Pengungsi Rohingya Kembali Mendarat di Aceh

Pengungsi Rohingya kembali mendarat di Aceh. Tetapi pihak kepolisian akan menyelidiki dugaan keterlibatan tindak pidana perdagangan manusia.

Sebanyak 114 pengungsi Muslim Rohingya, mendarat di Bireuen, Aceh, Minggu 6 Maret.

Seluruh pengungsi Rohingya yang terdiri dari 58 laki-laki, 21 perempuan dan 35.anak-anak yang masuk ke perairan Bireuen jam 03.00 WIB dan mendarat di pinggir pantai Gampong Alue Buya yang berjarak 500 meter dari pemukiman penduduk.

Seluruh pengungsi Rohingya kemudian dievakuasi oleh aparat keamanan Indonesia ke meunasah atau musala setempat.
Untuk penanganan sementara dari Pemkab Bireuen melalui Dinas Sosial telah bantu bantuan masa panik untuk konsumsi bagi pengungsi Rohingya, selain itu juga bantuan dari masyarakat membuka dapur umum di meunasah.

Menurut Kepala Desa atau Keuchik Alue Buya Pasie, Muslem A Majid pengungsi Rohingnya ditemukan oleh warga yang sedang cari kepiting di kawasan kuala dekat pantai.

“Saat kami menemukan mereka sudah turun dari boatnya dan duduk ditepi pantai ditempat sepi 500 meter ke barat pusat Gampong Alue Buya Pasi,” terang Muslim A Majid. 

Bupati Bireuen Muzakkar A Gani mengharapkan pengungsi dapat segera dievakuasi ke penampungan pengungsi di Lhokseumawe dibawah koordinasi IOM dan UNHCR.

“Tempat penampungan sementara sekarang di Bireuen tidak cukup kondusif sehingga dikhawatirkan pengungsi keluar dari tempat penampungan”’ ungkap Muzakar A Gani.

Beberapa bulan lalu pengungsi yang ditampung di Lhokseumawe melarikan diri dari tempat pengungsian. Hal itu terjadi berulang kali sehingga muncul dugaan keterlibatan sindikat yang mengatur pelarian pengungsi.

“Saya belum punya bukti tapi dugaan ini muncul melihat pola yang sistematis sehingga kuat dugaan terlibat pihak lain” lanjut Muzakar.

Kepolisian Daerah Aceh menanggapi dugaan indikasi tindak pidana perdagangan manusia (trafficking) akan melakukan penyelidikan terkait kedatangan 114 pengungsi Rohingya di Bireuen.

Kabid Humas Polda Aceh Kombes Winardy, mengatakan, Polda Aceh melalui Ditreskrimum sudah menurunkan tim untuk mengecek kemungkinan adanya dugaan trafficking.

“Sampai saat ini masih melakukan penyelidikan, dan masih bekerja mengumpulkan keterangan saksi dan alat bukti yang lain,” kata Winardy.

Winardy mengungkapkan, hasil pendataan petugas diketahui sebelum masuk ke perairan Aceh, 114 pengungsi Rohingya itu telah melakukan perjalanan laut selama 25 hari

“Para imigran Rohingya berangkat dari Myanmar dan berada di laut selama 25 hari tanpa makanan yang cukup,” tuturnya.

Kemudian, hasil pemeriksaan polisi di antara mereka ditemukan ada yang memiliki kartu UNHCR dan kartun vaksin.

“Didapati 74 orang merupakan pemegang kartu UNHCR, dan 30 orang sudah memiliki kartu vaksin,” ungkapnya.

Dari Jakarta juru bicara UNHCR di Indonesia Mitra Salima Suryono belum menanggapi soal kartu pengungsi yang dikeluarkan oleh UNHCR.

“Saat ini fokus kami adalah kesehatan mereka. Mereka telah menjalani tes covid dan akan menjalani masa karantina”, katanya.

Polisi sebelumnya melaporkan setidaknya 74 orang diantara pengungsi telah memiliki kartu pengungsi dari UNHCR. Yang menunjukkan mereka telah melakukan perjalanan dari Bangladesh, di mana mereka mungkin telah memperoleh status pengungsi.