Pandemi Covid-19 di Tengah Resesi Ekonomi : Tantangan Baru Untuk Bangsa

Covid-19 adalah penyakit yang baru saja di temukan pada akhir Desember 2019. Wabah virus ini menyebar sangat cepat hingga tidak ada satupun Negara yang dapat memastikan terhindar dari wabah covid-19.

Pada Minggu pertanggal (10/05/2020) pemerintah Indonesia mengumumkan jumlah pasien yang terjangkit positif corona ialah 14.032 kasus, ada tambahan 387 orang yang positif per hari. Sedangkan yang berhasil disembuhkan bertambah 91 orang sehingga total yang telah sembuh yaitu sekitar 2.698 jiwa, dan yang meninggal tercatat sebanyak 973 jiwa.

Kasus saat ini semakin bertambah jumlahnya dari 2 hari yang telah lalu yaitu sekitar 12.776 jiwa positif covid-19. Hal inilah yang membuat sebagian masyarakat di Indonesia sangat khawatir terhadap covid-19 dan memilih untuk dirumah saja,namun pada tempat lain juga masih banyak masyarakat yang ngeyel dan masih mengacuhkan himbauan pemerintah dan memilih untuk tetap berada ditengah-tengah keramaian. Justru ini yang membuat virus tersebut sangat cepat menyebar luas kepada siapapun.

Wabah Covid 19 tidak hanya menyebabkan korban yang begitu banyak, namun juga memberikan dampak lainnya yang begitu luas. Terutama pada perekonomian global seluruh negara di dunia. Wabah Covid 19 menghantam seluruh sektor yang ada, mulai dampak level tinggi maupun dampak level rendah. Pemerintah Negara-negara Dunia sudah mengeluarkan paket-paket kebijakan ekonomi yang masif untuk mengatasi hal ini diantaranya penurunan suku bunga, pencetakan uang besar-besaran (quantitative easing), relaksasi kebijakan kredit, dan sebagainya. Namun karena penyebab utamanya masih belum selesai, oleh karenanya solusi-solusi diatas bisa bersifat sementara di sektor pariwisata misalnya, apabila wabah ini berlangsung lama, maka tidak bisa dipungkiri nantinya kita akan melihat banyak bisnis terkait sektor pariwisata akan gulung tikar.

Namun ada situasi asam manis yang dirasakan sektor saham, mulai dari investor yang telat melepas saham-saham nya ketika awal gejolak Indek Harga Saham Gabungan (IHSG) mulai turun, sampai IHSG terjun bebas menyentuh harga terendah dalam kurun waktu 5 tahun terakhir (belajarsaham.com,2020). Akan tetapi hal ini justru merupakan kabar mengembirakan bagi investor-investor yang ingin membeli saham perusahaan yang bagus dengan harga yang murah.

Mengutip dari salah satu berita online menyebutkan bahwa saat pasar modal bergerak volatil, jumlah investor di pasar saham Indonesia berdasarkan single investor identification (SID) bertambah 55.932 akun sepanjang kuartal I/2020. Direktur Pengembangan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Hasan Fawzi mengungkapkan total single investor identification (SID) saham mencapai 1.160.542 per akhir Maret 2020. Jumlah itu meningkat 55.932 atau 4,82 persen dibandingkan dengan posisi awal 2020. Hasan mengungkapkan penambahan SID saham terbesar terjadi pada Maret 2020. Tercatat, jumlah SID saham bertambah sebanyak 27.783 investor pada periode tersebut. Secara SID total, dia mengungkapkan terjadi peningkatan sebanyak 194.685 investor atau 7,84 persen dari sejak awal 2020. Dengan demikian, SID total saham, reksa dana, dan obligasi sebanyak 2.679.039 per akhir Maret 2020. (Bisnis.com, 2020).

Persepsi publik terhadap penurunan harga saham yang terjadi saat ini adalah kesempatan langka untuk mendapatkan perusahaan bagus dengan harga diskon. Direktur CSA Institute Aria Santoso mengatakan persepsi publik terhadap penurunan harga saham yang terjadi saat ini adalah kesempatan langka untuk mendapatkan perusahaan bagus dengan harga diskon. Akibatnya, banyak yang biasanya skeptis dan takut dengan risiko fluktuasi mulai membuka rekening untuk mendapat peluang keuntungan di pasar modal.

Selama penyebaran COVID-19, Direktur Pengembangan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Hasan Fawzi menjelaskan bahwa kenaikan jumlah investor itu berkat sejumlah langkah yang ditempuh BEI bersama dengan para anggota bursa (AB) dan Manajer Investasi tetap secara intensif melakukan sosialisasi Salah satunya dengan memberikan sosialisasi dan edukasi yang dijalankan oleh BEI kepada masyarakat awam melalui sejumlah saluran komunikasi digunakan mulai dari media massa hingga media sosial. Selain itu, lanjut dia, tren penurunan harga saham-saham unggulan di bursa Indonesia cukup menarik minat. Artinya, hal itu dinilai sebagai peluang investasi oleh para investor baru yang kemudian membuka rekening efek atau SID di pasar modal Indonesia.

Berikut data beberapa harga saham Blue Chip ( Saham Unggulan) yang menyentuh titik terendah :
BCA Rp2.800/lot – Bank BRI Rp279.000/lot – PT HM SAMPOERNA TBK Rp166.000/lot – TELKOM INDONESIA RP312.000/lot – UNILEVER RP725.000/lot – ASTRA INTERNATIONAL RP409.000/lot – MANDIRI RP467.000/lot – BNI RP 399.000/lot – INDOFOOD CBP RP1.010.000/lot
(harga Saham Blue chip kamis 09 april 2020. ada yang dibulatkan) ( RTI BUSINESS, 2020 )

“Harga saham yang turun adalah peluang emas dimana seseorang bisa membeli perusahaan bagus dengan harga yang murah” begitu ucap Lo Keng Khong, The warren Buffet of Indonesia. Sehingga muncullah budaya membeli saham pada saat kondisi yang seperti ini, dan berlomba-lomba untuk menjawab pada akhirnya “siapakah orang kaya baru yang muncul pasca krisis”.

Pada krisis 2008, IHSG turun -50% lebih. Tahun 2009, IHSG sudah rebound atau bangkit kembali lebih dari 80%. Kenaikan tersebut terus berlanjut sampai dengan lebih dari30% di tahun 2010. Apabila kita menginvestasikan uang pada IHSG mencapai bottom, maka kita akan mendapatkan return +100% hanya dalam 2 tahun. Bahkan kalau teman-teman beli tidak saat di titik terbawah pun, kita akan mendapatkkan return lebih dari 100% dalam 2 tahun. Bisnis apa yang bisa menghasilkan return sebesar itu? Itu kenapa muncul orang kaya baru saat krisis berakhir.

Mereka yang gagal menangkap peluang krisis seperti ini adalah :

  1. Latah untuk aal in saat melihat IHSG baru turun range 5-10%
  2. Buru-buru cut loss atau menjual ketika IHSG turun, masuk lagi, cut loss lagi
  3. Tidak fokus pada saham Blue Chip dan justru membeli saham gorengan ( saham dengan fluktuasi yang tidak dapat di tebak)

Kenapa Harus Blue chip, seperti BBRI,TLKM, ICBP, disaat krisis?

  1. Secara fundamental, merekalah yang akan mampu bertahan ditengah perlambatan ekonomi yang akan mempengaruhi omzet pada tahun krisis tersebut
  2. Pada saat IHSG sudah sangatlah murah dan Rebound,merekalah yang akan menjadi penggerak IHSG keatas lagi, bukan saham gorengan.

Akan tetapi yang perlu menjadi catatan adalah masuk/beli nya bertahap,mengingat persebaran corona baru dimulai di Indonesia dan dampak virus ini secara global akan terasa di Q2- Q4. Ada baiknnya untuk tidak all in dalam 1-2bulan ini.akan sangat mudah tertabak IHSG pasti akan lebih terpengaruh oleh “sentimen” dalam beberapa waktu kedepan, dengan terus memantau informasi tentang corona, ekonomi Negara maju dan tetap melakukan strategi 1/5+2/5+2/5.

Akan tetapi hal ini biasanya tidak berlaku pada saham dengan jenis komoditas yang volatilitasnya tinggi disaat krisis,seperti harga minyak yang anjlok lebih dari 30%. Akan tetapi apabila IHSG sudah terkoreksi lebih dari 40%, sebagai catatan bapak Lo Keng Khong, The warren Buffet of Indonesia pernah untung ribuan persen saat membeli saham UNTR ( United Tractors) pada krisis 1998 dan hold lebih dari 1 tahun, dan juga kisah-kisah inspriratif dari orang-orang yang berhasil mengambil peluang ditengah sebuah krisis. (www.fiansial.com) Ingat kunci sukses ditengah krisis: Disiplin dan sabar. Siap jadi orang kaya baru setelah sebuah krisis melanda?

Penulis : M. Ridha Muridillah (Trader, Mahasiswa UIN Ar-Raniry)