Ini Penyebab Eksportir Lebih Memilih Pelabuhan Diluar Aceh

Meskipun Aceh sudah memiliki sejumlah pelabuhan yang berstandar internasional, seperti Krueng Geukuh dan Malahayati, namun sejauh ini eksportir di provinsi Aceh masih lebih memilih pelabuhan-pelabuhan diluar Aceh dalam bisnisnya.

Badan Pusat Statitik (BPS) Aceh mencatat pada bulan Februari 2017 lalu, sebanyak 61,10 persen dari total ekspor komoditi asal Aceh dilakukan melalui pelabuhan-pelabuhan diluar Aceh.

Menurut data BPS Aceh ekspor komoditi asal Aceh umumnya dilakukan melalui pelabuhan Beulawan Sumatera Utara dan Tanjung Priok Jakarta.

Kepala BPS Aceh Wahyudin menyebutkan alasan pengusaha lebih memilih pelabuhan diluar Aceh dikarenakan upah buruh pelabuhannya lebih murah dibandingkan pada pelabuhan di provinsi Aceh.

Wahyudin mengaku sudah menyampaikan hal itu kepada pemerintah Aceh, khususnya Bappeda dan Disperindag Aceh, agar memberikan perhatian khusus, dengan menerbitkan regulasi  yang mengatur upah buruh, agar pelabuhan di Aceh bisa berkembang.

“Penyebabnya di tempat kita tinggi, sehingga eksportir enggan melalui pelabuhan kita. Jadi permasalahan itu saja, maka saya dorong ada regulasi khusus. Karena para eksportir ini menghitung juga, sehingga mereka memilih diluar Aceh karena disana sudah terkoordinir dengan baik, inilah sebabnya orang memilih diluar,”ujarnya.

Ia mencontohkan, pada bulan Februari 2017 ekspor Aceh terbesar dilakukan melalui Sumatera Utara dan Jakarta berupa kelompok komoditi kopi sebesar 2.372.4141 USD yang ditujukan ke Amerika Serikat dan Singapura.

Pada kesempatan tersebut kepala BPS Aceh juga menjelaskan perkembangan ekspor Aceh melalui pelabuhan di Aceh. Menurutnya pada bulan Februari 2017 total ekspor Aceh sebesar 3.751.046 USD, mengalami penurunan sebesar 22,59 persen dibandingkan Januari 2017.  “Tidak ada komoditi migas yang diekspor pada bulan Februari 2017, yang ada hanya komoditi nonmigas, yang ditujukan ke Negara India,”ujarnya.