Sektor Utama Penopang Ekonomi Aceh Tidak Mendapat Perhatian Pemerintah

Pertumbuhan ekonomi Aceh yang paling besar ditopang oleh sektor pertanian dan sektor perdagangan. Namun kedua sektor ini justru tidak menjadi fokus perhatian dari pemerintah daerah.

Hal itulah yang menyebabkan perekonomian Aceh tidak tumbuh signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Hal demikian disampaikan Pengamat Ekonomi Unsyiah Banda Aceh, Rustam Effendi, pada kegiatan Outlook Aceh 2017 Pendidikan, dunia usaha, pertumbuhan ekonomi da politik budaya Aceh di Banda Aceh, Rabu (28/12).

Rustam mengatakan lebih dari 70 persen penduduk Aceh menggantungkan hidupnya dari sektor pertanian. Namun yang terjadi pertumbuhan ekonomi di sektor ini hanya 3 persen pertahun. “Administrasi pemerintahan justru tumbuh cukup tinggi, ini komposisi yang menyusahkan,”ujarnya.

Ia menambahkan Pertumbuhan ekonomi Aceh tidak pernah melebihi angka 5 persen, bahkan selalu berada dibawah rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional. “Pertumbuhan ekonomi Aceh paling buruk di Sumatera,”ujarnya lagi.

Belum lagi kata Rustam, angka pengangguran yang terus bertambah, kemiskinan yang masih cukup tinggi, bahkan jauh diatas rata-rata nasional, serta kesempatan bekerja yang semakin sempit.

“Jadi dimana salahnya?, ini harus ada perbaikan strategi pembangunan baik di tingkat provvinsi maupun ditingkat dua,”lanjutnya.

Sementara itu ketua Kadin Aceh Firmandez mengatakan, provinsi Aceh menerima dana Otsus 7-8 triliun setiap tahunnya, namun dunia usaha di Aceh justru tidak hidup, pertumbuhan dunia usaha justru semakin berkurang dan tidak tumbuh dalam 10 tahun terakhir.

“Dulu waktu masa pak Ibrahim Hasan dengan dana yang sedikit tapi sangat efisien, sehingga dunia usaha tumbuh pada berbagai sektor,”lanjutnya.