Tanpa Puasa Manusia “Pincang”

Belajar dan merenungi hikmah puasa, bagi saya, bagai candu. Dari hari ke hari, ada saja hal baru yang menuntut eksplorasi pemahaman. Bukan karena ragu. Tapi justru karena takjub. Hikmah puasa seperti mata air yang tak kering-kering.

Puasa Ramadhan adalah ibadah yang mekanismenya telah diatur dengan rinci, seperti tergambarkan dalam Q.S 2:183-188. Urutan ayat-ayat ini mendeskripsikan tentang dasar kewajiban puasa, analogi, waktu, keringanan atau dispensasi, hikmah, tujuan dan lain-lain.

Ayat pertama (Q.S 2:183) memuat call for puasa. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. Panggilan ini khusus untuk mukmin, seberat apapun kadar keimanannya.

Bila direnungkan, satu ayat itu saja sudah mengandung begitu banyak makna. Bagi yang tak menguasai bahasa Arab dan ilmu tafsir, seperti saya, renungan tentu saja didasarkan pada tafsir atau sumber bacaan lainnya.

Kebutuhan puasa
Salah satu yang patut direnungi adalah pemaknaan menurut M. Quraish Shihab dalam magnum opus-nya, Tafsir Almishbah. Beliau menyebutkan, lewat ayat tersebut Allah mengundang setiap mukmin untuk melaksanakan kewajiban puasa. Diwajibkan atas kamu. Uniknya, redaksi ini tidak menunjuk siapa pelaku yang mewajibkan. Menurut Quraish Shihab, hal ini mengisyaratkan bahwa apa yang akan diwajibkan tersebut sedemikian penting dan bermanfaat bagi setiap orang bahkan kelompok. Sehingga, seandainya bukan Allah yang mewajibkannya, manusia sendiri yang akan mewajibkan atas dirinya sendiri, setelah tahu betapa besar manfaatnya.

Sebuah indikasi bahwa hikmah dan manfaat puasa itu sungguh amat besar.

Tafsiran tersebut mengingatkan kita pada beberapa praktik puasa komunitas selain Islam. Yang dilakukan generasi manusia terdahulu dan yang hidup pada zaman sekarang. Baik puasa karena perintah agama mereka, maupun karena anjuran sains. Walau praktiknya bervariasi, puasa umumnya berkisar pada pembatasan konsumsi makan-minum untuk waktu tertentu.

Sebelum turunnya agama samawi, orang-orang Mesir kuno telah mengenal puasa –dengan praktik dan waktu tertentu. Dari mereka, praktik tersebut lalu turun kepada orang-orang Yunani dan Romawi. Puasa juga ada dalam ajaran Budha, agama Kristen, dan Yahudi.

Karena itu, tak heran bila para filsuf dulu juga menjadikan puasa sebagai keseharian. Beberapa nama besar seperti Phytagoras, Plato, Aristoteles, dan lainnya, merupakan pelaku puasa.

Mengapa para filsuf ini berpuasa? Pernyataan Plato (428-248 SM) berikut ini mungkin dapat memberikan jawaban: I fast for greater physical and mental efficiency (saya berpuasa untuk efisiensi fisik dan mental yang lebih baik). Mereka melakukannya karena tahu betapa besar manfaatnya.

Di era modern sekarang pun, dunia Barat melirik kembali praktik puasa. Sejak beberapa waktu lalu, praktik intermittent fasting sangat popular. Orang berpantang makan selama 12, 16 atau 24 jam untuk waktu tertentu.

Mengapa masyarakat Barat berpuasa? Kemajuan sains telah membuktikan manfaat puasa untuk tubuh manusia. Secara medis misalnya, puasa bisa menjadi terapi berbagai penyakit seperti hipertensi, penyempitan pembuluh nadi, penyakit lemah jantung dan diabetes. Puasa juga dapat memperbaiki sistem pencernaan, detoksifikasi, dan meningkatkan imunitas tubuh. Belakangan, telah dibuktikan juga bahwa puasa baik untuk kesehatan otak dan memperkuat daya kognitif, seperti peningkatan kesadaran, memori, mood, dan konsentrasi.

Masyarakat Barat melakukannya juga karena tahu betapa besar manfaat puasa. Persis seperti yang disinyalir Quraish Shihab.

Kita meyakini bahwa hikmah puasa Ramadhan tentu melebihi praktik puasa lainnya. Hanya puasa mukmin yang transendental dan menawarkan manfaat duniawi sekaligus ukhrawi. Spektrum manfaat puasa Ramadhan pun berpendar dari individu –yang meliputi tubuh, pikiran, emosi, dan jiwa– ke ranah sosial –komunitas, masyarakat, dan lain-lain.

Sedangkan puasa lainnya hanya terbatas pada manfaat duniawi dan individu-sentris. Pun demikian, telah memberikan manfaat besar kepada pelakunya sejak dulu hingga sekarang.

Karena itu, saya meyakini bahwa puasa adalah kebutuhan intrinsik manusia. Aspek lahir/biologis, emosi, dan pikiran manusia butuh puasa. Demikian pula aspek spiritual dan batin manusia, juga membutuhkan puasa. Tanpa puasa manusia akan “pincang”.

Dengan keyakinan di atas, saya menafsirkan bahwa perintah puasa Ramadhan, sebetulnya, merupakan siraman kasih sayang paling deras dari Tuhan kepada mereka yang beriman. Siraman untuk membasahi dimensi ragawi dan rohani manusia yang kerap “kering”.

Siraman tersebut lalu menjadi nafas untuk menempuh perjalanan hidup –melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan-Nya. Perjalanan yang meninggi, di puncaknya bertahta derajat takwa. Puasa demi puasa –yang diperintahkan– adalah tempat pemberhentian, untuk menampung kembali siraman kasih sayang-Nya. Dengan siraman itu, lalu kita melanjutkan perjalanan hingga menggapai puncak: ketakwaan. Wallahu a’lam bishawab.

http://khairulmunadi.idmunadi@unsyiah.ac.id