Banjir Aceh Tenggara Berangsur Surut

Banjir yang merendam empat Kecamatan di Kabupaten Aceh Tenggara Tenggara, Sabtu (06/11/2021), berangsur surut.

Banjir tersebut terjadi dipicuoleh hujan intensitas tinggi sehingga debit air Sungai Kali Air naik dan meluap.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Aceh Tenggara melaporkan sebanyak 187 rumah warga terendam banjir. Rumah tersebut tersebar di delapan desa yaitu Desa Salim Pinim dan Desa Jambur Damar di Kecamatan Tanoh Alas, Desa Titimas, Desa Titi Harapan, Desa Alas Meshikat dan Desa Tuhi Jongkat di Kecamatan Babul Rahmah. Selanjutnya di Desa Lawe Kinga, Kecamatan Lawe Bulan, dan Desa Lawe Pasaran Terutung Medara di Kecamatan Lawe Sumur.

Tinggi mata air saat kejadian berkisar antara 10 sampai 50 sentimeter. BPBD setempat melaporkan tidak ada warga mengungsi akibat kejadian tersebut.

Merespon kejadian banjir, BPBD setempat langsung menerjunkan Tim Reaksi Cepat (TRC) untuk melakukan kaji cepat dan memberikan bantuan darurat logistik sebanyak 18 paket ke Desa Lawe Kinga dan Desa Lawe Pasaran.

Fenomena La Nina yang berpotensi terjadi hingga Februari 2022 dapat memicu peningkatan frekuensi dan intensitas curah hujan mulai dari 20% hingga 70%. Meningkatnya frekuensi dan intensitas tersebut dapat memicu terjadinya bencana hidrometeorologi di antaranya angin kencang, banjir, banjir bandang, dan tanah longsor.

Dalam satu pekan terakhir, di Provinsi Aceh telah terjadi beberapa kali bencana hidrometeorologi di antaranya adalah angin kencang di Kabupaten Aceh Barat, banjir bandang di Kabupaten Pidie, dan Banjir di Kabuaten Aceh Selatan, Kabupaten Aceh Singkil, dan Kabupaten Aceh Tenggara.

Dilihat dari analisis inaRISK, Provinsi Aceh memiliki potensi bahaya banjir sedang hingga tinggi dengan 23 kabupaten masuk dalam kategori tersebut. Sementara di Kabupaten Aceh Tenggara memiliki potensi bahaya banjir yang sama dengan jumlah kecamatan dalam kategori tersebut sebanyak 15 kecamatan.

BNPB meminta kepada pemerintah daerah khususnya BPBD dan masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan meghadapi potensi dampak La Nina. Kesiapsiagaan dapat dilakukan dengan memonitor peringatan dini cuaca dari BMKG secara mandiri, menetapkan jalur evakuasi, menetapkan rambu daerah rawan bencana, dan sering melakukan simulasi evakuasi.