BKKBN Fokus Peningkatan Akses dan Mutu Pelayanan Kesehatan Ibu Anak, KB dan Kesehatan Reproduksi

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) memberikan dukungan pada dua agenda pembangunan/Prioritas Nasional yaitu Meningkatkan SDM Berkualitas dan Berdaya Saing serta Revolusi Mental dan Pembinaan Ideologi Pancasila untuk Memperkukuh Ketahanan Budaya Bangsa dan Membentuk Mentalitas Bangsa yang Maju, Modern dan Berkarakter.

Hal demikian disampaikan Sekretaris Utama BKKBN H. Nofrijal, saat membuka Rapat Kerja Nasional dan Rakornis Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana (BANGGAKENCANA) Tahun 2020, Selasa (11/02) di Auditorium Kantor BKKBN Pusat, Jakarta Timur.

Nofrijal menjelaskan, dalam prioritas nasional meningkatkan sumber daya manusia berkualitas dan berdaya saing, BKKBN memiliki peran untuk Pengendalian penduduk dan penguatan tata kelola kependudukan, dengan penekanan pada penguatan koordinasi, kolaborasi, dan sinkronisasi antar-kementerian/lembaga, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten dan kota, serta pemangku kepentingan dalam pengendalian penduduk dan tata kelola kependudukan.

“BKKBN masuk pada kegiatan prioritas pemaduan dan sinkronisasi kebijakan pengendalian penduduk,” ujarnya.

Selanjutnya kata dia, Peningkatan akses dan mutu pelayanan kesehatan, dengan penekanan pada penguatan pelayanan kesehatan dasar (Primary Health Care) dan peningkatan upaya promotif dan preventif didukung oleh inovasi dan pemanfaatan teknologi. Kemudian BKKBN masuk di dalam kegiatan prioritas Peningkatan Kesehatan Ibu Anak, KB dan Kesehatan Reproduksi.

Sementara itu dalam prioritas nasional Revolusi Mental dan Pembinaan Ideologi Pancasila, dengan penekanan pada upaya untuk memperkukuh ketahanan budaya bangsa untuk membentuk mentalitas bangsa yang maju, modern, dan berkarakter, BKKBN masuk dalam kegiatan proritas revolusi mental dalam sistem sosial yang fokus pada penguatan ketahanan keluarga.

Nofrijal menambahkan, pencapaian kinerja BKKBN Tahun 2019 yaitu (1) angka total fertilitas 2,45 dari target 2,28; 2) penggunaan kontrasepsi modern 54,97 persen dari target 61,3 persen; 3) kebutuhan KB yang tidak terpenuhi (unmet need) 12,1 persen dari target 9,9 persen; 4) tingkat putus pakai kontrasepsi 29 persen dari target 24,6 persen; 5) Peningkatan pengguna KB MKJP 24.6 persen dari target 23.5 persen serta 6) ASFR 33 dari target 38 per 1000 perempuan usia 15-19 tahun.