NApia Abadi89 berinovasi di Tengah Ketatnya Persaingan Kuliner

Bisnis kuliner dengan harga terjangkau dikenal ketat dan cepat berubah. Tak sedikit usaha rumahan tumbang di tengah jalan.

NApia Abadi89, justru bertahan dengan memilih beradaptasi dan terus berinovasi.
NApia Abadi89 merupakan usaha bapia home industry yang dikenal dengan konsep “serba seribuan” dan beragam varian rasa. Produk utamanya adalah Bapia dengan pilihan isi kacang hijau, kacang merah, coklat, keju, hingga nanas.

Rhaudatul Jannah, pengelola NApia Abadi89 saat ini, merupakan generasi kedua yang melanjutkan usaha keluarga. Ia menjelaskan bahwa meskipun produk bapia baru diproduksi sejak tahun 2005, pabrik usaha keluarga mereka sejatinya telah berdiri sejak 1989.

Nama NApia Abadi89 disebut bukan sekadar label dagang, “Huruf N berasal dari Ayah, Nurdin, A dari Ibu, Aisyah, dan ‘Abadi 89’ dari sejarah dan asal-usul usaha” ucap Raudah.

Diawal merintis, sang ayah, memulai bisnis dengan produk kacang gongseng. Seiring waktu, usaha tersebut berkembang dengan menghadirkan berbagai produk lain, “Seperti roti bintang, roti manis, hingga kipang beras. Kipang beras bahkan sempat menjadi produk unggulan saat krisis moneter” tambahnya.

Pada 2011 hingga 2012, keluarganya mulai meninjau ulang seluruh produk yang mereka hasilkan. Dari proses evaluasi tersebut, bapia menjadi produk dengan penjualan yang relatif stabil. Sebagai langkah menjaga keberlanjutan bisnis keluarga, keputusan pun diambil untuk memusatkan usaha pada satu produk ini.

Akhir tahun 2023, permintaan bapia terus menunjukkan peningkatan, volume penjualan yang semakin besar membuat proses produksi manual menjadi semakin tidak memungkinkan, “Solusinya penggunaan mesin otomatis agar permintaan pelanggan dapat terpenuhi” sambung Rhaudah.

Tahun 2024, Rhaudah, sapaan akrabnya, mulai terlibat langsung dalam pengelolaan usaha. Rhaudah menyadari satu hal penting, jika distribusi terbesar NApia Abadi89 justru bukan berada di Banda Aceh melainkan Meulaboh, Aceh Barat, meskipun proses produksi dilakukan di kota tersebut. “Penitip awal jual roti itu sudah di Meulaboh, dari teman dan kenalan Ayah di sana, penjualan di sana bagus, terus berlanjut” kisahnya.

Ia menilai banyak warga
Banda Aceh sendiri belum mengenal produknya, padahal dari segi rasa harga sangat terjangkau. Dari sini, Rhaudah berinisiatif memperkenalkan NApia Abadi89 melalui penjualan langsung dan juga online. Untuk meningkatkan kemampuan berbisnis, Rhaudah aktif mengikuti berbagai program pemerintah yang mendukung UMKM, baik dalam hal digitalisasi maupun pengembangan usaha.
Baginya, harga tetap menjadi faktor utama dalam strategi penjualan NApia Abadi89, “Kami mempertahankan harga seribuan per piece dengan skema paket hemat” ungkapnya. Setiap pembelian senilai 20 ribu rupiah, konsumen mendapatkan bonus lima piece bapia.

Strategi ini dinilai menguntungkan pelanggan karena satu keluarga dapat memilih rasa sesuai selera masing-masing. “Namun, khusus varian kacang hijau, berada diharga 18 ribu rupiah karena diproduksi dalam skala besar.”

Sebagai home industry di bidang makanan dan minuman, Rhaudah juga menyadari pentingnya legalitas dan kualitas produk. Saat ini, NApia Abadi89 telah mengantongi NPWP, NIB, PIRT, sertifikat halal, serta HAKI atau sertifikat merek.

Sementara dalam proses produksi, SOP menjadi kunci utama. Rhaudah tidak ingin mengambil risiko kualitas produksi, “Sedikit saja kesalahan dalam industri F&B dapat berdampak besar pada produk NApia Abadi89” pungkasnya. NApia Abadi89 juga terbuka terhadap kritik dan masukan dari pelanggan. “Setiap kritik kita jadikan bahan evaluasi dan untuk komplain after sales, kami bersedia mengganti produk jika memang terjadi kesalahan atau pun mengembalikan uang pelanggan” sebut Raudah.

Selain bapia, NApia Abadi89 juga telah meluncurkan produk bolen pisang coklat dan masuk produk best seller. Saat ini, rumah produksi NApia Abadi89 berada di Desa Lieu, arah Lambaro Angan. Sementara outletnya dapat ditemui di Lamnyong, Batoh, dan Simpang BPKP.

Sejak dua tahun terakhir, NApia Abadi89 telah menjadi bagian UMKM Center binaan BSI Aceh di Banda Aceh. Menurutnya, selama bergabung di sana NA Pia Abadi 89 memperoleh berbagai manfaat, mulai dari pelatihan rutin hingga pembiayaan untuk pengadaan mesin.

“Berani, berani belajar, berani mengikuti program, dan tidak meremehkan ilmu, karena dengan ilmu, modal dapat dikelola agar terus berputar dan berkembang” tutupnya.

(Nurul Ali)

Berita Terkait

Berita Terkini

Google ads