DPRA Khawatir Bahasa Kotor Irwandi di Media Sosial Akan Dianggap Biasa oleh Generasi Aceh

Paripurna DPR Aceh

Anggota Fraksi PPP DPR Aceh Murdani Yusuf mengaku khawatir dengan bahasa-bahasa kotor Gubernur Aceh Irwandi Yusuf di Media Sosial.

Murdani khawatir kata-kata tidak pantas gubernur Aceh itu nantinya akan dianggap hal biasa oleh generasi Aceh.

Pernyataan itu disampaikan politisi PPP itu pada sidang paripurna DPR Aceh dengan agenda mendengarkan jawaban gubernur Aceh terhadap pertanyaan hak interpelasi DPR Aceh, Kamis (28/06/2018).

Sidang dipimpin Ketua DPR Aceh Muharuddin dan dihadiri wakil gubernur Aceh Nova Iriansyah. Sidang diawali dengan mendengarkan penjelasan gubernur Aceh yang dibacakan oleh wakil gubernur Aceh.

Sebelumnya dalam pertanyaan hak interpelasi DPR Aceh, salah satu hal yang dipertanyakan adalah menyangkut dengan etika gubernur Aceh dalam ber media sosial, dimana Irwandi kerap menulis kata-kata yang dinilai tidak pantas.
Dalam jawabannya yang dibacakan Nova, Irwandi mengakui bahwa Media Sosial tersebut dikelola sendiri olehnya.

“Komunikasi kami di media sosial bersifat pribadi bukan hal yang bersifat penting dan strategis sehingga hal tersebut bukan objek penggunaan hak interpelasi DPRA,” ujar Nova membacakan jawaban Irwandi.

Menanggapi jawaban Irwandi itu, sejumlah anggota DPR Aceh menyampaikan interupsi. Anggota Fraksi PPP Murdani mengatakan komentar tersebut tidak bisa dikatakan bersifat pribadi karena jabatan gubernur melekat pada Irwandi Yusuf.

“Bayangkan anak usia SMP dan SD saat ini akan menganggap bahasa-bahasa itu bahasa pasaran, maka kalau mengatakan itu bersifat pribadi maka ini adalah upaya membuat peradaban Aceh kearah yang tidak baik,” lanjutnya.

Atas jawaban Irwandi Yusuf itu, Murdani mengaku tidak puas dan berharap agar tahapan interpelasi itu dilanjutkan kepada hak angket.

Anggota DPR Aceh Fraksi Partai Aceh Effendi bahkan menilai jawaban gubernur Aceh terkait pertanyaan DPR ditutup dengan kalimat-kalimat yang sangat provokatif, sehingga akan semakin menjauhkan hubungan eksekutif dengan lagislatif.

“Berhentilah provokatif. Pemerintah beda dengan begal atau perampok, saya sangat miris dengan kondisi ini,” ujarnya.

Anggota DPR Aceh lainnya dari Fraksi Partai Aceh Mariati dan Aisyah Ismail juga mengaku tidak puas dengan jawaban Irwandi Yusuf. Mariati bahkan mempertanyakan terkait ketidakhadiran Irwand Yusuf , karena menurutnya jawaban yang disampaikan Nova Iriansyah serta sejumlah pertanyaan dari anggota DPR Aceh akan menjadi sia-sia.

“Kami mengharapkan gubernur yang hadir, tapi kenyataan hanya kertas ini yang di kirimkan. Jadi ini masalahnya, apa yang disampaikan oleh DPR Aceh ini harus di dengar oleh gubernur Aceh,” ujarnya.