Mochica Tumbuh dari Dapur Rumah Fitri

Kenyal-kenyal, manis, bertabur gula halus dengan isian yang lembut dan lumer di mulut, pasti Anda tahu camilan apa yang dimaksud: kue mochi.

Kudapan ini dibuat dari tepung ketan yang diolah bersama gula dan air, lalu dikukus hingga membentuk adonan elastis yang kenyal. Setelah matang, adonan dibagi, diisi berbagai isian manis, kemudian dibulatkan dan dilapisi taburan tepung atau gula halus agar tidak lengket.

Jejak mochi dapat ditelusuri dari tradisi Jepang, yang kemudian beradaptasi di berbagai negara, termasuk Indonesia. Seiring waktu, mochi berkembang mengikuti selera lokal dan tren pasar mulai dari isian kacang, cokelat, hingga buah segar.

Di Banda Aceh transformasi mochi hadir dalam Mochica atau Mochi Cantik, usaha rumahan yang dijalankan oleh Fitri sejak 2015. Berawal dari kegemaran Fitri memproduksi mochi Mochica dengan tekstur lembut dan kenyal.

Fitri berani menawarkan varian rasa yang saat itu belum banyak ditemui di Aceh. Dari cokelat dan Oreo, hingga mengikuti tren terbaru seperti pistachio. Ragam rasa ini juga yang perlahan membangun identitas Mochica sebagai mochi dengan sentuhan kreatif dalam rasa. “Kami pikir, kenapa tidak mencoba varian lain yang belum ada, seperti cokelat atau Oreo” kata Fitri.

Percobaan demi percobaan dilakukan dari dapur sederhana rumahnya. Adonan kerap gagal, tekstur belum sesuai harapan. Namun setelah beberapa kali mencoba resep yang pas akhirnya ditemukan. Dari situlah Mochica mulai diproduksi, meski dalam jumlah sangat terbatas.

Diawal produksi hanya dilakukan satu kali dalam sepekan dengan sistem pre-order. Modal yang digunakan pun sangat minim, sekitar Rp100 ribu. Mochi dikemas sederhana, tanpa merek, hanya menggunakan cup biasa. Pemasarannya mengandalkan lingkar terdekat tetangga dan teman serta membagikan tester di kawasan Trans Kutaraja.

Seiring meningkatnya respons pasar Fitri menyadari usaha rumahannya perlu dikelola lebih serius. Fitri mulai mengikuti berbagai pelatihan UMKM yang difasilitasi BSI juga pemerintah. Dari proses tersebut, Fitri memahami pentingnya kemasan, standar dapur, sertifikasi halal, perlindungan kekayaan intelektual, hingga tata kelola usaha pangan. “Packaging itu ternyata sangat berpengaruh,” ujarnya.

Bergabungnya Mochica dengan BSI UMKM Center menjadi salah satu penanda fase baru dalam perjalanan usaha Fitri. Melalui pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR) Fitri memperoleh ruang untuk mengembangkan usahanya.

Dukungan tersebut tidak hanya berupa tambahan modal, tetapi juga pembenahan sistem transaksi melalui penggunaan EDC (Electronic Data Capture), mesin untuk memproses pembayaran non-tunai seperti kartu debit/kredit dan QRIS, membantu pencatatan menjadi lebih tertib. “Sekarang pelanggan banyak yang bayar tanpa uang tunai, cukup pakai handphone, dan itu juga meminimalkan human error” ujarnya.

Fitri juga melengkapi aspek legalitas usaha, mulai dari sertifikat halal MUI, izin PIRT untuk produk kue basah, hingga pendaftaran merek HAKI sebagai upaya melindungi usaha yang tumbuh dari dapur rumahnya.

Dari sisi produk Fitri memilih untuk tetap fokus pada satu jenis makanan: mochi. Namun satu produk ini dikembangkan dalam banyak varian rasa. Mulai dari kacang hijau, wijen, cokelat kacang, tiramisu Oreo, hingga cokelat red velvet. Mochica juga mengikuti tren rasa. Ketika pistachio sedang digemari, misalnya, varian mochi pistachio pun diluncurkan.

Salah satu menu andalan Mochica adalah choco berry, mochi dengan isian buah stroberi utuh dan selai cokelat. Selain itu tersedia pula mochi daifuku berukuran besar dengan isian buah segar. Oleh sebab tingginya permintaan pemesanan sering kali harus dilakukan sehari sebelumnya.

Perkembangan usahanya tidak selalu berjalan mulus, Fitri mengakui ketiadaan latar belakang bisnis sempat membuatnya kewalahan. Pada masa awal seluruh proses produksi dikerjakan bersama kakak dan keluarga, tanpa karyawan. Ketika Mochica sempat viral kekurangan tenaga kerja menjadi tantangan serius. “Kami bisa bekerja sampai jam tiga pagi di ruang produksi” ungkap Fitri.

Seiring berjalannya waktu, Mochica mulai merekrut karyawan secara bertahap. Kini usaha ini telah memiliki satu outlet di Banda Aceh dengan sekitar 25 karyawan, sekaligus membangun jaringan reseller yang tersebar di berbagai wilayah Aceh, membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat sekitar.

Di luar daerah Mochica telah hadir di Jakarta Selatan, tepatnya di Tebet, serta Tangerang Selatan yang baru dibuka. Untuk wilayah Banda Aceh, penjualan harian berkisar 300 hingga 400 kotak, dengan operasional toko setiap hari kecuali Senin.

Menariknya outlet Mochica juga menyediakan ruang bagi produk UMKM lain. Rak dan lemari pendingin disediakan untuk menitipkan produk, sehingga Mochica tidak hanya menjual produknya sendiri, tetapi juga membantu pemasaran UMKM lain.

Dalam hal pemasaran, Fitri memanfaatkan media sosial seperti Instagram dan TikTok. Endorsement dengan influencer dan kreator konten dilakukan untuk menjangkau calon pelanggan yang lebih luas. Live streaming rutin dan kerja sama dengan radio serta media juga menjadi bagian dari strategi promosi. “Kami berusaha tidak tertinggal teknologi” kata Fitri.

Bagi Fitri membangun Mochica merupakan proses panjang yang mesti dijalani dengan keyakinan dan ketekunan. Fitri mengingatkan jika memulai usaha tidak selalu menuntut kesiapan sempurna, tetapi membutuhkan keberanian untuk melangkah dan konsistensi untuk bertahan. “Kunci memulai usaha adalah konsistensi, yang penting kita yakin dengan produk dan tetap konsisten” tutupnya.

(Nurul Ali)

Berita Terkait

Berita Terkini

Google ads