Nelayan di Aceh Bertekad Akan Mendaratkan Pengungsi Rohingya yang Masih di Laut

Nelayan di Bireuen bertekad akan membawa kapal pengungsi Rohingya ke daratan Aceh jika otoritas pemerintah tidak segera bertindak.

Panglima Laot Bireuen Badruddin Yunus, yang akrab dipanggil Abu Laot, menyebutkan pemerintah belum mengambil tindakan kecuali rencana akan mengirimkan makanan ke kapal pengungsi.

Kapal saat ini mesinnya dalam kondisi rusak dan ditambatkan di rumpon nelayan yang jaraknya sekitar 50 mil dari bibir pantai Bireuen. Bireuen adalah kabupaten yang jaraknya 218 km dari Banda Aceh.

Kapal pengungsi Rohingya pertama kali dilihat di perairan Aceh pada Minggu sore 26 Desember lalu. Terdapat total 120 jiwa dalam kapal, yang 51 diantaranya anak-anak, 9 laki-laki dan sisanya perempuan.

“Pemeritah harap segera mengambil sikap bagaimana pengungsi ini, kasihan anak-anak. Itu nyawa manusia,” himbau Abu Laot, “mana nilai kemanusiaan kita?”

Badruddin dan nelayan di Bireuen bertekad akan membawa pengungsi ke daratan jika pemerintah belum mengambil sikap segera.

“Dengan segala resiko, itu nyawa manusia” ucap Badruddin. Masyarakat dan nelayan sudah mengumpulkan bantuan makanan dan sudah menyalurkan kepada pengungsi.

Nelayan belum segera mengambil langkah untuk membawa pengungsi kareka khawatir dengan tuduhan menyelundupkan pengungsi. Pada Juni lalu pengadilan menjatuhkan vonis 5 tahun penjara untuk 3 orang nelayan di Aceh Utara yang membantu pengungsi Rohingya mendarat di Aceh Utara. Ketiga nelayan dikenakan tuduhan penyelundupan manusia dan perdagangan manusia dalam peristiwa itu.

Sementara itu dari Jakarta UNHCR menyerukan pendaratan darurat bagi Pengungsi Rohingya di Bireuen. “UNHCR sangat mengkhawatirkan keselamatan dan nyawa para pengungsi yang ada di kapal”, ucap Mitra Suryono, Associate Communications Officer UNHCR di Jakarta.

UNHCR mengingatkan Peraturan Presiden no 125 tahun 2016 tentang perlindungan pengungsi mencakup provisi bagi Pemerintah Indonesia untuk menyelamatkan pengungsi di kapal yang mengalami kesulitan di dekat Indonesia dan untuk membantu mereka berlabuh. “Untuk mencegah kehilangan nyawa, UNHCR mendesak pemerintah Indonesia segera mengizinkan kapal tersebut dengan selamat”, tambah Mitra Suryono.

Selama bertahun-tahun Indonesia telah menjadi teladan bagi negara lain di kawasan yang sama dalam memberikan perlindungan bagi pengungsi. UNHCR berharap untuk melihat semangat kemanusiaan yang sama lagi hari ini di Aceh.
Menurut Mitra Suryono staf UNHCR saat ini sudah berada di lapangan, bekerja dengan koordinasi erat dengan pemerintah setempat.

Sementara itu Bupati Bireuen Muzakkar A Gani menjelaskan informasi yang diterimanya dari pihak kepolisian bahwa tujuan pengungsi ke Malaysia. Untuk itu pihaknya akan mengirimkan bantuan bahan bahan bakar dan makanan. Mengapa pengungsi belum diizinkan mendarat di Bireuen? Bupati Bireuen Muzakkar berkilah, “Mereka maunya ke Malaysia, jadi kita akan bantu bahan bakar dan makanan untuk melanjutkan perjalanan”.

Lebih lanjut Muzakkar mengatakan jika nelayan ingin membawa nelayan ke daratan sialakan saja tapi dari pengalaman sebelumnya kemampuan logistik terbatas. Sementara pemerintah sedang menangani covid 19 dan dana dibutuhkan untuk penanganan covid 19.

Desakan untuk segera menyelamatkan pengungsi dating dari berbagai pihak. Amnesty International Indonesia melalui Direktur Eksekutif Usman Hamid mengatakan, “Kami mendesakpihak yang berwenang untuk menerima kedatangan mereka. Kalau menolak mereka menepi atau mengirim kembali mereka ke lautan lepas sama saja melepas kewajiban internasional Indonesia. Kapal mereka harus dibiarkan masuk dan mendarat di pantai terdekat. Para pengungsi diselamatkan dan dipenuhi kebutuhan dasarnya.”

Menurut anggota DPR RI asal Aceh Nasir Jamil yang memiliki otoritas untuk izin masuk adalah pihak imigrasi dengan berkoordinasi dengan pihak keamanan. “Kita belum meratifikasi konvensi tentang pengungsi, tapi kita punya aturan yang memberikan tempat bagi pengungsi yang datang ke Indonesia”, tegas Nasir Jamil.

Nasir mendesak pihak otoritas pemerintah daerah untuk segera mengambil tindakan kemanusiaan. Nelayan juga dihimbau untuk segera membantu dan tidak perlu khawatir pada tuduhan penyelundupan manusia “para nelayan tak perlu takut jika bukan bagian dari organisasi penyelundup manusia.”

Nasir akan menghubungi pihak Kementrian Hukum dan HAM agar hari ini bisa segera didaratkan sehingga diketahui maksud dan tujuan pengungsi.