Hadijah, Juru Masak Perempuan yang Peduli Hutan

Setiap orang tua selalu menginginkan kecukupan untuk anak-anaknya, begitu juga Hadijah. Perannya sebagi seorang istri dan Ibu tak menghalanginya bekerja untuk membantu ekonomi keluarga dengan menjadi juru masak di Stasiun Penelitian Ketambe.

Berada di Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) dan termasuk dalam Kawasan Ekosistem Leuser (KEL). Stasiun Penelitian Ketambe terletak di Kabupaten Aceh Tenggara Provinsi Aceh.

Hadijah ikut menjadi tulang punggung keluarga setelah suaminya mulai sakit-sakitan, selain karena faktor ekonomi, jarak yang dekat juga menjadi alasan baginya bersedia bekerja di sana, lima menit dengan menyeberangi sungai Alas yang berada tepat di belakang rumahnya.

Ini kali kedua Hadijah bekerja di tempat yang sama, sebelumnya pada tahun 2011, ia keluar karena anaknya masih kecil, lalu pada 2019, ia kembali ditawarkan untuk bekerja sekaligus menggantikan sang suami yang kala itu menjadi juru sampan di sana.

Hadijah menjadi satu-satunya pekerja perempuan. Saban hari ia memulai aktivitas sejak awal pagi hingga menjelang sore, bertugas memasak dan menyiapkan makanan untuk para rangers atau penjaga hutan.

Setiap bulan ia memiliki hari libur berjumlah 7 hari dengan hari kerja berjumlah 23 hari, Hadijah selalu memanfaatkan hari libur bersama keluarga.

Keahlian mumpuni Hadijah dalam memasak tak lagi diragukan, ragam masakan mampu ia sajikan dengan rasa yang enak, seperti Tasak Telu yang menjadi salah satu masakan yang digemari oleh rangers.

Tasak Telu merupakan masakan khas Aceh tenggara yang memiliki rasa yang lezat dan segar saat disantap karena diracik menggunakan cabai, bawang dan serai serta berbahan dasar bebek.

Menjadi juru masak di Stasiun Penelitian Ketambe, membuat Hadijah bertemu orang-orang dengan latar belakang yang beragam sehingga secara tidak langsung membuatnya mengerti dan mapu dalam berbahasa asing seperti bahasa Inggris.

Begitu banyak pengalaman yang didapatkan oleh Hadijah, suka dan duka menjadi bagian dirinya yang tak dapat dipisah selama ia bekerja di sana. Ia selalu senang jika ada tamu yang berkunjung ke Stasiun Penelitian seperti saat kunjungan Fieldtrip Jurnalis Perempuan yang difasilitasi oleh Yayasan Hutan, Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA) pada Maret lalu.

“Selama di sini semua suka, tapi yang paling senang hati tuh kalo ada tamu yang datang, kenapa? Ya, karena suasana jadi ramai”
Kami di sambut hangat oleh rangers dan Hadijah, senyum diwajahnya membuat siapapun dapat melihat ketulusan itu

Bagi Hadijah, bekerja di stasiun penelitian Ketambe tak sebatas untuk memenuhi kebutuhan keluarga tetapi juga menjadi panggilan hati. Bagaimana tidak, ia merasa ikut bertanggungjawab dalam menjaga kelestarian hutan.

Seperti pengalaman yang didapatinya saat melihat dan menangkap basah orang-orang yang masuk hutan tanpa izin atau ingin menangkap ikan namun merugikan banyak orang karena menggunakan alat penyetrum yang dapat menyebabkan ikan mati bahkan hasil kebunnya seperti mentimun dan tomat tak luput dari curian.

“Pernah kejadian dan sering dapat orang cari ikan tapi pakai sentrum, saya larang, saya bilang kan orang lain juga cari ikan di situ, apa ngga mikir sampai ke sana?”

Bahkan tanpa rasa takut terus memarahinya bahkan untuk mencegah hal itu ia terus mengacaukan dengan melempari batu agar orang itu pergi dan cara tersebut berhasil.

“Ngga takut saya, terus lempar batu ke air biar di pergi, ngga lama pergi memang dia.”

Meski tak pernah ikut berpatroli ke dalam hutan bersama rangers, hutan bukan tempat yang asing untuk Hadijah.

Sejak kecil Ia telah menggenal dan dekat dengan hutan karena terbiasa ikut menjelajah bersama sang Ayah yang kala itu mendampingi para peneliti yang berkunjung ke sana.

Baginya, hutan dan sungai yang berada di Desanya adalah hal penting yang harus dijaga dan dilestarikan.

Memiliki peran dan tanggungjawab ganda serta peduli dengan hutan, menjadikan Hadijah sosok perempuan inpirasi.(Nurul Ali)