Tak lagi sekadar alat tulis, kertas kini menjelma menjadi medium ekspresi seni rupa yang kaya eksplorasi. Hal tersebut terlihat dari karya para seniman dalam Art Jakarta Papers 2026, yang digelar 5–8 Februari di City Hall, Pondok Indah Mall 3, Jakarta, dengan menghadirkan 28 galeri, 22 dari Indonesia dan enam dari berbagai negara di Asia.
Minat pasar global terhadap karya bermaterial kertas dinilai terus meningkat. Menurut Adinda, Manajer Komunikasi Art Jakarta, tren ini terlihat dari semakin banyak kolektor mancanegara yang tertarik, bukan hanya untuk mengoleksi tetapi juga mengapresiasi karya dalam konteks kuratorial.
“Medium ini semakin sering muncul di berbagai bienal dan pameran khusus, sehingga penting bagi kami untuk menyorotinya” ujarnya.
Tren tersebut juga dirasakan oleh para seniman, salah satunya Deddy Ferdian Singgi dari Bali yang menampilkan karya instalasi kertas yang digulung dan disusun sebagai refleksi kehidupan. “Kehidupan yang sebenarnya saat sekarang ini keadaannya tidak baik-baik saja” katanya.
Ia menilai momentum pameran ini penting karena mendorong perubahan cara pandang terhadap material. Menurutnya, nilai karya tidak semata ditentukan medium, melainkan karakter material dan gagasan artistiknya.
Kesan serupa juga datang dari pengunjung. Ayu, warga Jakarta yang mengaku kagum dengan keragaman ide karya kertas yang ditemuinya. Medium yang selama ini dianggap sederhana, menurutnya, justru mampu menghadirkan bentuk seni yang tak terduga.
“Menarik, karena saya tahunya seni itu lukisan di atas kanvas, tapi ini ternyata bisa dari kertas.”
Sementara itu, Elizabeth, pengunjung asal Australia, Tertarik melihat bagaimana seniman dari berbagai negara menggunakan kertas secara kreatif, mulai dari teknik potong hingga bentuk tiga dimensi. “Banyak karya menghadirkan konsep tentang identitas, konflik, kehidupan modern, hingga komentar sosial. Keberagamannya membuat saya merasa terinspirasi” ujarnya.
Tak hanya pameran, Art Jakarta Papers juga menghadirkan diskusi dan lokakarya untuk memperkaya pemahaman publik tentang seni berbasis medium alternatif, sekaligus membuka akses lebih luas serta peluang kolaborasi lintas galeri dan seniman. (Nurul Ali)


