TERKAIT PENGUNGSI ROHINGYA, UNHCR: BELUM MILIKI RENCANA UNTUK PENANGANAN SELANJUTNYA

UNHCR belum memiliki rencana lanjutan untuk penanganan pengungsi Rohingya yang tedampar di Bireun.

Faisal Rahman, Protection Associate dari UNHCR mengatakan “Kita melakukan pendataan awal untuk semua yang sudah ada di Bireuen, langkah selanjutnya kita akan berkoordinasi dengan pemerintah.”

Sebanyak 36 orang pengungsi Rohingya terdampar di Desa Matang Pasi Kecamatan Peudada Kabupaten Bireun pada Senin (16/10).

UNHCR menangani pengungsi setelah mereka di darat untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka dan tetap mengusahakan menempatkan pengungsi Rohingya di negara yang bersedia menampung, tutur Faisal.

Dihubungi Radio Antero, Pemerintah Kabupaten Bireuen melalui Alfian Sekretaris Dinas Sosial Kabupaten Bireuen menyatakan sudah melakukan koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Sigli dan Langsa yang sudah ada tempat penampungan pengungsi yang difasilitasi UNHCR, tapi pihak Kabupaten tersebut belum siap menampung.

“Sudah kita tampung sementara di gedung SKB Bireuen. Pihak UNHCR, Imigrasi dan IOM sudah hadir untuk pengurusan selanjutnya,’ sebut Pj Bupati Bireuen Aulia Sofyan.

Diberitakan masyarakat Matang Pasi mengetahui adanya pengungsi Rohingya saat mereka telah menepi ke darat dan tidak melihat adanya kapal yang mengangkut mereka seperti peristiwa sebelumnya.

Masyarakat nelayan menyiapkan kebutuhan makanan dan minuman lalu melaporkan pada pihak keamanan tentang keberadaan pengungsi Rohingya.

Panglima Laot, Miftach Tjut Adek menuturkan “Ada kemungkinan pihak tertentu yang menfasilitasi pengungsi.”

Menurutnya, banyak negara yang menolak pengungsi Rohingya berbeda dengan Aceh yang menerima sehingga sering menjadi tujuan pengungsi.

“Panglima Laot dan asyarakat tetap berkomitmen membantu pihak yang membutuhkan baik di laut maupun setelah mendarat, Sikap kita sikap kemanusiaan siapa saja yang membutuhkan pertolongan di laut wajib ditolong” tegas Miftah Tjut Adek.

Aceh menjadi pintu masuk imigran Rohingya melalui jalur laut. Tercatat tujuh wilayah di Provinsi Aceh yang didarati imigran Rohingya sejak tahun 2015 hingga 2023.

Wilayah tersebut meliputi Kabupaten Aceh Besar, Pidie, Bireuen, Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Tamiang, Kota Lhokseumawe, dan Kota Langsa. Tercatat sebanyak 3.077 orang imigran Rohingya mendarat di Aceh sejak 2015, dengan rincian 1.719 orang pada 2015, 43 orang (2016), 79 orang (2018), 396 orang (2020), 81 orang (2021), 575 orang (2022), dan 184 orang (2023) (Nurul Ali )

Berita Terkait

Berita Terkini

Google ads