Kisah Dosen USK, 28 Hari Berjuang Melawan Covid-19: “Alhamdulilah Saya Merasa Tidak Sendiri”

Universitas Syiah Kuala Banda Aceh/unsyiah

Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh menjadi salah satu institusi yang paling merasakan dampak dari pandemi Covid-19.

Betapa tidak, sejak awal munculnya kasus pertama virus corona itu, setidaknya sebanyak 250 orang dosen dan civitas akademik di kampus “jantong hate rakyat Aceh” (Jantung Hati Rakyat Aceh) terjangkit positif Covid-19, dan delapan orang diantaranya dinyatakan meninggal dunia.

Yang terbaru, USK kehilangan satu orang guru besar yang juga Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Prof. Dr. Nasir Aziz, SE. MBA, di Rumah Sakit Umum Zainal Abidin (RSUZA), tepatnya Sabtu 29 Mei 2021.

Humas USK Chairil Munawir menyebutkan dampak dari tingginya kasus positif covid-19 di USK, proses kegiatan belajar mengajar Kembali dialihkan ke system daring, setelah sebelumnya sempat Kembali mengadakan kuliah tatap muka.

Elly Sufriadi

28 Hari Melawan Positif Covid-19

Dosen pada Fakultas MIPA Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh, Elly Sufriadi mengisahkan awal mulanya dia mengetahui terpapar virus Covid-19 pada 27 April 2021 lalu.

Awalnya kata Elly, meriang disertai demam dirasakannya setelah berbuka puasa pada 27 April 2021, dan pada malam harinya Elly mulai merasakan demam dan peningkatan suhu badan disusul diare yang sangat berat. Dari gejala yang dialaminya Elly kemudian berinisiatif untuk melalukan SWAB dan dinyatakan positif Covid-19.

“Setelah shubuh saya mulai merasakan diare yang sangat berat. Sampai jam 10 pagi (28 April 2021) saya mengalami 4 kali BAB dan 1 kali muntah. Di jam 10 tersebut saya mengirim pesan teks ke Pak Dekan FMIPA untuk minta dibantu fasilitasi SWAB PCR di USK, dan sorenya saya mendapat bocoran hasilnya positif (covid-19),” lanjutnya.

Berita terkait dirinya positif Covid-19 pun kata Elly menyebar begitu cepat, sehingga diakuinya dia mendapatkan telepon dari berbagai pihak, baik teman-teman dosen di Prodi Kimia FMIPA, dari kompleks tempat tinggal dan kolega-kolega lainnya.

“Mereka semua menawarkan berbagai macam bantuan yang mungkin bisa diberikan, seperti obat-obatan, catering, alat-alat tes baik saturasi oksigen dan lain-lain. Alhamdulilah saya merasa tidak sendiri,” lanjutnya lagi.

Namun kekhawatiran Elly saat itu bukanlah soal kondisi dirinya sendiri yang sudah dinyatakan positif Covid-19 akan tetapi anggota keluarga di rumah yang terdiri dari isteri, dua anak yang masih sekolah dasar serta satu bayi yang berumur dua bulan. Ditambah lagi dengan kondisinya yang semakin melemah,kepala semakin pusing, diare semakin parah disertai muntah-muntah.

“Akhinya saya mengambil keputusan untuk melakukan tes yang sama di RSUZA untuk seluruh anggota keluarga. Pada tanggal 28 April kami semua berangkat ke RSUZA. Anggota keluarga akan tes SWAB PCR dan saya akan Periksa Thorax dan darah,” ujarnya.

Elly melanjutkan, tepat pada pukul 12 WIB hari itu juga pemeriksaan SWAB terhadap isteri dan ana-anaknya serta tes thorax dan darah dirinya tuntas dilakukan dan selanjutnya pulang ke rumah sambil menunggu hasil.

“Sekitar pukul 21.00 malam, dalam kesakitan yang luar biasa, karena diare dan pusing saya mendapatkan berita yang sangat menggembirakan. Istri dan seluruh anaknya hasil tes negatif. Alhamdulillah,” imbuhnya lagi.

Selanjutnya Elly melanjutkan isolasi mandiri di rumah dengan kamar terpisah dari anggota keluarga lainnya. Ia mengaku kondisi diarenya tidak ada tanda-tanda mereda serta kepala yang semakin pusing, namun kata dia, anehnya penciuman dan rasa masih normal seperti biasanya.

“Satu hal yang menjadi salah satu pemicu semagat saya adalah Hasil tes Saturasi Oksigen saya selalu di atas 95, karena kaluar dibawah 95 perlu segera ambil tindakan darurat, seperti dirawat di Pinere (ruang rawat pasiencovid-19 di RSUZA-red),” lanjutnya lagi.

Selain itu Elly juga mendapat kabar bahwa uji thorax hasilnya bagus, artinya kondisi paru-paru Elly tidak terlalu mengkuatirkan, apalagi dirinya mengaku tidak sempat sesak. Namun yang membuat dirinya kuatir saat itu adalah hasil periksa darah, nilai D-dimer sangat tinggi, sekitar 1.450 (normalnya dibawah 500). D-dimer ini secara awam kata dia mengindikasikan adanya pengentalan darah, atau laju pembekuan darah.

“Pikiran saya agak kacau saat itu, karena saya mengkaitkan dengan kepala yang sangat pusing, saya kuatir terjadi pembekuan darah di otak,” tambahnya.

Tepat pada tanggal 30 April Elly mencoba konsultasi dengan rekan sesama dosen di USK terkait hasil pemeriksaan darahnya. Alhasil dia disarankan untuk mengkonsumsi obat  Xarel** 10 mg 1x sehari. Sementara untuk mengatasi pusing. Temannya menyarankan minum parasetamol 2 butir per sekali minum dan 3 kali sehari.

“Alhamdulillah, selama 5 hari saya mengkonsumsi obat pengencer darah, dan minum parasetamol 3 x 2 kepala saya mulai berkurang pusingnya.  Semangat saya mulai bergerak naik lagi sampai seterusnya hari ke-10 saya beranikan diri untuk SWAB tes, walaupun badan masih sangat lemah. Alhasil ternyata masih positif,” tambahnya lagi.

Setelah Kembali dinyatakan positif Covid-19, Elly melanjutkan isolasi mandiri hingga tanggal 11 Mei 2021 atau dua hari menjelang hari raya Idul Fitri.  Dan syukur Alhamdulillah Elly Sufriadi baru dinyatakan benar-benar bersih dan sehat pada hari ke-28 sejak dinyatakan positif Covid-19 pada 18 April 2021. 

Atas apa yang telah dialaminya itu Elly menyampaikan pesan kepada masyarakat untuk tetap waspada, menjaga semangat serta berdoa karena segala sesuatunya Allah yang menentukan.

Pasalnya kata Elly, sebelum dinyatakan positif Covid-19, dirinya termasuk orang yang sangat ketat menerapkan protokol Kesehatan, dengan selalu memakai masker, mencuci tangan serta mengkonsumsi vitamin C.

“Saya termasuk orang yang sangat waspada dengan keberadaan covid-19. Kemanapun saya pergi selalu menggunakan masker, mengantongi Hand Sanitizer, cuci tangan, masuk dan keluar ATM menggunakan siku tangan atau badan untuk membuka pintu, dirumah tersedia vitamin C non acidic, rempah dan herbal lain yang rutin saya konsumsi, termasuk minyak kayu putih dan Virgin Coconut Oil (VCO). Namun Allah berkehendak lain,” tutup Elly mengisahkan pengalamannya berjuang melawan Covid-19 yang hampir sebulan menggerogoti tubuhnya.