Rektor UIN : Aceh Harus Menjadi Pelopor Pengembangan Bahasa Arab di Indonesia

Rektor UIN Ar-Raniry, Prof. Dr. H. Warul Walidin AK, MA berbincang dengan salah seorang peserta Muktamar Bahasa Arab Asia Tenggara ke II disela-sela kegiatan tersebut, Kamis (12/7/2018) di Aula gedung Rektorat kampus setampat. [Foto|Nat Riwat/Humas UINAR]

Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry menjadi tuan rumah Pertemuan Ilmiah Internasional Bahasa Arab (PINBA) XI tahun 2018.

Kegiatan tersebut dibuka oleh Direktur Jendral Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Prof. Dr.Phil. Kamaruddin Amin, MA, di Auditorium Prof Ali Hasjmy Darussalam Banda Aceh, Jumat (13/7/2018).

Kegiatan tersebut terlaksana atas kerja sama Ijtihad Mudarrisi Lughah Arabiyah (IMLA) atau Asosiasi Pengajar Bahasa Arab dengan Prodi Pendidikan Bahasa Arab dan Prodi Bahasa dan Sastra Arab UIN Ar-Raniry Banda Aceh.

Seusai membuka acara itu, Prof Kamaruddin menegaskan bahwa bahasa merupakan bahasa yang tidak bisa dihindari sebagai bahasa agama dan juga bahasa pergaulan. Bahasa arab adalah bahasa Alquran, bahasa hadits Nabi dan kitab-kitab, termasuk khazanah intelektual juga semua dalam bahsa arab.

“Signifikansi bahasa itu sangat luar biasa, secara nasional ada tantangan yang cukup besar saat ini, kerena pertama kemajuan teknologi informasi seperti misalnya indentik dengan bahasa inggris, ini sedikitnya dapat mendegradasi interes masyarakat untuk belajar bahasa arab,” ujarnya.

Diharapkan, IMLA atau asosiasi pengajar bahasa arab ini betul-betul bisa berkontribusi dalam meningkatkan kualitas pengajaran bahasa arab di lembaga pendidikan, baik di perguruan tinggi, pendidikan tingkat dasar dan menengah.

“Ini tantang buat kita semua untuk sama-sama meningkatkan kualitas pengajaran bahasa arab,” pungkas Kamaruddin.

Ditempat yang sama, Rektor UIN Ar-Raniry, Prof. Dr. H. Warul Walidin AK, MA, menyatakan UIN Ar-Raniry akan menjadi pelopor bahasa Arab, baik di Indonesia maupun di Asia Tenggara, oleh karena itu Ia berjanji ke depan akan ditingkatkan SDM, baik dengan cara didatangkan dari Timur Tengah maupun dosen UIN Ar-Raniry akan dikirim ke luar negeri.

“Kita harus menjadikan bahasa arab ini sebagai sentral terutama di Aceh, Aceh harus punya Sentrum Tamaddun Islam yang berbasis bahasa Arab, ke depan kita berharap Aceh harus menjadi pelopor di Indonesia dan bahkan di Asia Tenggara dalam rangka pengembangan bahasa arab,” kata Warul.

Rektor menambahkan, untuk mendukung hal tersebut, ke depan sumber daya yang ada juga akan ditingkatkan fasilitas, serta media pembelajaran, metodelogi, semuanya akan diperkuat. Satu hal yang penting diketahui bahwa bahasa arab itu merupakan bahasa Alquran juga bahasa kitab-kitab, dalam perspektif ke depan bahasa Arab adalah bahasa internasional dan telah digunakan banyak orang dari berbagai belahan dunia.

“Tantangan ke depan terkait dengan sumber daya, Alhamdulillah para alumni dan mahasiswa sudah dipersiapkan dengan kemapuan bahasa Arab dan mereka banyak yang telah melanjutkan pendidikan ke Timur Tengah dan itu akan terus ditingkatkan, serta UIN Ar-Raniry juga akan meningkatkan Laboratorium Bahasa Arab bahkan sampai ke tingkat Fakultas-fakultas,” ujar Warul Walidin.

Sementara itu, Ketua Panitia PINBA XI, Dr. Buhori Muslim menyebutkan, dalam Pertemuan Ilmiah Internasional Bahasa Arab ke XI tahun 2018 ini, menghadirkan 23 pemateri dari Sembilan Negara Timur Tengah, antara lain Qatar, Yaman, Oman, Sudan, Mesir dan Iraq.

“Selain 23 pemateri luar negeri, juga dihadirkan dari 44 Perguruan Tinggi di Indonesia baik dibawah Kementerian Agama maupun Menristek Dikti sebanyak 105 pemakalah, sementara peserta sebanyak 153 luar Aceh dan 300 dari Aceh, total lebih kurang 450 orang yang ikut acara tersebut,” kata Dia.

Buhori menambahkan, Kegiatan ini dilaksanakan pada 13-15 Juli, akan merumuskan gagasan dan ide-ide dari seminar tersebut, bagaimana pengembangan bahasa arab ke depan, hasil rekomendasi tersebut akan diberikan kepada Kementerian Agama dan Kemenristek Dikti dalam rangka pengembangan bahasa arab di Perguruan tinggi nantinya.