Di Pelabuhan Balohan, deretan wisatawan turun dari kapal ferry yang baru saja berlayar dari Banda Aceh. Matahari pagi menembus laut biru yang jernih, udara terasa bersih, angin berhembus melambaikan pohon-pohon dari bukit di kejauhan dan senyum para pedagang lokal menyambut kedatangan pengunjung. Sabang kini menjadi simbol Aceh yang aman dan nyaman untuk wisata dan investasi.
Menurut data Dinas Pariwisata Kota Sabang hingga Agustus 2025 jumlah wisatawan mencapai 210.871 wisatawan nusantara dan 4.102 wisatawan mancanegara. Angka ini terus meningkat, dan pemerintah menargetkan kunjungan tahun ini menembus 300.000 orang.
Dari pantai hingga bukit, geliat ekonomi terasa. Boat-boat warna warni di Pantai Iboih penuh setiap akhir pekan. Homestay di kawasan Iboih hampir selalu terisi. Para pengemudi becak motor sibuk mengantar wisatawan dari satu objek ke objek lain. Sabang kembali hidup — bukan hanya karena keindahan alamnya, tapi juga karena rasa aman dan nyaman yang kini dirasakan pengunjung.
“Saya tak pernah melihat laut sejernih ini, ikan-ikan berwarna berenang begitu dekat!” ujar Nur Syaza, wisatawan asal Malaysia yang baru menikmati pemandangan bawah laut dengan peralatan snorkeling di Pulau Rubiah. Dengan mata berbinar, Syaza menceritakan pengalamannya snorkeling bersama ikan-ikan tropis yang berenang bebas di antara terumbu karang.
Bagi Syaza, Sabang bukan sekadar destinasi bahari, tetapi juga tempat untuk merasa damai. “Di sini orangnya ramah, makanannya sedap, dan suasananya tenang. Tak ada hiruk pikuk kota besar, tapi semuanya terasa nyaman dan sangat aman,” katanya sambil menikmati kelapa muda di tepi Pantai Iboih.
Cerita-cerita seperti inilah yang membuat Sabang semakin dikenal di kalangan wisatawan mancanegara — dari Malaysia, Singapura, hingga Eropa.
Berdasarkan data Dinas Pariwisata Kota Sabang destinasi utama yang paling sering dikunjungi diantaranya Pantai Iboih — surganya snorkeling dan diving, dengan panorama laut yang jernih dan arus yang tenang. Pulau Rubiah — taman laut dengan terumbu karang alami, rumah bagi lebih dari 90 jenis ikan hias tropis.
Pantai Gapang — tempat ideal untuk bersantai dengan pasir putih lembut. Pantai Anoi Itam — terkenal dengan pasir hitam vulkaniknya dan peninggalan bunker Jepang. Tugu Kilometer Nol Indonesia — monumen ikonik yang menandai ujung paling utara nusantara.
Menurut penelitian ITB pada 2025, sekitar 71,4% kunjungan wisata di Sabang berfokus pada wisata alam, sedangkan sisanya pada wisata budaya dan sejarah.
Wisata sejarah juga tumbuh: bunker peninggalan Jepang, Benteng Balee Meurah, dan kampung-kampung tua menjadi bagian dari daya tarik wisata budaya yang terus dilestarikan.
Kebangkitan sektor wisata turut menghidupkan UMKM lokal. Produk seperti Cokbang — cokelat khas Sabang dari kakao Aceh — kini menjadi oleh-oleh favorit wisatawan. Begitu juga dengan Ico Printing, handicraft yang makin berkembang. Dua usaha yang didukung oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh melalui bantuan peralatan produksi dan pemasaran.
“Dulu kami hanya dapat pesanan saat ada event besar,” ujar seorang pengrajin Ico Printing. “Sekarang hampir tiap minggu ada wisatawan yang datang dan membeli handicraft kami. Pariwisata benar-benar memberi napas baru bagi kami.”
Pemerintah Kota Sabang dan Pemerintah Aceh turut mendorong iklim investasi dengan berbagai program. Laporan resmi di acehprov.go.id menyebut Sabang sebagai daerah yang “potensial investasi pariwisata dan perikanan berbasis konservasi”, dengan tujuan menjadikan pariwisata sebagai pendorong ekonomi berkelanjutan.
Konektivitas menjadi kunci. Data Dinas Perhubungan Aceh menunjukkan pergerakan penumpang di Pelabuhan Ulee Lheue–Balohan mencapai 28.863 orang hanya dalam enam hari pada Januari 2025 — angka yang menandakan frekuensi perjalanan wisata yang tinggi.
Pemerintah terus meningkatkan kualitas fasilitas wisata: dari dermaga yang lebih representatif hingga fasilitas publik di kawasan pantai dan tugu KM 0. Keamanan pun menjadi perhatian serius — wisatawan kini bisa menikmati Sabang dengan rasa aman, baik siang maupun malam hari.
Sabang kini menjadi salah satu magnet investasi pariwisata di Aceh. Pemerintah membuka peluang bagi investor untuk mengembangkan resort ramah lingkungan, restoran tepi laut, serta fasilitas wisata bahari dengan prinsip keberlanjutan.
Dengan posisi geografis strategis — di jalur pelayaran internasional Selat Malaka — Sabang juga memiliki potensi besar dalam sektor logistik dan perikanan.
Dari cerita Nur Syaza yang berenang bersama ikan, hingga para pelaku UMKM seperti Cokbang dan Ico Printing yang tumbuh bersama arus wisata, Sabang adalah bukti nyata bahwa Aceh aman, nyaman, dan siap menyambut wisata dan investasi dengan tangan terbuka.
Kini, setiap kali matahari terbenam di ufuk barat Iboih, pantulan jingganya mengingatkan pada semangat baru Aceh. Pariwisata bukan lagi sekadar sektor ekonomi, tetapi jembatan yang menghubungkan Aceh dengan dunia — lewat keramahan, keamanan, dan keindahan alam yang tak tergantikan.


