120 Pengungsi Rohingya Tujuan Malaysia Terkatung-Katung di Perairan Aceh

Sebanyak 120 orang pengungsi Rohingya kembali dilaporkan terkatung-katung di perairan Bireun, Aceh sejak kemarin, Senin (27/12/2021).

Menurut informasi terakhir, Selasa (28/12/2021) kapal yang mengangkut etnis Rohingya itu menuju Malaysia, namun kehabisan bahan bakar tepat di perairan Aceh.

Anggota DPR RI asal Aceh Muhammad Nasir Djamil mendesak pihak yang punya otoritas untuk segera mendaratkan mereka ke perairan Aceh terlebih dahulu untuk diberikan bantuan dan untuk mengetahui tujuan mereka berlayar.

Ia berharap pihak imigrasi segera berkomunikasi dengan pemerintah daerah, TNI/Polri selaku pihak yang juga memiliki wewenang di perairan.

Pasalnya kata Nasir, Indonesia juga memiliki peraturan perundang-undangan serta peraturan lainnya dibawah undang-undang yang memberikan tempat bagi pengungsi yang datang ke Indonesia. Ia juga berharap agar para nelayan di kabupaten Bireun untuk bisa membantu para etnis Rohingya tersebut.

“Saya juga imbau para nelayan untuk segera membantu mereka. Saya fikir tidak boleh berlama-lama untuk melakukan aksi kemanusiaan ini karena itu dalam dalam undang-undang dasar dan Pancasila. Memang saya bisa memahami suasana kebatinan nelayan kita, kalau mereka menjemput Rohingya itu akan kena delik, tapi kalau memang tindakan itu bedasarkan kemanusiaan dan tidak ada unsur lainnya, saya fikir tidak perlu khawatir dituduh melakukan penyeludupa manusia,” ujar politisi PKS itu

Menurut Nasir ada beberapa dugaan sehingga etnis Rohingya ini terkatung di laut Aceh, bisa saja karena ada upaya penyeludupan manusia atau mereka lari dari negaranya karena adanya upaya pembersihan etnis atau genosida yang dilakukan di negaranya sebagaimana disampaikan PBB.

Ia mengaku telah melakukan komunikasi dengan berbagai pihak sehingga persoalan tersebut cepat tertangani.

“Saya mencoba mengkomunikasikan ini dengan berbagai pihak semoga mereka mengambil tindakan cepat jangan sampai kemudian ada hal-hal yang membahayakan etnis Rohingya yang berada di atas kapal tersebut, mudah-mudahan hari ini mereka bisa didaratkan sehingga kita bisa mengetahui apa tujuan dan maksud mereka sehingga bisa terdampar diperairan Aceh,” tambah Nasir.

Sementara itu Panglima Laot Bireun Badrudin Yunus (Abu Laot) mendesak Pemerintah Aceh dan Kabupaten Bireun untuk segera mengambil sikap terkait keberadaan 120 pengungsi etnis Rohingya di perairan Aceh. Pasalnya terdapat 51 orang anak-anak dalam rombongan tersebut yang membutuhkan bantuan kemanusiaan.

Abu Laot mengatakan informasi yang diperolehnya kapal tersebut mengalami kerusakan mesin sehingga mereka berlayar seadanya. Awalnya kata dia, kapal tersebut ditemukan nelayan Bireun 67 mil terapung di laut Aceh.

“Nelayan kita berusaha membantu memasok bantuan makanan alakadar, selanjutnya kita memohon pemerintah untuk cepat mengambil sikap. Kita sangat sedih karena ada anak-anak disana dan juga kaum perempuan,” ujarnya.

Abu Laot mememinta Pemerintah untuk segera mengambil apakah memang diberikan atau tidak diberikan izin merapat ke Aceh. Jika memang tidak pihaknya berharap segera diberikan bantuan pasokan makanan sebagai wujud rasa kemanusiaan.

“Karena kalau nelayan kita takut juga mengambil sikap membantu mereka merapat ke Bireun, melihat kejadian sebelumnya. Maka saya meminta pemerintah Aceh dan kabupaten untuk mengambil sikap terkait Rohingya di perairan Bireun,” ujarnya.

Sementara itu Bupati Bireun Muzakar Agani mengakui telah berkoordinasi dengan Mabes Polri melalui Kapolres Bireun terkait keberadaan etnis Rohingya. Pasalnya kata Muzakar, dari hasil komunikasi pihaknya dengan pihak Rohingya diketahui tujuan utama mereka ke Malaysia, bukan ke Aceh. Muzakar mengatakan posisi kapal Rohingya tersebut jauh diatas perairan Bireun bahkan tepatnya di perbatasan Bireun dan Pidie Jaya.

“Mereka ini kabarnya mau menuju Malaysia, namun kehabisan BBM sehingga terkatung-katung di laut. Jadi tujuannya memang bukan ke Aceh. Tapi kalau memang butuh bantuan BBM hari ini akan kita salurkan, sehingga mereka bisa melanjutkan perjalanan,” ujarnya.

Muzakar mengatakan bukan pihaknya tidak melakukan pertolongan untuk mendaratkan di Aceh, akan tetapi melihat pengalaman sebelumnya setelah di tolong ke Aceh mereka juga berangsur-angsur melarikan diri ke Malaysia sebagai negara tujuan utamanya.

 “Karena mereka memang tujuannya ke Malaysia bukan ke tempat kita. Karena ini pengalaman sebelumnya mereka mendarat di Bireun, setelah kita bantu ke darat, ternyata mereka lari ke Malaysia dari penampungan di tempat kita, jadi bukan kita tidak peduli kemanusiaan, tapi memang tujuannya ke Malaysia,” ujar Muzakar.