BI : Potensi Wisata Halal di Aceh Tidak Kalah dengan NTB

0
187
International Conference "Strengthening Islamic Economic Through Halal Tourism: Challenges, Opportunities, and Prospects" di Hotel Novotel Lombok, NTB, 15 Oktober 2018.

Kepala Perwakilan BI Provinsi Aceh, Z. Arifin Lubis, menyebutkan potensi wisata halal di Aceh tidak kalah dengan daerah lain seperti Nusa Tenggara Barat (NTB).

“Aceh memiliki kesamaan kultur, nuansa religi, serta keindahan alam yang tidak kalah dengan NTB. Dengan demikian, pengembangan wisata halal di Aceh merupakan sebuah keniscayaan,” ujar Arifin disela-sela kegiatan International Conference “Strengthening Islamic Economic Through Halal Tourism: Challenges, Opportunities, and Prospects” di Hotel Novotel Lombok, NTB, 15 Oktober 2018.
.
Arifin menyebutan, bahwa saat ini pengembangan wisata halal di Aceh memiliki momentum terbaiknya, dan diprediksi akan mampu memperkuat sektor industri keuangan syariah.

“Pengembangan wisata syariah di Aceh tentu perlu selaras dengan pengembangan keuangan syariah, industri makanan halal, busana muslim, dan sebagainya. Untuk itu, sinergi dalam mengembangkan ekonomi dan keuangan syariah perlu dikoordinasikan dengan baik melalui suatu roadmap yang disusun dan disepakati bersama oleh seluruh stakeholder, Lanjut Arifin.

Selain itu tambah dia, Prestasi Aceh dalam pengembangan wisata halal juga tidak kalah dengan NTB. Misalnya kata dia, Pada 2016, Aceh berhasil meraih dua penghargaan, yaitu World’s Best Halal Cultural Destination dan Wolrd’s Best Airline for Halal Travellers.

Fazal Bahardeen, CEO GMTI Mastercard Crescent Rating mengakui pengembangan wisata halal harus diiringi dengan pengembangan kapasitas dari stakeholder terkait, serta edukasi yang kuat kepada masyarakat agar konsep pariwisata halal di era digital ini dapat dipahami dan dikembangkan secara sinergis antara Pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat.

Peran Pemerintah diharapkan dapat fokus pada bagaimana membangun infrastruktur yang memastikan akses kepada lokasi wisata, serta fasilitas umum lainnya dapat tersedia dengan baik.

“Tanpa kepastian dan kemudahan akses, maka apapun strategi pengembangan wisata akan sulit untuk meraih hasil yang diharapkan,” tambahnya.

Pada kesemptan itu Prof. Dr. Humayon (IRTI IDB), mengakui pembangunan infrastruktur tidak hanya mengenai fasilitas umum, tetapi juga meliputi pembangunan gedung, landmark, dan hal lain yang unik dan atraktif, sehingga mampu menarik perhatian masyarakat asing dan domestik untuk mengunjunginya.

“Indonesia diharapkan dapat menjadi negara yang mampu mengembangkan industri halal dan keuangan Islam secara berimbang. Keduanya tidak bisa dipisahkan oleh karena mampu mendorong satu sama lain, dan Indonesia memiliki kedua potensi itu”, ucap Prof. Humayon Dar, Director General IRTI IDB.

Sebagaimana diketahui, pengembangan pariwisata memiliki 6 subsektor, diantaranya makanan halal, keuangan syariah, halal travel, busana muslim, media dan rekreasi, serta obat dan kosmetik.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.