REMAJA SEHAT BEBAS ANEMIA

Permasalahan gizi di Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan.

Masalah stunting, wasting, obesitas dan masalah kekurangan gizi mikro seperti anemia adalah beberapa masalah yang terjadi di Indonesia.

Masalah seperti stunting sebenarnya pemerintah telah mengupayakan penanganan yang optimal , bahkan sudah ada penurunan tingkat prevalensi nya akan tetapi angka tersebut masih dibawah standar WHO. Tentu masalah-masalah gizi ini menjadi keprihatinan bangsa kita. Seperti stunting, anemia ternyata juga tak kalah memprihatinkan. Anemia masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di dunia. Hampir 2,3 miliar orang mengalami anemia.

Di Indonesia sendiri, anemia merupakan salah satu penyakit paling umum di Indonesia, dengan perumpamaan 1 dari 5 orang Indonesia memiliki risiko untuk terkena anemia. Bahkan remaja kita yang menderita anemia cukup banyak. Berdasarkan Riskesdas 2018 prevalensi anemia pada remaja sebesar 32%, arlinya 3-4 dari 10 remaja menderita anemia. Hal tersebut dipengaruhi oleh kebiasaan asupan gizi yang tidak optimal dan kurangnya aktifitas fisik. Meski kondisi kasus anemia seperti tersebut di atas, banyak masyarakat yang belum sepenuhnya teredukasi akan gejala,dampak,dan penanggulangan anemia.

“Kenapa banyak terjadi pada remaja? Karena kita tau remaja dalam proses tumbuh kembang membutuhkan banyak energi dan nutrisi, dan juga akibat menstruasi yang berakibat kehilangan banyak darah, dan kekurangan konsumsi zat besi dan protein, atau karena diet tidak sesuai,” demikian kata dr Dara Juliana M. Kes, Kasi Kesehatan Gizi dan Keluarga Dinas Kesehatan Aceh. Menurut dr. Dara, sebagaimana disampaikan melalui talkshow yang diasiarkan di radio Jati FM Banda Aceh dan Radio Citis FM Lhokseumawe bahwa kasus anemia di Aceh sampai dengan pertengahan tahun 2021 ini mencapai 18 % . Angka tersebut kata dia tergolong sangat tinggi.

Sebenarnya apa itu anemia? Lalu kenapa remaja menjadi perhatian untuk masalah anemia? Anemia adalah suatu kondisi dimana kadar hemoglobin (Hb) di dalam darah lebih rendah dari normal. Nilai Hemoglobin untuk anak-anak usia 5-11 adalah 11,5 Hb. Sedangkan untuk anak usia 12-14 tahun adalah nilainya 12 Hb. Anemia terjadi ketika tubuh kekurangan sel darah merah sehingga tubuh tidak mendapat cukup oksigen. Biasanya wajah terlihat pucat, mudah lelah, pusing dan sakit kepala.

Beberapa gejala anemia muncul, antara lain: Kekurangan oksigen pada otot menyebabkan mudah letih, lelah, lesu, sehingga seseorang menjadi kurang produktif, selanjutnya Kekurangan oksigen pada otak menyebabkan kurang konsentrasi atau mudah lalai, sehingga prestasi seseorang menurun. Gejala lainnya: mudah sakit kepala, pusing (kliyengan), mata berkunang-kunang, dan mudah mengantuk. Pada anemia yang berat, terlihat pada wajah, mata, bibir, kulit, kuku, dan telapak tangan seseorang tampak pucat.

“Ciri-ciri anemia yang paling mudah kita temui itu bisa kita lihat dari kondisi anak yang pucat atau tidak, mudah melah, pusing, sakit kepala. Kalau sudah begitu makanya harus segera mendatangi fasilitas Kesehatan terdekat untuk memastikan apakah kadar hb nya kurang atau tidak sehingga diketahui anemia atau bukan,” ujarnya.

Seperti diungkapkan dr. Dara untuk mudah mengingatnya, ingatlah “5 L”, yaitu letih, lemah, lesu, lelah, lunglai. Remaja seringkali mengalami anemia. Ada beberapa hal yang dapat menyebabkan terjadinya anemia pada remaja khususnya remaja putri, antara lain :
1. Remaja putri mengalami menstruasi, sehingga kehilangan banyak darah
2. Remaja tumbuh sangat cepat sehingga perlu asupan zat gizi lebih banyak
3. Remaja sering mengalami kekurangan zat besi dan protein
4. Remaja, sering melakukan diet tanpa memperhatikan asupan zat besi.

Anemia pada remaja menjadi perhatian karena pada dasarnya dampaknya seringkali tidak terlihat atau tidak dapat dirasakan secara langsung. Tetapi anemia pada remaja tidak dapat diremehkan. Mengapa? Pada masa ini merupakan era demografi dimana usia produktif lebih banyak dibanding usia non produktif. Tentu saja bila remaja sebagai generasi penerus mengalami anemia dampaknya akan luar biasa kelak. Dari remaja putri inilah kelak akan menghasilkan generasi penerus yang diharapkan adalah generasi penerus yang sehat, cerdas dan produktif. Anemia inilah yang akan membawa pengaruh besar saat remaja putri ini nantinya menjadi ibu dan melahirkan anak.

“Efeknya dampak jangka panjang dari anemia atau kekurangan kekurangan zat besi di badan secara otomotis kadar darah merah berkurang, sehingga otot kita kurang oksigen, otak kurang oksigen, ini akan menghambat pertumbuhan si anak. Sementara dalam jangka pendek yang bisa kita lihat langsung ya anak-anak yang kurang berghairah, seperti lemah, letih lesu, lunglai,” tamah dr. Dara.

Belum lagi adanya fakta bahwa, anemia terbukti menyebabkan menurunnya produktivitas kerja wanita Indonesia sebanyak 20 persen atau sekitar 6,5 jam per minggu. Kondisi ini tentunya dapat menjadi hambatan besar bagi pembangunan sumber daya berkualitas di Indonesia. Itulah mengapa anemia pada remaja menjadi perhatian bagi kita semua.

Anemia pada remaja perlu ada pemahaman bagi kita semua untuk dapat mencegahnya, apalagi saat ini sedang masa pandemi. Karena dalam masa pandemi seperti sekarang ini kita perlu menjaga imunitas termasuk didalamnya mencegah terjadinya anemia. Ada beberap hal yang dapat kita lakukan untuk mencegah anemia terutama pada remaja putri, antara lain :
1. Mengonsumsi makanan bergizi seimbang terutama tinggi protein dan kaya zat besi. Makanan kaya zat besi dari sumber makanan hewani seperti daging, unggas, dan ikan. Jangan lupa konsumsi buah dan sayur yang mengandung vitamin C, E dan A.
2. Tidak mengonsumsi teh, kopi, atau susu bersamaan saat makan karena akan menurunkan penyerapan zat besi dari makanan.
3. Mengonsumsi makanan yang dapat meningkatkan penyerapan zat besi seperti jeruk dan makanan hewani.
4. Melakukan aktifitas fisik secara rutin.
5. Sering mencuci tangan dengan sabun dan air yang mengalir.
6. Minum air putih 8 gelas per hari
7. Cegah cacingan dan malaria melalui pola hidup bersih dan tidur menggunakan kelambu jika Anda tinggal di daerah endemis malaria.
8. Mengkonsumsi tablet tambah darah sesuai anjuran.

“Pastikan kita mengonsumsi makanan secara bervariasi dan bergizi. Makanan yang beragam dan seimbang gizinya akan mencegah terjadinya anemia, khususnya pada wanita, ibu hamil, dan remaja putri. Wanita lebih rentan terkena anemia karena mereka mengalami haid setiap bulannya,” lanjut dr. Dara lagi.

Terakhir, secara rutin melakukan pemeriksaan kesehatan berkala untuk mengetahui ada atau tidaknya anemia. Untuk konsumsi tablet tambah darah sebaiknya dilakukan setelah berkonsultasi dengan tenaga medis. Minumlah tablet setelah mengkonsumsi makanan gizi imbang. Gunakan air putih saat minum tabletnya. Makan jeruk atau jus kaya vitamin C, supaya penyerapan tablet tambah darah lebih EFEKTIF. JANGAN minum tablet tambah darah dengan teh, kopi atau susu, karena akan MENGHAMBAT penyerapan zat besi.

Nah, yuk mulai sekarang kita harus sadar diri untuk menjaga kesehatan kita sendiri. Generasi yang sehat tentu akan menghasilkan generasi yang sehat pula. Generasi yang sehat akan membentuk sumber daya manusia yang berkualitas. Hal ini akan bermanfaat bagi pembangunan bangsa dan Negara kita tercinta.
(ADVERTORIAL)