Kampung Berseri Astra: Budidaya Tiram Ramah Lingkungan Di Desa Alue Naga

Tambak yang rusak saat Tsunami 2004 silam menjadi lokasi pencarian tiram/Nurul

Akhir pekan, merupakan waktu yang tepat untuk beristirahat setelah melewati hari – hari yang melelahkan karena kesibukan. Beristirahat dan menghimpun kembali tenaga untuk siap kembali beraktivitas.

Namun, libur di akhir pekan juga menjadi waktu yang dinantikan untuk dapat berkumpul bersama keluarga dan teman – teman. Sebagian orang memilih menghabiskan waktu mereka dirumah, tapi  ada juga yang memilih untuk berlibur dengan mengunjungi tempat wisata seperti pantai.

Salah satu pantai yang menjadi tujuan saat akhir pekan yaitu Pantai Alue Naga, berada di Desa Syiah Kuala kota Banda Aceh. Pantai Alue Naga ramai dikunjungi  oleh wisatawan dalam kota dan juga luar kota. 

Pemandangan indah matahari terbenam menjadi hal yang ditunggu oleh pengunjung pantai. Meskipun dapat di lihat setiap hari namun matahari terbenam selalu menarik untuk disaksikan. Penduduk Desa Alue Naga pun memanfaatkan waktu tersebut untuk menjual hasil tangkapan mereka seperti tiram.

Sejak dulu, Desa Alue Naga merupakan salah satu daerah penghasil tiram di Aceh dengan kualitas yang baik dan bernilai jual tinggi bagi nelayan.

Tiram merupakan jenis kerang dengan rasa yang lezat dan memiliki kandungan Nutrisi yang tinggi, tetapi dibalik kebaikannya juga menyimpan dampak buruk bagi kesehatan tubuh jika dikonsumsi dalam jumlah banyak dan terus menerus terutama tiram yang berasal dari tempat cemaran limbah.

Karena tiram bersifat filter feeder yaitu menyerap makanan yang mengalami Suspensi (telah tercampur) di air termasuk yang terkontaminasi logam berat. Tiram memiliki peran penting di dalam ekosistem karena dapat membersihkan dan menjaga air tetap jernih, tetapi sangat rentan terhadap pencemaran.

Bahkan tiram sering dijadikan sebagai Bioindikator untuk mengetahui tingkat pencemaran logam di suatu daerah.

Pencemaran air sungai dapat terjadi karena adanya aktivitas manusia di sekitar sungai. Data yang dikeluarkan oleh Bapedal pada tahun 2014, didapati kandungan logam Timbal (Pb) di Krueng Aceh.

Hasil riset yang dilakukan oleh Peneliti dari Universitas Syiah Kuala juga menyebutkan tingginya kandungan logam seng (Zn) di Krueng Aceh.

Kedua logam tersebut berdampak buruk bagi kelangsungan ekosistem perairan. Begitu pun bagi manusia, dapat menghambat pembentukan Hemoglobin dalam tubuh sehingga sel darah merah tidak dapat berfungsi dengan baik dalam mengangkut oksigen dan karbon dioksida, hal inilah yang memicu terjadinya masalah kesehatan seperti stroke bahkan kanker.

Berawal dari ke khawatiran tersebut, Ichsan Rusydi seorang pengajar dan peneliti menggagas untuk membangun rumah tiram dengan membudidaya tiram di Desa Alue Naga. Dengan metode floating culture (budidaya terapung) dimana menggunakan peralatan sederhana seperti bambu, pipa dan ban bekas yang di benamkan kedalam air.

Tahun 2018, nelayan mulai melakukan budidaya di bantaran sungai Krueng Aceh. Budidaya tiram tidak memerlukan perawatan khusus karena berkembang dengan cepat bahkan dapat terus menerus dipanen setelah enam bulan.

Hasil penelitian Ichsan pun menyebutkan kandungan logam pada tiram budidaya jauh lebih rendah di bandingkan tiram yang tidak dibudidayakan. Cara baru ini memberikan hasil yang positif, meningkatkan penghasilan pendapatan ekonomi nelayan tiram.

Hasil tiram dijual daerah lain dalam bentuk segar atau dijadikan produk olahan seperti kerupuk dan nugget. Seperti yang dilakukan oleh Mariati, ia mengolah tiram hasil tangkapannya menjadi kerupuk. Usaha kerupuknya telah berjalan sejak 2015 dan telah dipasarkan hingga ke luar kota.

Ia mengatakan “kerupuk tiram olahannya biasa dijadikan oleh-oleh dan telah di pasarkan ditoko – toko”.

Pengolahan tiram juga salah satu bagian dari pengembangan Kewirausahaan Desa Alue Naga karena terpilih menjadi Desa binaan PT Astra International Tbk, Program bertema Kampung Berseri Astra (KBA) pada tahun 2017 lalu.

Head of Environment and Social Responsibility Astra International Riza Deliansyah mengatakan “melalui Kampung Berseri Astra, pihaknya ingin mewujudkan suatu Desa dengan lingkungan yang bersih dan hijau”.

Selain untuk mewujudkan wilayah yang bersih, sehat, cerdas, dan produktif. Program ini juga memberikan peningkatan kualitas hidup masyarakat.

Ichsan yang juga Inisiator KBA  mengatakan “melalui Program Kampung Berseri tersebut masyarakat Desa Alue Naga diharapkan dapat meningkatkan kehidupan yang lebih berkualitas dari segi kesejahteraaan ekonomi, pendidikan, kesehatan dan lingkungan”.

Fakultas Kelautan dan Perikanan Universitas Syiah Kuala telah melakukan uji kompetensi terhadap 120 nelayan tiram dari empat kelompok di Desa Alue Naga. Nelayan tiram tersebut telah diberikan sertifikasi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).

Kini, program kampung berseri telah berjalan selama tiga tahun. Tidak hanya tiram, nelayan juga mulai mengembangkan kerang hijau seara budidaya karena memiliki nilai ekonomi tinggi seperti tiram.

Desa Alue Naga juga terus meningkatkan setiap aspek dari program tersebut, salah satunya kerja sama pemerintah bersama Astra membangun Rumah Pengolahan Tiram dimana nantinya pengolahan tiram dapat lebih baik.

Peresmian rumah pengolahan tiram telah dilakukan pada Februari lalu oleh Wali Kota Banda Aceh Aminullah Usman. Dilansir dari situs Dinas Perikanan dan kelautan Aceh, Ia mengatakan “Pemerintah Kota Banda Aceh telah berinvestasi dalam bentuk budidaya tiram dan telah dilaksanakan di tahun ini”.

Menurutnya  karena 30 persen perempuan di Desa Alue Naga bermata pencaharian sebagai nelayan tiram sehingga dengan adanya fasilitas tersebut dapat menambah kesempatan kerja bagi warga lainnya.

Namun, karena wabah virus Corona membuat rumah pengolahan tiram belum aktif dan akan segera beroperasi di tahun depan. NURUL