Lumpur masih menyelimuti halaman rumah, papan-papan kayu bergeser dan perabotan tercecer di setiap sudut Desa Paya Rebo, Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara.
Tiga minggu lalu (17/1), Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) Aceh mengunjungi desa yang terdampak banjir bandang dan longsor ini, membawa donasi sekaligus kegiatan psikososial. Di pabrik Pinang milik seorang warga, tawa ceria anak-anak saat bermain menjadi semangat yang memberi harapan di tengah duka yang masih membekas.
Kegiatan difokuskan pada pendampingan psikososial, terutama bagi anak-anak. Aktivitas sederhana seperti bermain, dan interaksi dengan relawan ternyata membawa kegembiraan tersendiri bagi mereka.
“Anak-anak sangat senang, aktivitas bermain seperti ini membantu melupakan sejenak rasa takut dan trauma mereka setelah banjir” ujar Rohana, salah seorang warga terdampak yang juga kader Posyandu Desa Paya Rebo.
Ketua FJPI Aceh, Saniah LS, mengatakan pentingnya pendampingan berkelanjutan. “Kegiatan seperti ini perlu lebih sering dilakukan, dari pengalaman Tsunami 2004 lalu, pemulihan pascabencana, khususnya trauma anak-anak, membutuhkan waktu dan pendampingan yang harus terus dilakukan sampai trauma memudar” ucapnya.
Selain psikososial, FJPI Aceh juga melakukan pemeriksaan kesehatan bagi warga terdampak pada kunjungan tersebut. Pemeriksaan untuk memantau kondisi kesehatan warga dan memastikan kebutuhan medis dasar terpenuhi, terutama bagi kelompok rentan seperti perempuan, anak-anak, dan lansia.
Meski hari itu terik, warga menunggu giliran dengan tertib untuk pemeriksaan kesehatan, mulai dari cek darah, gula, hingga pengobatan penyakit gatal. Beberapa di antaranya memang mengalami gatal-gatal, keluhan yang cukup dominan muncul pascabanjir.
Setelah menjalani pemeriksaan, FJPI Aceh menyalurkan bantuan kepada mereka, mulai dari Al-Qur’an, sarung, dan mukena, sementara anak-anak mendapatkan bingkisan buku dan Iqra. Wajah-wajah bahagia terlihat lega, seolah sejenak melupakan duka yang ditinggalkan banjir.
Rohana juga menjadi relawan hari itu, membantu proses pemeriksaan warga agar berjalan tepat waktu. Ia menyampaikan bahwa bantuan seperti ini masih sangat dibutuhkan oleh warga.
“Saat ini yang paling dibutuhkan adalah peralatan rumah tangga utama seperti kasur dan kompor, juga peralatan ibadah dan obat-obatan,” ujarnya penuh harap.
Banjir turut memporak-porandakan rumahnya, sehingga ia dan keluarga terpaksa mengungsi ke tempat lain. Begitu pun Yusnidar, warga Paya Rebo yang juga menjadi relawan, menceritakan pengalaman menegangkan saat banjir melanda.
“Air mulai naik sore hari, rumah saya di dusun paling bawah langsung tenggelam, kami bertahan di atap rumah yang mulai ambrol” kisahnya sambil berlinang air mata.
Usaha keras suaminya, berhasil memindahkan anak-anak dan dirinya ke tempat yang lebih tinggi dan aman. “Kami minta tolong, tapi tidak ada yang datang karena pasti mereka juga sedang berusaha menyelamatkan diri sendiri” tambahnya.
Dampak banjir dan longsor tidak hanya menghancurkan rumah warga, tetapi juga bangunan Pesantren Darul Abrar yang berada di desa tersebut. Tiga rumah di kompleks pesantren terbawa arus dan kini hanya menyisakan pondasi, sejumlah kitab dan Al-Qur’an juga ikut terendam banjir.
Pimpinan Pesantren Darul Abrar, Tengku Sulaiman, mengatakan saat ini pesantren membutuhkan bantuan untuk mendukung aktivitas para santri kembali. “Yang paling kami butuhkan adalah kitab pelajaran dari kelas satu hingga enam, peralatan memasak, dan kasur” ujarnya, karena dalam waktu dekat, kegiatan belajar mengajar akan segera dimulai kembali.
Sementara itu, menjelang Ramadan, tahun ini akan terasa berbeda bagi warga Paya Rebo. Di tengah rumah yang rusak dan harta benda yang hilang, mereka harus menghadapi bulan suci dalam kondisi yang lebih berat dari biasanya. Meski begitu, semangat mereka tetap menyala, menyambut bulan penuh berkah dengan harapan.
Banjir bandang dan longsor yang melanda Desa Paya Rebo menyebabkan sekitar 271 kepala keluarga dan 700 jiwa terpaksa mengungsi. Hingga kini, proses pemulihan masih berlangsung, dan dukungan dari berbagai pihak masih dibutuhkan.
FJPI Aceh terus membuka donasi bagi warga terdampak banjir, tidak hanya di Desa Paya Rebo, tetapi juga di wilayah lain yang mengalami dampak serupa. Bantuan dapat disalurkan melalui rekening Bank Aceh nomor 500-02.24.000704-2 atas nama FJPI Aceh, atau melalui BSI nomor 7261775829 atas nama Putri Saleh.
Uluran tangan dari kita dapat membantu mereka yang terdampak untuk bangkit, memulihkan kehidupan, dan kembali beraktivitas dengan aman dan nyaman. (Nurul Ali)


