Sprei, sering luput diperhatikan, namun perannya sangat penting. Sentuhan pertama pada kain akan menentukan kenyamanan beristirahat Anda. Karena itu, pilihan sprei untuk menutup kasur turut menentukan kualitas tidur. Dengan katun yang sejuk dan jahitan yang rapi, Arbaina merancang sprei tidak hanya pada estetika namun juga dengan perhatian pada tekstur, daya lekat, dan ketahanan, sehingga kenyamanan hadir secara alami.
Arbaina adalah merek sprei dan bed cover berbahan 100 persen katun lokal Indonesia, yang mengadopsi teknik quilting dari Jepang. Teknik ini menggabungkan potongan-potongan kain, lalu menjahitnya sedemikian rupa hingga menciptakan efek tiga dimensi. “Kebetulan di Aceh belum ada yang seperti ini, jadi saya belajar dan melihat potensi pasarnya” kata Ina, pemilik Arbaina.
Pada sarung bantal, jahitan quilting itu tampak menonjol memberi kesan artistik sekaligus mewah. Sarung gulingnya diikat dengan tali sederhana namun kuat, detail kecil membuat tampilannya rapi dan berkelas.
Sprei Arbaina dilengkapi karet anti-slip yang tersembunyi di balik lapisan kain, sehingga tidak tampak kasar di mata. Tidur pun menjadi lebih tenang, tanpa khawatir sprei tertarik atau bergeser.
Arbaina sendiri lahir dari kegelisahan Ina, sprei yang ia temui cenderung menawarkan desain sederhana, dengan bordir yang itu-itu saja. Ia lalu mencoba sesuatu yang berbeda, mengulik teknik quilting ini.
Belajarnya pun tidak instan. Ia bukan lulusan SMK tata busana. Semua dimulai secara otodidak, menggambar pola sendiri, mengolah desain sendiri, dan menjahit sendiri. Produk pertama bahkan tidak diniatkan untuk dijual. “Awalnya saya buat untuk keluarga dulu, karena anak saya perempuan, saya bikin produk yang memang ingin saya pakai sendiri” ujarnya sambil tersenyum.
Pilihan bahan menjadi prinsip yang tak pernah ia tawar. Arbaina menggunakan katun lokal, bahan yang menurutnya paling adil untuk semua segmen. “Katun itu standar, bisa dipakai oleh siapapun” jelasnya.
Katun dipilih bukan hanya karena mudah ditemukan, tetapi juga ramah keluarga, terutama anak-anak, karena menyerap keringat.
Ciri khas Arbaina juga tampak pada kemasan. Alih-alih plastik sekali pakai, setiap set sprei Arbaina disimpan dalam tas khusus yang kuat dan bisa digunakan berulang kali. “Kami sudah memikirkan kemasan sejak awal, tasnya bukan hanya saja pelengkap, tapi juga bagian dari keawetan produk” katanya.
Kesadaran akan keberlanjutan juga hadir lewat proses produksi. Teknik quilting memungkinkan pemanfaatan sisa bahan untuk sarung bantal, sehingga limbah kain bisa diminimalkan. Jika masih ada sisa, kain itu diolah menjadi produk lain. “Konsep Arbaina memang lebih ke circular fashion, kami berusaha agar sisa bahan tidak terbuang percuma” ujar Ina.
Pilihan produk pun mengerucut pada sprei karena satu alasan sederhana: keluarga. “Saya berpikir, sprei market-nya lebih luas. Bisa dipakai laki-laki, perempuan, anak-anak, satu produk untuk satu keluarga, karena itu tema Arbaina memang keluarga” tambahnya.
Arbaina mulai dirintis pada 2016. Tahun-tahun awal dijalani sendirian, menjahit, memotong, hingga mengemas. Satu hingga dua tahun kemudian, Ina memberanikan diri merekrut penjahit. Kini, Arbaina memiliki penjahit sendiri dan memberdayakan perempuan di sekitarnya: ibu rumah tangga, dan perempuan yang ingin belajar dari nol.
“Menurut saya, penjahit di sini bukan tidak kreatif, tapi kurang tempat untuk berkreasi. Kami ajarkan dari awal, lalu kreativitas mereka berkembang sesuai kemampuan masing-masing, tentu dengan standar Arbaina” pungkasnya.
Dalam bisnis, tantangan selalu datang silih berganti; bencana, situasi ekonomi, perubahan pasar. Namun bagi Ina, semua itu terasa lebih ringan karena Arbaina berangkat dari kesukaan. “Kalau ini terpaksa, mungkin terasa berat tapi karena ini seperti hobi yang akhirnya menghasilkan uang, ya dijalani saja” ujarnya.
Sebagian besar produk Arbaina bersifat custom. Mulai dari ukuran king dan single. Untuk teknik quilting, harga sudah memiliki standar; ukuran king umum dibanderol di kisaran Rp400 ribu.
Strategi pemasarannya pun tidak agresif. Tidak ada iklan berbayar. Media sosial diisi dengan pembaruan motif dan desain setiap hari, cukup untuk menjaga rasa ingin tahu. Pada momen spesial, Arbaina menyelipkan perhatian kecil, seperti kalender di awal tahun.
“Kami tidak hard selling, konsepnya family dan friendly, saya sendiri yang berkomunikasi langsung dengan konsumen, bukan admin, supaya lebih dekat dan lebih percaya” katanya. Kedekatan itu sering berbuah rekomendasi sukarela ‘tag’ di media sosial dari konsumen yang memanggil konsumen lain.
Kepercayaan juga dijaga lewat identitas merek. Arbaina telah memiliki HAKI, kemasannya khas, dan setiap jahitan dilengkapi label. Dukungan eksternal datang ketika Arbaina bergabung sebagai binaan BSI UMKM Center.
Mulanya dari undangan bazar, lalu berlanjut ke berbagai pelatihan dan kegiatan. “BSI memilih produk yang berbeda dari yang lain, dari situ kami ikut tumbuh bersama” ungkapnya.
Ke depan, mimpi Arbaina ingin produk lokal dari Aceh ini melangkah ke luar negeri. “Harapan saya, Arbaina bisa dikenal nasional bahkan internasional, produk kita tidak kalah, penjahit kita juga kreatif, mereka hanya perlu difasilitasi saja” ujarnya.
“Arbaina dapat dijumpai di media sosial Instagram dan TikTok dengan nama arbaina_sprei” tutup Ina. Siapa pun bisa bertanya, melihat-lihat, atau memesan langsung. (Nurul Ali)


