Konser Pianis Erlinda Sofyan : Mendengungkan Ajakan Merawat Perdamaian Aceh Melalui Konser

Berbagai kelompok masyarakat yang mendambakan keberlangsungan perdamaian di Aceh punya berbagai cara untuk menunjukkan keinginannya. Konser ‘Denting Damai’adalah salah satu bentuk untuk menampakkan keinginan itu.

Menyuarakan perdamaian Aceh melalui musik adalah tekad komponis wanita Aceh, Erlinda Sofyan. Ada sebelas komposisi ciptaannya yang kali ini semuanya berbicara tentang perdamaian Aceh, sembilan diantaranya berbentuk musik instrumental. Selain itu, untuk lebih memperjelas pesan-pesan dalam konser ini, Erlinda pun mencipta dua lagu untuk vokal, yang satu berirama seriosa dan satu lagi berirama folk.

Konser ini akan berlangsung selama 90 menit dan melibatkan 45 penampil lainnya. Selain menampilkan karyanya sendiri, komponis yang sekaligus pianis ini juga mengundang penampilan bintang tamu Rapai Tuha dari Lamreung, Aceh Besar dan kelompok paduan suara New Laras Cita dari Banda Aceh.

Ini adalah konser kedua setelah konser pertama yang berjudul ‘Sultan Iskandar Muda’ yang berlangsung tahun lalu di Yogyakarta. Seperti konser sebelumnya, konser ‘Denting Damai’ ini juga terwujud atas dukungan Hibah Cipta Perempuan Kelola.

“Saya ingin menampilkan komposisi musik ciptaan saya setidaknya satu kali dalam setahun,” ujar Erlinda Sofyan, komponis dan pianis yang mengajar di Sekolah Musik Moritza, Banda Aceh dan di ISBI Aceh, Jantho,“Berbeda dengan konser pertama di Yogyakarta pada Oktober 2014 lalu yang seluruh komposisinya saya tulis untuk orkestra penuh, kali ini untuk konser di Banda Aceh, komposisi yang saya buat lebih variatif,”ujarnya.

Masyarakat bisa menunjukkan dukungannya untuk mendorong menjaga perdamaian Aceh dengan menghadiri langsung konser ini. Konser ini akan digelar pada 28 November 2015, jam 20.15 WIB di Auditorium RRI Banda Aceh, Jalan Sultan Iskandar Muda No. 13, Banda Aceh. Untuk menonton konser ini tidak dipungut bayaran.

Tentang Erlinda Sofyan

Erlinda Sofyan, lahir di Nagan Raya, 11 Agustus 1985. Belajar piano di Sekolah Musik Moritza semasa kuliah di FKIP Sendratasik Unsyiah. Demi mengejar cita-cita sebagai komponis, ia melanjutkan pendidikan dan menyelesaikan pasca sarjana di ISI Yogyakarta jurusan penciptaan musik, 2012. Slamet Abdul Sjukur menjadi penguji untuk tugas akhir yang dipilihnya, musik film. Sekarang Erlinda sedang meramu berbagai kesenian Aceh sebagai bahan komposisi untuk pementasan pada pertengahan 2016 nanti.

Tentang Yayasan Kelola

Didirikan pada tahun 1999, Kelola merupakan sebuah organisasi nirlaba yang merespon kebutuhan komunitas seni pertunjukan dan seni visual melalui  pemberian akses pembelajaran, informasi, dan pendanaan. Kelola juga mewujudkan pertukaran budaya dengan menjalin dialog antar pelaku seni, berbagi ketrampilan serta pengetahuan, dan membangun jejaring kerja antara seniman, penonton, dan masyarakat pendukungnya di Indonesia, Asia dan dunia internasional. Program-program Kelola disusun sebagai tanggapan terhadap berbagai kebutuhan dan permasalahan yang diungkapkan oleh masyarakat seni visual, tari, musik dan teater Indonesia.

Hingga kini, Kelola telah membuka kesempatan belajar bagi > 3,500 seniman dan praktisi seni di seluruh Indonesia lewat program-program Kelola seperti lokakarya, Hibah Seni, Magang Nusantara, Magang Internasional, Pemberdayaan Seniman Perempuan, Hibah Cipta Perempuan dan Teater untuk Edukasi dan Pemberdayaan.

Berita Terkait

Berita Terkini

Google ads