Banda Aceh Gagal Raih Adipura Kencana

Anugerah adipura diserahkan oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup Prof. Dr. Balthasar Kambuaya, MBA dan diterima langsung oleh Wakil Walikota Banda Aceh, Hj. Illiza Sa’aduddin Djamal, SE

Anugerah adipura tahun 2013 merupakan pencapaian ke-enam kalinya bagi Kota Banda Aceh (1995, 1996, 2009, 2010, 2012 dan 2013).

Selama beberapa tahun terakhir, kota Banda Aceh merupakan satu-satunya kota dari 23 kabupaten/kota di propinsi Aceh yang berhasil meraih anugerah Adipura.
Anugerah adipura diserahkan oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup Prof.  Dr. Balthasar Kambuaya, MBA dan diterima langsung oleh Wakil Walikota Banda Aceh, Hj. Illiza Sa’aduddin Djamal, SE di Hotel Bidakara Jakarta.

Wakil Walikota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal,   mengatakan  anugerah adipura tahun ini seharusnya bisa menjadi momentum bagi pemerintah dan warga kota banda aceh, untuk terus berbenah dan memperbaiki berbagai kekurangan yang ada untuk mewujudkan banda aceh sebagai sustainable city untuk meraih Adipura Kencana.

Selanjutnya Illiza menghimbau kepada seluruh warga Kota Banda Aceh untuk bersama-sama menjaga lingkungan, hal ini sejalan dengan visi pembangunan kota Banda Aceh yaitu Banda Aceh Model Kota Madani yang dicirikan oleh masyarakatnya yang taat dan patuh, dan sesuai dengan anjuran agama dan tuntunan Rasullullah Muhammad Saw, karena lingkungan merupakan tempat kita melakukan aktivitas dan ibadah.

Selain itu Kota Banda Aceh sudah berupaya sekuat tenaga untuk meraih penghargaan Adipura Kencana, namun masih belum berhasil mengingat tingginya standard penilaian untuk dapat diberikan penghargaan adipura kencana.

Banyak aspek yang masih perlu dibenahi oleh Kota Banda Aceh antara lain: perlu adanya pemanfaatan gas methan di TPA sebagai sumber energi, perlu penambahan luasan RTH (perlu adanya RTH di masing-masing desa), masihnya buruknya penataan Pedagang Kaki Lima, masih kurangnya partisipasi masyarakat dalam pengelolaan lingkungan (rendahnya partisipasi dalam mengeluarkan sampah tepat waktu dan menempatkan sampah dengan baik dalam kontainer), masih banyaknya aktivitas pemasangan iklan/spanduk/baliho  yang merusak pohon, penebangan liar pohon di depan rumah/ruko yang sangat bertentangan dengan program kota hijau (green city).