Listrik Tidak Normal, 308 Sekolah Tidak Ikut Ujian Berbasis Komputer

Suasana UN di Banda Aceh/Salman iqbal

Belum semua siswa peserta Ujian Nasional (UN) tingkat SMA di provinsi Aceh mengikuti Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) pada tahun ini.

Dari jumlah peserta Ujian Nasional sebanyak 55.786 siswa pada 705 sekolah peserta Ujian Nasional, masih terdapat sebanyak 18.900 siswa pada 308 sekolah yang mengikuti ujian nasional berbasis kertas dan pensil (UNKP).

Hal demikian diungkapkan Kepala Dinas Pendidikan Aceh Laisani disela-sela memantau ujian nasional di SMA Negeri 3 Banda Aceh, Senin (10/04) bersama gubernur Aceh Zaini Abdullah.

Ia menyebutkan jumah peserta Ujian Nasional Berbasis Komputer sebanyak 36.886 siswa di 397 sekolah. Menurut Laisani ada tiga faktor sehingga masih banyak siswa harus mengikuti UNKP,  misalnya persoalan listrik yang tidak stabil di provinsi Aceh dalam beberapa pekan terakhir, selanjutnya koneksi jaringan internet yang belum merata serta kesiapan dari internal sekolah itu sendiri untuk ikut UNBK.

“Ada beberapa faktor sehingga masih ada sekolah yang tetap menggunakan kertas dan pensil, misalnya ketersediaan litrik dan sinyal telkomsel serta kesiapan sekolah terhadap anak-anak menggunakan komputer ini,”ujarnya.

Namun demikian diakui Laisani, pemerintah Aceh melalui Dinas Pendidikan Aceh menargetkan pada tahun 2018 nanti seluruh sekolah di Aceh telah menerapkan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK).

Selain itu diakuinya, pada tahun 2017 ini pelaksanaan ujian SMK juga dipercepat sepekan, sehingga komputer bisa digunakan saat Ujian di SMA. Selain itu siswa juga mengikuti ujian secara bergantian.

Sementara terkait dengan ketersediaan listrik, diakui Laisani, pihaknya sudah melakukan komunikasi dengan pihak PLN wilayah Aceh agar listrik bia normal selama pelaksanaan UN.

Ditempat yang sama, Ketua Koalisi Guru Bersatu Sayuthi Aulia mengatakan, seharusnya semua sekolah sudah menerapkan Ujian Nasional berbasis Komputer (UNBK), sehingga pelaksanaannya lebih berintegritas.

Meskipun diakuinya di kota Banda Aceh sendiri sebagai ibu kota provinsi juga masih ada ujian nasional yang menggunakan kertas dan pensil. “Apa sebab di Banda Aceh masih ada UNKP?kalau di Cubo Pidie bisa kami pahami,”ujarnya.

Pada kesempatan itu ia juga meminta agar direktur PLN Aceh diberikan sanksi tegas jika selama pelaksanaan Ujian nasional, listrik di provinsi Aceh tidak normal. “Kalau hari ini mereka tau ada UN tapi lampu mati maka ini kesalahan PLN, maka kami berharap agar direktur PLN diberikan sanksi,”ujarnya lagi.