Dewan Menentang Pembangunan Fisik di Taman Sari

Irwansyah

Anggota DPR Kota Banda Aceh Irwansyah, menyayangkan rencana Pemkoa Banda Aceh membangun panggung permanen di Taman Sari (Taman Bustanul Salatin) yang nilainya mencapai 2 Milyar.

Pasalnya, pembangunan tersebut akan memgganggu fungsi utama dari Taman Sari sebagai Ruang terbuka Hijau (RTH) untuk Kota Banda Aceh. Karena menurut Irwansyah, seharusnya taman sari bebas dari pembangunan gedung dan bangunan .

“Kita menyatakan sendiri bahwa RTH di Banda Aceh masih kurang, dan bukannya kita fokus pada penambahan kita justru mengurangi prosentase RTH dengan menambah gedung di fasilitas yang justru dimiliki Pemko,” ujar Irwansyah, Senin (23/07/2018), menanggapi rencana Pemko Banda Aceh membangun panggung di Taman Sari.

Irwansyah mengatakan, saat ini kota Banda Aceh sudah memiliki banyak gedung-gedung dan tempat-tempat yang fungsinya memang khusus diperuntukkan untuk kegiatan publik, sehingga tidak perlu lagi dibuat gedung baru, apalagi sampai mengangggu kita keberadaan Taman Sari.

Ia mencontohkan, Banda Aceh sudah punya Gedung Sosial, Anjong Mon Mata, bahkan gedung Banda Aceh adani center (BMEC) yang dibangun dengan dana puluhan Milyar, yang seharusnya bisa dimanfaatkan dengan baik.

Padahal kata Irwansyah, salah satu visi dari Pemerintahan Amin-Zainal adalah mewujudkan Banda Aceh sebagai Kota Hijau (Green City) pada 2029 nanti, dan ini memperkuat posisi Kota kita sebelumnya yang diatur dalam Qanun No.4 Tahun 2009 tentang RTRW Banda Aceh 2009-2029, dimana dalam Qanun ini ikut membahas garis-garis besar arah pemanfaatan lahan dan pembangunan kota yang berkelanjutan dan ramah lingkungan bagi kota Banda Aceh.

Apalagi kata dia, ketersediaan RTH di kota Banda Aceh baru pada kisaran 13 persen, masih jauh dari yang diamanatkan dalam qanun sebesar 20% dan dari RTH minimal sebuah ibukota provinsi sebesar 30%.

“Dan Banda Aceh saat ini sudah bagus prestasinya dengan masuk dalam 5 besar kota yang paling banyak RTH-nya, jangan sampai kita menjadi pihak yang merusak prestasi yang bagus itu sendiri, dengan cara membangun gedung-gedung di tempat yang menjadi RTH,” ujarnya.

Seharusnya kata Irwansyah, Pemko Banda Aceh berfikir bagaimana menambah jumlah taman-taman kota, karena dengan penambahan jumlah taman ini bisa mengurai kepadatan dan kemacetan, dan tidak semua kegiatan-kegiatan utama di Banda Aceh harus dipusatkan di taman sari, mengingat akses diseputaran taman sari yang sangat padat, sehingga rentan mengalami kemacetan panjang saat ada kegiatan.

“Seharusnya bukan Taman Sari ‘dipaksa’ menjadi pusat kegiatan utama Banda Aceh dengan menambah aksesoris yang tidak tepat (panggung permanen dll), harusnya di beberapa titik wilayah Kota Banda Aceh didisain menjadi pusat kegiatan masyarakat. Kota Banda Aceh ini kota kecil, kalau semua kegiatan dipaksa terpusat pada satu titik, berarti kita belum berhasil membenahi tata ruang kota,” lanjutnya lagi.

Irwansyah mengajak Pemko Banda Aceh dan jajaran untuk tidak hanya berfikir komersil, akan tetapi lupa pada dampak dan efeknya. Oleh karena itu Irwansyah mengusulkan agar program tersebut dibatalkan saja, tidak tidak terlalu penting. Dan anggaran yang sebelumnya direncanakan 2 Milyar untuk pembangunan gedung itu bisa diarahkan untuk pemberdayaan ekonomi warga atau pemberdayaan generasi muda. Namun menurut Irwansyah jika tidak mungkin dibatalkan, maka harus ada upaya serius untuk mendesain ulang tata bangunan yang ramah dengan RTH.

“Jangan sampai Pemko justru menjadi pihak yang tidak konsisten dan melanggar komitmen. Pasalanya kita sedah punya RTRW, kita masih kekurangan RTH, kita sudah punya prestasi 5 kota besar yang bagus RTH nya, dan kita sedang serius menuju Kota Hijau, tapi justru kita yang melanggar semua target dan komitmen tersebut,” ujarnya lagi.

Ketua Fraksi PKS DPRK Banda Aceh ini juga mengaku mendapatkan banyak kritik terutama dari kalangan akademisi di Teknik. Mereka mengharapkan agar orang-orang teknik yang mengerti tata ruang di lingkungan Pemko untuk menjaga konsep RTRW Kota Banda Aceh sehingga tidak menjadi blunder.

“Kebetulan saya juga berlatar belakang Teknik, sehingga kritik-kritik itu disampaikan pada saya. Kemudian kita juga punya sekda lulusan teknik, kita punya kepala PU yang alumni Teknik. Namun kenapa jutsru kita belum bisa konsisten dengan keilmuan kita ?” pungkas Irwansyah.