Aceh kembali menegaskan posisinya dalam jaringan jazz global melalui penyelenggaraan Khanduri Jazz 2026, sebuah perhelatan musik yang menghubungkan identitas budaya lokal Aceh dengan semangat jazz sebagai bahasa universal perdamaian, dialog antarbudaya, dan kebebasan berekspresi.
Aceh memiliki sejarah panjang sebagai wilayah persimpangan budaya dunia. Nilai-nilai musikal yang menekankan kebersamaan, ritme, dan partisipasi kolektif dalam tradisi Aceh dinilai memiliki irisan kuat dengan karakter jazz. Hal inilah yang menjadi fondasi Khanduri Jazz 2026 dalam menghadirkan jazz tidak sekadar sebagai tontonan, tetapi sebagai ruang perjumpaan budaya.
Penyelenggaraan Khanduri Jazz 2026 juga bertepatan dengan momentum penting bagi komunitas jazz dunia. Tahun 2026 menandai 100 tahun kelahiran Miles Davis, salah satu inovator paling berpengaruh dalam sejarah jazz modern. Selain itu, Chicago ditetapkan sebagai Global Host City International Jazz Day 2026, memperkuat semangat inovasi, kolaborasi, dan eksperimentasi artistik yang menjadi roh utama jazz.
Dalam konteks tersebut, Khanduri Jazz 2026 menempatkan Aceh sebagai bagian aktif dari perayaan jazz dunia, sekaligus memperkenalkan kekayaan lokal Aceh dalam bingkai internasional.
Founder Khanduri Jazz Uzair menyebutkan, “sejalan dengan semangat International Jazz Day yang diinisiasi UNESCO, Khanduri Jazz 2026 mengusung tema solidaritas kemanusiaan yang berdampak bencana di Aceh dan Sumatra”.
Menurut Uzair, yang juga CEO Radio Antero FM dan media anterokini.com, melalui festival ini diharapkan menarik perhatian untuk penggalangan solidaritas kemanusiaan dalam masa rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana ekologis di Aceh dan Sumatera.
Melalui Khanduri Jazz 2026, Aceh tidak hanya bagian dari agenda global musik jazz, tetapi juga merawat ingatan, identitas, dan masa depan—menjadikan jazz sebagai jembatan antara lokalitas Aceh dan percakapan dunia.


