Bebek rica-rica dalam kemasan mungkin terdengar biasa, tetapi di Aceh, produk ini menjadi pionir. Fira menyebut, produknya adalah bebek kemasan pertama di Aceh yang dikemas secara elegan, praktis, dan tahan lama hingga satu tahun tanpa bahan pengawet.
Awal mula usaha ini justru datang dari momen keluarga. Saat menghadiri halal bihalal di rumah kakak iparnya, Fira mencicipi ayam rica-rica khas Manado. “Saya nggak pernah makan sebelumnya, tapi pas coba, ternyata enak banget” ujarnya. Karena dirinya dan suami sama-sama pencinta bebek, ia kemudian mencoba mengombinasikan bumbu tersebut dengan daging bebek. Hasilnya di luar dugaan — cocok.
Kesempatan datang ketika restoran di Banda Aceh kehilangan tenant penjual bebek. Fira memberanikan diri menawarkan produknya. “Awalnya owner bilang, ‘coba saja dulu’. Tapi setelah mereka coba, ternyata suka, dan kami langsung masuk” katanya.
Namun perjalanan bisnis tidak selalu mulus. Setelah berjalan sekitar satu tahun, usaha tersebut terpaksa tutup karena fokus keluarga. Meski begitu, respons pelanggan tidak berhenti. Banyak yang tetap mencari, bahkan meminta produk dalam bentuk yang lebih praktis. “Dari situlah muncul ide untuk membuat kemasan botol. Jadi sebenarnya inspirasi terbesarnya datang dari pelanggan,” kata Fira.
Transformasi produk tidak terjadi instan. Fira sempat mencoba berbagai jenis kemasan sebelum akhirnya menemukan teknologi retort, yakni proses sterilisasi dengan suhu tinggi. “Dengan suhu 121 derajat selama minimal 30 menit, produk bisa tahan sampai satu tahun tanpa pengawet,” jelasnya. Temuan ini menjadi titik balik, sekaligus mendorong rebranding produk menjadi lebih profesional.
Dari sisi rasa Fira melakukan penyesuaian agar lebih diterima pasar luas. Jika rica-rica khas Manado identik dengan rasa pedas menyengat, ia justru menyeimbangkannya. “Kami standarkan rasanya jadi dominan manis, gurih, dan pedas supaya semua kalangan bisa menikmati” ujarnya. Fira menambahkan sentuhan lokal berupa daun kunyit khas Aceh. “Itu yang bikin aromanya beda dan susah dilupakan” tambahnya.
Saat ini produk tidak hanya tersedia dalam varian bebek, tetapi juga ayam dan daging sapi. Meski begitu, varian bebek tetap menjadi primadona. “Customer bebek itu sangat loyal,” kata Fira. Ia melihat banyak orang menyukai bebek, tetapi kesulitan mengolahnya karena risiko bau dan tekstur yang alot.
Untuk mengatasi itu, proses produksi dilakukan dengan teknik khusus. Fira menggunakan jeruk nipis dan daun jeruk untuk menghilangkan bau, serta air kelapa untuk melembutkan daging. “Air kelapa itu bukan cuma melembutkan, tapi juga memberi rasa manis alami” ungkapnya.
Produksi dilakukan dua kali dalam seminggu dengan jumlah terbatas. Produk ini juga sudah masuk ke salah satu pusat perbelanjaan di Banda Aceh, Suzuya, selain dijual langsung ke pelanggan. “Biasanya kami produksi dua sampai tiga lusin, dan cepat habis” ujarnya.
Di tengah pertumbuhan usaha, tantangan tetap ada. Salah satunya adalah keterbatasan akses kemasan berkualitas di Aceh yang dinilai masih mahal. “Kalau mau scale up, kendalanya di situ” kata Fira. Meski demikian, dari sisi kompetisi, ia mengaku belum menemukan produk serupa di pasar lokal.
Strategi pemasaran yang digunakan pun terbilang sederhana. Fira mengandalkan media sosial seperti Instagram dan WhatsApp, sambil menjaga kesan eksklusif. “Karena target kami menengah ke atas, kami juga belum masuk ke semua platform atau toko oleh-oleh,” jelasnya. Produk dijual dengan harga Rp65.000 per kemasan 180 gram.
Sebagai bagian dari BSI UMKM Center, Fira mengaku mendapat banyak manfaat, mulai dari pelatihan hingga pendampingan perizinan. “Awalnya saya tidak pernah bermimpi ekspor, tapi setelah ikut pelatihan, saya jadi berani bermimpi” ujarnya. Kini, produknya telah mengantongi izin halal, NIB, SPPIRT, dan merek dagang.
Meski belum melakukan ekspor secara resmi, produknya sudah “keliling dunia” melalui pelanggan yang membawanya ke luar negeri. “Alhamdulillah sudah sampai Eropa dan Timur Tengah, walau masih hand carry” kata Fira.
Bagi Fira kunci mempertahankan usaha bukan hanya inovasi, tetapi juga konsistensi. “Kualitas jangan diubah, apapun yang terjadi. Dan pelayanan harus tetap baik” tegasnya. Loyalitas pelanggan, menurutnya, lahir dari dua hal tersebut.
Cerita paling berkesan baginya adalah ketika seorang pelanggan dari kota Langsa rela datang langsung ke Banda Aceh hanya untuk membeli produknya. “Itu benar-benar membuat kami terharu” ujarnya.
Kini dari dapur sederhana hingga rak swalayan modern, bebek rica-rica racikan Fira terus berkembang menjadi produk UMKM yang kini mulai menembus pasar lebih luas. (Nurul Ali)


