Gangguan Ginjal Akut Renggut 22 Nyawa Anak Aceh

Kasus Gangguan Ginjal Akut Progresif Atipikal (GGAPA) pada anak cukup menyita perhatian publik tanah air, tidak terkecuali di Aceh yang telah merenggut nyawa 22 anak.

Menanggapi hal tersebut, Balai Besar Pengawas Obat dan makanan (BBPOM) Aceh sebagai intitusi yang mempunyai peran dan tanggungjawab terhadap peredaran setiap produk obat dan makanan di masyarakat menyelenggarakan diskusi dengan tema “Jak Ta Bahas Gagal Ginjal Akut dan Ubat Sirup Nyang Aman Keu Aneuk Geutanyoe” pada Rabu (16/11/2022).

Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Aceh, dr. Syafruddin Haris, SPA (K) yang hadir sebagai pemateri dalam diskusi tersebut mengatakan Rumah Sakit Umum Zainal Abidin (RSUZA) telah merawat 30 pasien anak, 22 diantaranya meninggal dunia. Saat ini RSUZA merawat dua pasien yang kondisinya sudah mulai membaik.

Terkait obat apa yang aman untuk dikonsumsi oleh masyarakat, dr. Syafruddin mengatakan bahwa sebagian besar obat sudah aman karena sudah diselidiki tidak mengandung Etilen Glikol (EG) dan Dietilen Glikol (DEG).

“Jadi, memang bisa diteruskan pemakaiannya. Sementara saat ini, untuk pemberian sirup Parasetamol kita tunda dulu. Kita bisa memberikan tablet yang telah digerus terlebih dulu sesuai dengan dosis untuk tubuh anak.” ujarnya.

Dia meminta agar masyarakat terutama orangtua untuk tidak panik, tetapi harus waspada memperhatikan keadaan anak.

“Pertama yang paling penting dan terlihat adalah pipis anak. Apakah anak pipis setiap hari? Ini harus dipantau 3 atau 4 jam. Apakah anak kencing atau tidak? Kalau anak memakai diapers, diapersnya kalau bisa ditimbang dulu berapa beratnya. Kalau diapersnya kosong maka harus waspada. Musti langsung ke fasilitas Kesehatan, tapi kita harus tahu dulu apakah sebelumnya pasien tersebut minum obat sirup? Jika iya maka bawa obat sirup tersebut ke faskes supaya dapat segera dilakukan tata laksana dengan baik.” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala BPOM Aceh Yudi Noviandi mengatakan bahwa ada 198 obat sirup yang dinyatakan aman dengan klaim indikasi sebagai obat batuk, anti biotik, dan anti alergi.

Namun, untuk obat penurun panas belum keluar karena saat ini sedang dilakukan uji mutu terhadap semua obat penurun panas yang beredar di pasaran.

“Jadi, kami mohon kesabaran masyarakat untuk bisa menunggu sampai hasil uji tersebut keluar. Kita sepakat dengan Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia, dr. Syafruddin, untuk mengutamkan memberi obat tablet kepada anak-anak dan balita, demi keamanan.” tutupnya.

Sebagaimana diketahui Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) kembali merilis 65 daftar tambahan obat sirup yang aman dikonsumsi pada Kamis (27/10/2022).

Sebelumnya, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah melakukan intensifikasi pemeriksaan dan penelusuran terhadap seluruh produk obat bentuk sirup dan drops. Hasil penelusuran tersebut, sebanyak 133 sirup obat dinyatakan aman dari senyawa berbahaya propilen glikol, polietilen glikol, sorbitol, dan/atau gliserin/gliserol. Dengan demikian, total ada 198 obat sirup yang aman dikonsumsi. (Lia Dali)

Berita Terkait

Berita Terkini