Kelompok-kelompok radikal melakukan perekrutan anggotanya melalui dunia maya seperti media sosial (Medsos), sasarannya adalah generasi muda pengguna internet tak terkecuali di provinsi Aceh.
Untuk memutus rantai perekrutan itu, Badan Nasional Pencegahan Terorisme (BNPT) mencanangkan tahun 2015 ini sebagai tahun damai di dunia maya.
BNPT berupaya untuk mengamankan dunia maya agar tidak dimanfaatkan untuk menyebar teror, serta ajakan-ajakan untuk bergabung dengan kelompok radikal seperti ISIS yang diduga menargetkan perekrutan pengikut di Indonesia melalui dunia maya.
Hal demikian diungkapkan Mayjen TNI Agus Surya Bakti, deputi I Badan Nasional Pencegahan Terorisme (BNPT) dalam konferensi pers kegiatan BNPT di Aceh bersama Imam Masjid, Media massa dan mahasiswa.
Agus mengatakan selain memutus rantai di dunia maya, BNPT juga melakukan kerjasama dengan para imam masjid agar para imam masjid menjaga masjid-masjid mereka dari pengaruh radikal.
Namun demikian diakuinya, BNPT tidak menuduh masjid-masjid sebagai tempat disebarkannya faham-faham radikal. Ia juga menegaskan, Negara juga tidak pernah menuduh Islam sebagai teroris. Pihaknya justru igin meluruskan ajaran Islam yang diselewengkan oleh pihak tertentu.
“Mengajak imam masjid bukan berarti menuduh masjid tempat berkumpulnya teroris, namun ini untuk mencegah sebelum ini besar, karena ini banyak pengalaman. Karena ini adalah hal yang sangat sensitif, karena masjid memang salah satu tempat yang mereka dekati,”ujarnya.
Sementara itu terkait dengan penindakan, ia menegaskan BNPT tidak sama dengan densus 88 anti terror. BNPT tidak bertugas untuk menangkap melainkan melakukan pencegahan.
Sementara itu Koordinator Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Aceh Yusni Sabi menyebutkan ada dua faktor yang menyebabkan tumbuhnya faham radikalisme ditengah-tengah masyarakat.
Pertama pendidikan agama yang belum mencerdaskan dan yang kedua adanya pihak yang memakai agama sebagai kendaraan politik. Diakui Yusni Sabi saat ini tidak ada indikasi terorisme di Aceh namun faham-faham radikalisme masih ada, seperti pelayanan birokrasi yang tidak bagus juga bagian dari sikap radikal.
“Untuk mencegahnya dengan pendidikan yang harus mendidik. Pendidikan harus membuat orang saling berkasih sayang,”ujarnya.


