Bank Indonesia (BI) melaporkan bahwa perekonomian Indonesia sepanjang tahun 2025 tetap menunjukkan kinerja yang solid dan berdaya tahan di tengah tingginya gejolak ekonomi dan ketidakpastian global. Hal tersebut disampaikan dalam Laporan Perekonomian Indonesia (LPI) 2025 yang dirilis pada Januari 2026.
BI mencatat stabilitas makroekonomi nasional tetap terjaga, tercermin dari inflasi yang berada dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen serta nilai tukar rupiah yang relatif terkendali. Ketahanan eksternal Indonesia juga tetap solid, ditopang oleh Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) yang sehat dan surplus neraca perdagangan yang berkelanjutan.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan bahwa capaian positif tersebut merupakan hasil sinergi kebijakan yang kuat antara Bank Indonesia, Pemerintah pusat dan daerah, serta otoritas terkait. Sepanjang 2025, BI terus memperkuat bauran kebijakan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dengan tetap menjaga stabilitas, sejalan dengan program pembangunan nasional dan arah menuju Indonesia Emas 2045.
Dalam kebijakan moneter Bank Indonesia menurunkan suku bunga kebijakan BI-Rate sebanyak lima kali dengan total penurunan sebesar 125 basis poin menjadi 4,75 persen pada Desember 2025, level terendah sejak 2022. Selain itu BI juga melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah serta ekspansi likuiditas moneter melalui operasi moneter yang pro-pasar guna memperkuat transmisi kebijakan dan meningkatkan likuiditas sistem keuangan.
LPI 2025 juga menegaskan pentingnya sinergi bauran kebijakan nasional untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan berdaya tahan. Langkah ke depan, penguatan koordinasi kebijakan antara Pemerintah dan Bank Indonesia dinilai krusial untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi sekaligus memperkuat fondasi transformasi ekonomi nasional menuju Indonesia Emas 2045.


