Lubang Besar di Ketol Terus Meluas, Jaringan Listrik Ikut Terdampak

Lubang besar yang diduga sinkhole di desa Bah, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, terus meluas dan berdampak serius terhadap akses warga serta infrastruktur vital. Hingga saat ini, lubang tersebut belum menunjukkan tanda-tanda stabil. Dalam sepekan terakhir, jalan raya di sekitar lokasi dilaporkan putus total, sementara lahan pertanian dan jaringan listrik terancam terdampak.

Zuhra, warga Aceh Tengah, menyebut fenomena tersebut sudah terjadi sejak pascagempa Serempah pada 2013. Sejak itu tanah di lokasi mengalami penurunan hingga puluhan meter dan terus tergerus secara perlahan. “Lubangnya makin besar dan menganga, minggu ini jalan benar-benar sudah putus” kata Zuhra.

Lubang tersebut berada di perbatasan Aceh Tengah dan Bener Meriah, mengikuti pola patahan tanah yang terus memanjang. Kondisi ini membuat warga khawatir karena berdampak langsung pada aktivitas ekonomi. “paling dikhawatirkan itu akses jalan, di sini banyak ladang pertanian, dan sebagian besar warganya bergantung dari itu (pertanian)” ujarnya.

Mencegah potensi gangguan pada jaringan Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 kilovolt Bireuen–Takengon yang menjadi jalur utama pasokan listrik antara Aceh Tengah dan Bener Meriah serta berada di sekitar lokasi kejadian, PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) menurunkan tim transmisi guna memindahkan jalur tersebut ke area yang lebih aman dan jauh dari zona sinkhole.
Manager Unit Pelaksana Transmisi (MUPT) PLN Aceh, Ahmad, memastikan penyaluran Listrik di wilayah terdampak tidak akan terganggu. “Pengerjaan pemindahan tower masih terus dikerjakan” ungkapnya.

Ahmad menjelaskan pemindahan tower listrik sebagai langkah mitigasi risiko. Tower yang dibangun bersifat sementara, lokasi untuk tower permanen masih dalam pencarian. “Pemindahan tower ini bagian dari antisipasi jika terjadi gangguan lanjutan” tambahnya.

Dosen Teknik Geologi Universitas Syiah Kuala (USK), Dr. Bambang Setiawan, mengatakan bahwa fenomena lubang besar di Kecamatan Ketol masih memerlukan kajian lebih lanjut untuk memastikan apakah merupakan sinkhole atau longsor. “Kami belum meninjau langsung, namun berdasarkan data geologi, indikasi ke arah sinkhole tetap ada” ujarnya.

Bambang menjelaskan, dugaan tersebut merujuk pada peta geologi yang diterbitkan Cameron dan rekan-rekannya pada 1983, yang menunjukkan keberadaan Formasi Sembuang berupa batu gamping di bawah lapisan endapan Kuarter.
Menurutnya secara geologi batu kapur mudah mengalami pelarutan oleh air dan membentuk rongga di bawah permukaan tanah. Jika dugaan tersebut sesuai dengan kondisi di lapangan, dan lapisan penutup di atasnya mengalami penurunan atau runtuhan, maka fenomena sinkhole dapat terjadi.

Bambang juga menyoroti curah hujan tinggi dan aliran air permukaan juga berpotensi memicu kondisi tersebut. “Air dalam jumlah besar bisa masuk ke rongga bawah tanah dan memicu runtuhan” sambungnya.

Namun Bambang menegaskan fenomena tersebut hanya bisa dipastikan melalui peninjauan langsung dan kajian lebih mendalam. Bambang juga menyarankan pemetaan Formasi Sembuang yang tersusun dari batu kapur untuk mengidentifikasi potensi lubang serupa di wilayah lain. Bambang menambahkan secara umum sinkhole sering berawal dari lubang-lubang kecil yang berdekatan sebelum menyatu, sehingga pengelolaan air permukaan dan kewaspadaan terhadap tanda-tanda awal perlu diperhatikan. “Tanda awal seperti retakan tanah, tiang listrik miring, atau genangan air yang tidak biasa perlu segera diwaspadai” pungkasnya.

Sementara itu berdasarkan perkembangan terbaru, jaringan Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 kilovolt Bireuen–Takengon dilaporkan roboh dan masuk ke jurang pada Senin (2/20) malam.

(Nurul Ali)

Berita Terkait

Berita Terkini

Google ads