Upaya-upaya misionaris melakukan pendangkalan aqidah umat Islam semakin gencar di provinsi Aceh, bahkan Aceh disebut-sebut sebagai daerah tujuan misionaris di Indonesia, sasaran dari misionaris ini adalah warga muslim diperbatasan Aceh.
Untuk mencegah hal itu Pemerintah Aceh melalui dinas Syariat Islam provinsi Aceh telah melakukan berbagai upaya, diantaranya adalah dengan menempatkan dai diperbatasan Aceh, bahkan pada tahun 2014 pemerintah Aceh akan menambah 30 dai perbatasan.
Sekretaris Dinas Syariat Islam Provinsi Aceh Usamah Al-Madny menyebutkan saat ini ada 150 dai yang ditugaskan di perbatasan Aceh, mereka difasilitasi untuk menjaga dan membimbing masyarakat muslim dan muallaf disana.
“Disana kita tau begitu gencarnya upaya-upaya pendangkalan akidah yang dilakukan, dengan sasaran umat Islam khususnya yang kurang mampu”ujarnya.
Sementara itu Humas Baitul Mall Aceh Sayed Muhamad Husen mengatakan umat Islam dan muallaf di perbatasan Aceh masih banyak yang miskin, hal itu dimanfaatkan oleh misionaris dengan bantuan-bantuan sosial dan mengajak umat Islam pindah agama. Diakui Sayed Baitul Mall Aceh memberikan perhatian khusus kepada empat daerah perbatasan Aceh, masing-masing Aceh Tamiang, Aceh Singkil, Aceh Tenggara dan Subulusslam.
“Muallaf kita disana banyak yang miskin sehingga kita upayakan dengan pemberdayaan ekonomi dan juga peningkatan pemahaman agama”lanjutnya.
Ditempat yang sama Anggota DPR RI M Nasir Jamil meminta adanya perhatian serius pemerintah Aceh terhadap gencarnya aksi pemurtadan di daerah perbatasan, Nasir berharap adanya alokasi dana yang memadai dari pemerintah Aceh untuk mencegah pendangkalan aqidah ini, “DPR Aceh harus mengupayakan anggaran yang cukup untuk instansi terkait agar bisa meminimalisir bahakan menangkal pendangkalan aqidah ini”ujarnya.
Selain itu menurut Nasir harus adanya perhatian terhadap para dai yang bertugas diperbatasan Aceh itu.


