Kahfi Souvenir: Menjahit Peluang dari Benang dan Ketekunan

Berangkat dari kecintaan pada rajutan, Tari mendirikan Kahfi Souvenir sebagai usaha yang menekankan kualitas dan proses. Di tengah maraknya produk massal Tari tetap mempertahankan cara produksi handmade untuk menghasilkan karya yang memiliki karakter dan nilai tersendiri.

Usaha ini dirintis sejak 2018, meski baru benar-benar fokus pada 2020. Ketertarikan Tari pada dunia rajut bukan datang tiba-tiba. Tari tumbuh dalam lingkungan keluarga yang akrab dengan aktivitas merajut. Sejak SMP Tari sudah mengenal dasar-dasar merajut melalui pelajaran di sekolah, meski saat itu belum digeluti secara serius. “Orang tua saya juga merajut, jadi sebenarnya dari kecil sudah lihat dan belajar, tapi baru benar-benar fokus setelah saya resign dari pekerjaan” ujar Tari.

Perjalanan Kahfi Souvenir sendiri tidak dimulai di Aceh, melainkan di Cirebon, Jawa Barat. Pembeli pertamanya adalah seorang guru sekolah dasar. Dari sanalah muncul keyakinan untuk menjadikan aktivitas merajut sebagai usaha yang lebih serius.

Keputusan untuk menekuni usaha ini menjadi titik balik dalam hidupnya, dari yang awalnya sekadar mencoba, kini Kahfi Souvenir berkembang menjadi brand dengan beragam produk, mulai dari tas rajut, dompet, gantungan kunci amigurumi, boneka rajut, hingga taplak meja. Tote bag dan tas kecil untuk ponsel menjadi produk yang paling diminati pasar.

Nama Kahfi Souvenir pun memiliki makna personal. “Kahfi” diambil dari nama anaknya, menjadikan usaha ini tidak hanya sebagai sumber penghasilan, tetapi juga bentuk dedikasi terhadap keluarga. Keunikan Kahfi Souvenir terletak pada motif dan warna. Tari mengusung gaya granny square—motif bunga timbul yang dipadukan dengan warna-warna cerah yang harmoni. Bagi sebagian orang, warna tersebut mungkin terkesan mencolok. Namun justru di situlah daya tariknya, terutama bagi generasi muda. “Sekarang anak Gen Z itu lebih suka warna yang berani, campur-campur. Kalau kita tidak mengikuti tren, produk kita tidak akan dilirik” katanya.

Mengikuti tren, bagi Tari, bukan sekadar pilihan, melainkan keharusan. Tari rutin mencari referensi dari perajut luar negeri dan berbagai platform digital untuk memahami perkembangan motif yang sedang populer. Dari situ, Tari mengembangkan desainnya sendiri agar tetap memiliki ciri khas. Dibalik setiap produk yang terlihat indah, ada proses panjang yang tidak sederhana. Dalam sehari, Tari bisa memproduksi hingga 50 gantungan kunci, atau lima hingga enam tas kecil jika fokus. Sementara untuk tote bag dengan motif kompleks, Tari hanya mampu menyelesaikan satu dalam sehari karena semua masih dikerjakan sendiri.

Saat pesanan datang dalam jumlah besar, seperti souvenir pernikahan, Tari melibatkan anggota keluarga yang juga memiliki keterampilan merajut untuk membantu proses produksi. Menurutnya, tantangan terbesar dalam menjalankan usaha ini terletak pada ketersediaan sumber daya manusia. “Mencari orang yang bisa merajut itu sangat sulit. Kalau untuk admin atau kurir masih bisa, tapi untuk produksi belum tentu” ujarnya.

Selain produksi, tantangan lain datang dari persaingan harga di marketplace. Produk handmade sering dianggap mahal, terutama oleh konsumen yang belum memahami nilai di baliknya. Tidak jarang, ia harus menghadapi tawaran harga yang jauh di bawah nilai produk. “Kalau mereka menawar terlalu rendah, ya kita tinggalkan saja. Bagi yang sudah paham pasti mengerti harga handmade itu seperti apa” kata Tari. Meski demikian, Tari tetap menjaga kepercayaan pelanggan dengan transparansi. Jika stok tidak tersedia, ia akan langsung menginformasikan kepada pelanggan, alih-alih membiarkan pesanan dibatalkan secara otomatis oleh sistem.

Langkah Tari juga semakin mantap setelah bergabung dengan BSI UMKM Center di Aceh. Melalui program ini, Tari mendapatkan berbagai pelatihan, mulai dari pengelolaan keuangan hingga pengembangan usaha. “Pelatihan dari BSI sangat membantu. Kita diajarkan bagaimana usaha ini bisa naik kelas,” ujarnya.

Dengan harga yang bervariasi, mulai dari Rp15.000 untuk gantungan kunci hingga Rp400.000 untuk tote bag, serta produk custom yang bisa mencapai Rp1 juta, Kahfi Souvenir terus berkembang menjangkau pasar yang lebih luas, termasuk luar negeri melalui fitur ekspor marketplace. Menariknya, meski telah berpindah ke Aceh, pelanggan lama Kahfi Souvenir tetap setia. Mereka bahkan masih mencari produknya, melakukan pemesanan melalui marketplace sekaligus dapat menghemat ongkos kirim.

Informasi Kahfi Souvenir dalam ditemukan di media sosial Instagram dengan nama @kahfi_souvenir. Perjalanan merintis Kahfi Souvenir masih panjang, Tari memilih jalan yang tidak mudah: merajut satu per satu, menjaga kualitas, dan tetap setia pada proses karena bmsetiap rajutan bukan sekadar produk melainkan cerita yang layak untuk dihargai.

Kredit Liputan: Nurul Ali

Berita Terkait

Berita Terkini

Google ads