Walikota : Adat Istiadat, Benteng Dampak Negatif Globalisasi

Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal menyerahkan satu set peralatan dan perlengkapan adat peusijuek untuk masyarakat Gampong Ceurih, Ulee Kareng. Selain itu, Illiza juga menyerahkan kitab Riyadhus Shalihin jilid satu hingga enam kepada Tgk H Bukhari Umar selaku imum gampong setempat, Rabu (31/8/2016).

Turut hadir pada kesempatan itu, Ketua Majelis Adat Aceh (MAA) Banda Aceh Sanusi Husein, Camat Ulee Kareng Aulia R Dahlan, Keuchik Gampong Ceurih Irwan Abadi beserta sejumlah tokoh agama dan masyarakat Gampong Ceurih.

Dalam sambutannya, Illiza berpesan agar segenap unsur masyarakat untuk senantiasa menjaga dan melestarikan seni budaya dan adat istiadat Aceh. “Warisan endatu harus kita jaga karena kita orang Aceh. Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan melestarikan seni budaya dan adat istiadat kita.”lanjutnya.

Di era globalisasi, sambung Illiza, masuknya budaya asing yang bersifat merusak begitu masif dan tak terelakkan. “Kini semua terasa dekat, dan tanpa kita sadari budaya luar telah merusak hubungan kita sesama manusia maupun dengan Allah SWT.” Ujarnya.

“Belum lagi game online dan pornografi yang diakses anak-anak kita via internet. Ironisnya, malah kita sendiri yang melalaikan anak dengan gadget. Untuk itu, mari kita jaga budaya dan adat istiadat kita agar jangan sampai hilang, sebagai salah satu upaya untuk membentengi diri dari dampak negatif globalisasi,” pesan Illiza.

Ketua MAA Banda Aceh Sanusi Husen menambahkan, Gampong Ceurih merupakan desa ke-75 yang telah menerima bantuan peralatan dan perlengkapan adat peusijuek. “Kita sudah serahkan untuk 75 gampong dari total 90 gampong yang ada di Banda Aceh. 15 gampong lagi insyaallah akan kita serahkan pada tahun depan.”ujarnya.