Membuka Ruang untuk Perempuan: Jejak Ruhana Kudus dalam Pers dan Pendidikan

Perempuan pada awal abad ke-20 umumnya dibatasi ruang, suara, dan pilihan hidupnya. Namun di tengah keterbatasan itu, hadir seorang tokoh yang justru membawa perubahan bagi perempuan. Ia menjadi pionir dalam pergerakan perubahan perempuan.
Ia adalah Ruhana Kudus. Ia melampaui batasan yang diikat norma dan adat pada masanya, hadir sebagai sosok penggerak perempuan dengan tiga wajah sekaligus; pendidik, jurnalis dan penggerak ekonomi perempuan. Tiga wajah ini membentuk pondasi gerakan perempuan Indonesia jauh sebelum emansipasi popular.

Sebagai tokoh sejarah, namanya kerap tenggelam di balik popularitas tokoh sezamannya seperti Raden Ajeng Kartini. Padahal, Ruhana merupakan jurnalis perempuan pertama di Indonesia dan telah memulai gerakan nyata sejak 1911.
Ia mendirikan lembaga pendidikan perempuan di Koto Gadang dan mengajarkan perempuan membaca serta menulis, aktivitas yang masih dianggap tabu ketika pendidikan perempuan belum dipandang penting. Pengetahuan tentang sosok Ruhana sejatinya penting, namun belum banyak disadari publik.

Kesadaran inilah yang kemudian menjadi fokus pembahasan dalam diskusi bertajuk “3 Wajah Roehana Koeddoes”, kolaborasi Forum Jurnalis Perempuan Indonesia, IDN Times, dan Yayasan Amai Setia dalam rangka peringatan Hari Pers Nasional 2026 di Jakarta Selatan, Jumat (6/2/2026).
“Beliau (Ruhana) sudah melakukan hal yang melampaui perempuan pada masanya, kalau sekarang multi-skilling dan multi-tasking sudah biasa, tapi pada zaman itu luar biasa” kata Uni Lubis, Pemimpin Redaksi IDN Times.

Ia menilai Ruhana Kudus telah memahami hal yang jarang dipikirkan pada masanya. Ruhana membangun kesadaran bahwa literasi membuat perempuan mampu berpikir, “Kemandirian ekonomi membuat perempuan kuat, dan tulisan membuat suara sampai” tambahnya. Gagasan itu, menurutnya, masih terus menjadi bagian dari perjuangan hingga sekarang.

Dalam gerakannya, Ruhana berusaha mencerdaskan perempuan melalui tiga peran sekaligus. Pertama, sebagai pendidik; lebih dari sekadar guru, ia merancang ekosistem belajar dari halaman rumahnya. Ruhana memahami bahwa perubahan sosial tidak bisa bergantung pada satu generasi saja, sehingga ia teguh memajukan pendidikan perempuan.
Selain itu, Ruhana menekuni bidang jurnalisme. Ia mendirikan surat kabar perempuan Soenting Melajoe pada tahun 1912, capaian revolusioner di awal abad ke-20 dan dilakukan oleh seorang perempuan. “Ia menciptakan ruang di mana perempuan menjadi narator kisahnya sendiri” ujar Trini Tambu, Ketua Yayasan Kerajinan Amai Setia, Koto Gadang.
Melalui media ini, perempuan dari berbagai daerah dapat mengirimkan tulisan mereka, meski Ruhana menghadapi cemooh dan penolakan karena dianggap menentang norma sosial saat itu.


Wajah ketiganya adalah sebagai penggerak ekonomi perempuan. Ia mendirikan Yayasan Amai Setia, tempat perempuan belajar membuat produk kerajinan, menjualnya, dan memperoleh penghasilan untuk kemandirian ekonomi.

“Dari sekolah kerajinan yang didirikannya, beliau menunjukkan bahwa jalan paling efektif menuju kemajuan adalah melalui ilmu dan keterampilan” tambah Trini, sekaligus memutus ketergantungan tatanan lama yang membatasi pilihan hidup perempuan.

Mutia Hafid, Menteri Komunikasi dan Digital RI, mengaitkan perjuangan Ruhana dengan kondisi jurnalisme masa kini, di mana jumlah jurnalis perempuan baru sekitar 25 persen. “Perjalanan memang sudah panjang, namun ruang informasi bagi perempuan masih belum cukup. Kita harus terus bergerak memberi ruang, khususnya bagi karya jurnalistik perempuan” ujarnya.

Sejalan dengan itu, Wahyu Dhyatmika, Ketua Umum Asosiasi Media Siber Indonesia, menyoroti peran krusial Ruhana dalam meletakkan fondasi jurnalisme di Indonesia. “Kalau kita bicara atribusi jurnalis perempuan, kontribusinya tidak kalah dengan tokoh-tokoh pers lain pada masa awal pertumbuhan dunia jurnalisme” tegasnya.

Sementara Awi Khairiah, Ketua Umum Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI), menegaskan bahwa bagi jurnalis perempuan, Ruhana Kudus merupakan sumber semangat sekaligus fondasi Sejarah perjuangan. “Dengan perkembangan jurnalis perempuan saat ini, kita harus lebih membangkitkan perempuan dan menempatkan mereka di posisi strategis” katanya.

Semangat itu terus hidup dalam gerakan bersama seperti Forum Jurnalis Perempuan Indonesia, sebagai bentuk kelanjutan dari jejak rintisan jurnalis perempuan sejak awal abad ke-20. Ruhana menjadi contoh nyata jika perempuan telah berperan aktif dalam dunia pers sejak masa awal pertumbuhannya, termasuk ketika ia menulis di media perempuan di Medan setelah pindah dari Sumatera Barat.

Warisan semangat itu juga terlihat dalam tantangan yang dihadapi jurnalis perempuan masa kini, seperti kekerasan, ketidakamanan kerja, dan keterbatasan posisi strategis di ruang redaksi. Prihatin dengan kondisi ini, Awi menekankan pentingnya upaya besama membangun ekosistem pers yang lebih sehat dan unggul melalui pelatihan dan solidaritas
Ia menambahkan bahwa penyusunan SOP perlindungan menjadi salah satu cara konkret melanjutkan nilai-nilai perjuangan Ruhana. “Kami diberi pelatihan agar media-media lain juga termotivasi mempunyai SOP yang sama, supaya jika terjadi kekerasan terhadap perempuan bisa ditangani” ujarnya.

Sebelum mengakhiri diskusi, Uni berharap, dalam setahun ke depan, tulisan-tulisan Ruhana yang masih tersebar dapat dikumpulkan dan diarsipkan. “Termasuk yang di Belanda, Dewan Pers bersama AMSI, mungkin setahun lagi kita akan punya, minimal 100 halaman dari tulisan-tulisan Ibu Ruhana,” ujarnya.

Sementara itu, Wahyu menekankan pentingnya sosialisasi yang lebih massif agar warisan Ruhana dapat terus hidup dan menginspirasi generasi jurnalis perempuan berikutnya. mengapa hal ini penting? Agar generasi jurnalis perempuan berikutnya dapat belajar langsung dari karya-karya dan gagasan Ruhana Kudus, memperkuat fondasi literasi dan kemandirian perempuan di dunia pers. (Nurul Ali)

Berita Terkait

Berita Terkini

Google ads