bantuan yang disalurkan meliputi berbagai peralatan produksi pertanian, mesin pengolahan pakan ternak seperti hammer mill dan mixer, fasilitas kandang ayam petelur, hingga sarana pendukung produksi garam.
Wakil Bupati Aceh Besar, Syukri A. Jalil, menyampaikan apresiasi kepada Bank Indonesia atas dukungan yang dinilai langsung menyentuh kebutuhan petani dan peternak. Ia menekankan bahwa bantuan ini tidak hanya bertujuan meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga memperkuat kelembagaan kelompok serta membuka peluang kemitraan usaha.
“Hari ini para kelompok tidak hanya hadir sebagai penerima bantuan, tetapi sebagai penggerak kemajuan Aceh Besar. Bantuan ini harus dimanfaatkan seoptimal mungkin dan dirawat bersama agar manfaatnya berkelanjutan,” ujarnya.
Salah satu penerima bantuan, Kelompok Ternak Andalan Mandiri, mendapatkan dukungan yang memungkinkan peningkatan kapasitas produksi telur ayam hingga dua kali lipat. Selain itu, kelompok ini juga mulai mengembangkan sistem produksi pakan mandiri yang lebih efisien. Model tersebut diharapkan dapat menjadi contoh bagi kelompok lain dalam mengurangi ketergantungan pasokan telur dari luar daerah.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh, Agus Chusaini, menegaskan bahwa program bantuan sarpras merupakan bagian dari strategi Bank Indonesia dalam mendukung ketahanan pangan dan menjaga stabilitas harga.
“Sebagai wujud kontribusi nyata dalam menjaga stabilitas harga dan meningkatkan kapasitas produksi pangan, Bank Indonesia menyalurkan bantuan sarana dan prasarana bagi kelompok tani dan peternak. Kami berharap sarpras ini dapat meningkatkan produktivitas sekaligus menjadi model pengembangan klaster pangan yang berdaya saing di Aceh,” katanya.
Sinergi antara Pemerintah Aceh, Pemerintah Kabupaten Aceh Besar, dan Bank Indonesia juga diarahkan untuk memperkuat posisi Aceh sebagai salah satu sentra produksi pangan di kawasan. Aceh memiliki potensi besar pada berbagai komoditas seperti beras, telur ayam, produk peternakan, serta produksi garam.
Sementara itu, Asisten II Sekda Aceh, T. Robby Irza, menekankan pentingnya penguatan sektor pangan yang memiliki kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. Ia berharap program serupa dapat diperluas ke kabupaten dan kota lain di Aceh agar dampak ekonomi yang dihasilkan semakin luas bagi masyarakat.
Untuk memastikan keberlanjutan program, seluruh pihak menyepakati sejumlah langkah tindak lanjut, antara lain pengembangan komoditas unggulan berbasis kewilayahan, penguatan integrasi program melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), pendampingan berkelanjutan bagi pelaku usaha tani dan peternakan, serta perluasan akses pembiayaan bagi kelompok usaha.
Program ini diharapkan tidak hanya menjadi kegiatan seremonial semata, tetapi juga menjadi bagian dari komitmen bersama dalam mendorong peningkatan produksi pangan, memperkuat ekonomi petani, serta mewujudkan kemandirian pangan Aceh secara berkelanjutan.


