Awal 2021, Aceh Dikepung Banjir

Frekuensi bencana banjir menjadi bencana yang paling banyak terjadi dibandingkan bencana lainnya yang terjadi di Provinsi Aceh diawal Tahun 2021.

Dari seluruh kejadian bencana yang berjumlah 79 kali kejadian, banjir mendominasi sebanyak 29 kali kejadian, kemudian longsor sebanyak 15 kali, Banjir Bandang dan Banjir Longsor masing-masing 2 kali kejadian.

Banjir paling banyak terjadi di Aceh Timur yakni sebanyak 6 kali kejadian tersebar di 69 desa pada 22 kecamatan yang merendam 504 rumah dan berdampak pada 1.978 KK/7.348 jiwa dengan total pengungsi 785 pengungsi serta prediksi kerugian sebesar 2,9 miliar.

Banjir juga terjadi di Aceh Tamiang sebanyak 5 kali kejadian tersebar di 64 desa pada 19 kecamatan yang merendam 63 rumah dan berdampak pada 7.763 KK/28.100 jiwa dengan total pengungsi 5.715 orang.

Bencana kedua paling banyak yaitu kebakaran pemukiman yakni sebanyak 21 kali kejadian menghanguskan 19 unit rumah dan 10 ruko (warung) serta mengakibatkan 27 orang pengungsi.
Angin Puting beliung bencana ketiga paling banyak terjadi yakni sebanyak 6 kali kejadian merusak 14 rumah, 1 ruko dengan total prediksi kerugian sebesar 1,2 miliar.

Disusul oleh Abrasi dan Kebakaran Hutan dan Lahan masing-masing 2 kali kejadian. Abrasi terjadi di Kabupaten Aceh Tamiang dan Kota Langsa merusak 4 rumah dan 1 ruko dengan total kerugian 680 juta.

Wilayah yang paling banyak mengalami kejadian bencana pada bulan Januari tahun 2021 ini adalah Kabupaten Aceh Timur sebanyak 8 kali kejadian yang didominasi oleh banjir sebanyak 5 kali kejadian dan longsor 3 kali kejadian.

Selanjutnya diikuti oleh Kabupaten Aceh Besar sebanyak 5 kali kejadian yang terdiri dari banjir dan kebakaran.

Dampak yang ditimbulkan akibat bencana di Aceh bulan Januari tahun 2021 antara lain banyaknya masyarakat yang terdampak bencana sebanyak 15.991 KK/, 58.847 Jiwa, pengungsi sebanyak 6.703 Jiwa dengan total Kerugian secara Keseluruhan yang disebabkan oleh semua Bencana di bulan Januari sebesar 15,7 Miliar.

Selain itu pada pertengahan bulan Januari lalu kita dikejutkan dengan temuan tanah bergerak di Desa Lamkleng, Kecamatan Cot Glie, Kabupaten Aceh Besar, (14/1/2021).

Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, didampingi Kalak BPBA, Ilyas telah memantau lokasi pergerakan tanah tersebut serta telah menyerahkan bantuan kepada korban terdampak yang berjumlah 18 kk/71 jiwa dari 14 rumah, Rabu (27/1)

Pergeseran tanah aktif terus terjadi setiap hari. Berdasarkan hasil pantauan pihak BPBD Aceh Besar, saat diukur pertama kali pada hari Senin (11/1)kedalamnya sekira 40 cm kemudian diukur kembali keesokan harinya, menjadi 70 cm dan terakhir diukur pada hari Rabu, kedalamannya sekira 110 cm dan informasi terakhir menyebut kini kedalamannya mencapai 4.40 meter.

“warga semakin cemas karena belum berakhirnya fenomena geologis tanah bergerak ini yang telah membentuk rekahan dan retakan,” Ungkap Ilyas, Kalak BPBA yang akrap disapa Abi.

Beliau menambahkan penyebab terjadinya pergeseran tanah belum disimpulkan oleh tim baik dari BMKG Mata Ie maupun Tim Prodi Teknik Geologi USK Banda Aceh.

“Saat ini Tim Teknik Geologi USK Banda Aceh masih terus melakukan penelitian untuk mencari tahu penyebab utama mengapa tanah di Gampong Lamkleng itu terus longsor setiap hari,” tambah Abi.