Dialog di Simeulue, Cek Midi: Smong Itu Kearifan Lokal yang Luar Biasa

0
14

Smong atau cara deteksi musibah tsunami adalah kearifan lokal yang secara turun-temurun diamalkan oleh masyarakat Pulau Simeulue. Ia adalah kearifan lokal yang luar biasa.

Tatkala bencana gempa dan tsunami melanda Aceh pada 26 Desember 2004, penduduk di Simeulue sangat sedikit menjadi korban.

“Di Simeulue terdapat kearifan lokal yang tinggi bernama Smong,” ujar Tarmizi A Hamid alias Cek Midi saat menjadi narasumber pada Dialog Ketahanan Sosial Budaya Berbasis Kearifan Lokal yang digelar di Sinabang, Rabu (15/05/2024).

“Penduduk Simeulue mampu mendeteksi akan datangnya bencana tsunami melalui Smong. Itulah yang membuat jumlah korban jiwa di Simeulue saat tsunami melanda Aceh pada 2004 sangat minim,” kata Cek Midi.

Cek Midi memaparkan kandungan manuskrip Aceh tentang Smong di Simeulue yang telah dimulai sejak abad 18.

Sementara Kepala Kesbangpol Simeulue Sabu Nasir yang ikut menjadi pemateri menyampaikan agar budaya yang dipraktekkan di Aceh mesti disesuaikan dengan ajaran Islam agar terjauh dari praktek syirik.

Dialog dibuka oleh Surya Edy Rachman dari Kesbangpol Aceh.

Surya menyehatkan, Simeulue memiliki sejumlah keunggulan dan ciri khas. Salah satunya adalah penduduknya dikenal memiliki hati bersih dan mulia dan berjuluk Hati Emas.

‘Simeulue berjuluk Bumi Hate Fulawan atau berhati emas. Ini bagian kemuliaan yang perlu dilestarikan dan dikampanyekan,” kata Surya Edy Rachman dari Kesbangpol Aceh saat membuka Dialog Ketahanan Sosial Budaya Berbasis Kearifan Lokal yang digelar di Sinabang, Rabu (15/05).

Dalam kesempatan itu Surya Edy menyarankan agar Simeulue Hate Fulawan dikampanyekan melalui baliho, bahkan tugu, di tempat strategis seperti pelabuhan dan bandara.

Kampanye Hate Fulawan atau Simeulue berhati emas akan menguntungkan dalam memajukan pariwisata di Pulau Simeulue dan ini akan menguntungkan secara ekonomi.

Menurut Surya, tamu akan senang datang ke wilayah yang dikenal ramah dan memperlakukan tamu dengan mulia.

Dialog menghadirkan narasumber Tarmizi A Hamid, kolektor manuskrip Aceh dan Sabu Nasir SAg MSi, kepala Kesbangpol Simeulue.

Dialog yang diikuti oleh puluhan tokoh adat Simeulue tersebut turut dihadiri Hasan Basri M Nur dari UIN Ar-Raniry, Abdullah Usman dari FKUB Aceh, Zairil Terbangan dan Rudi Singkia dari Kesbangpol Aceh. []