Fuad Mardhatillah: Syariat Islam Masih Prematur dan Simbolis

ilustrasi

Dosen IAIN Ar-Raniry Banda aceh yang juga mantan Deputi Agama dan Sosial BRR NAD-NIAS, Fuad Mardhatillah menyatakan pelaksanaan syariat Islam di Aceh masih prematur dan terkesan simbolis. Fuad mengatakan ketika syariat Islam diterapkan di Aceh, yang diuatamakan pemerintah adalah merubah nama – nama kantor dari bahasa Indonesia menjadi huruf arab, padahal menurutnya yang paling penting adalah bagaimana mencerdaskan masyarakat tentang Islam sehingga pelaksanaannya tidak salah kaprah, menurutnya secara filosofis maupun kajian akademis tidak terlihat kesiapan masyarakat Aceh menjalankan syariat Islam.

“Masalahnya kemudian syriat Islam ini menajadi komoditas politik sehingga masyarakat tidak dipersiapkan dan ini lebih kepada tanggungjawab pendidikan, kemudian secara filosofis saya juga tidak melihat kesiapan masyarakat termasuk elitnya, mau kemana syriat ini dibawa,” katanya.

Sementara itu Kepala Dinas Syariat Islam Provinsi Aceh, Rusdi Ali Muhammad mengatakan syariat Islam di Aceh memang lsedang berjalan sehingga membutuhkan waktu yang lama untuk penyempurnaan, karena pelaksanaan syariat Islam di Aceh tidak mungkin mencontoh seperti Arab Saudi dan Malaysia.

“Saya fikir kita ini masih berproses dan memang lama, karena kita mau cari yang khas dari Aceh dan tidak mencontoh Arab Saudi atau Malaysia tapi kita ramu dengan khas ke Acehan, tentu ini pekerjaan yang berat dan tidak mudah,” jelasnya.

Dilain pihak ketua Majelis Permusyarawatan Ulama (MPU) Provinsi Aceh, Muslim Ibrahim mengatakan syariat Islam di Aceh tidak prematur namun banyak kekurangan – kekurangannya yang sedang diperbaiki dan menurutnya hanya orang – orang yang tidak siap dengan syariat saja yang mengatakan syariat Islam masih premature.

“Syariat Islam di Aceh adalah jerih payah orang Aceh bukan keinginan politik, memang kita belum punya format yang jelas, mau kita terapkan seperti Arab Saudi tidak cocok, seperti Malaysia juga tidak cocok untuk Aceh,” katanya.

Pernyataan – pernyataan tersebut disampaikan dalam dialog interaktif menyikapi syariat Islam dengan iman dan hati nurani yang berlangsung di Aula Kantor Gubernur Aceh, Senin pagi. (im)