DJPb Aceh : Realisasi APBN di Aceh Triwulan I Sudah Lebih Baik

Realisasi dana desa triwulan I Tahun 2019 mencapai Rp. 892,29 Milyar atau sekitar 18, 01 persen. Jumlah tersebut mengalami peningatan dibandingkan dengan realisasi dana desa pada periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp. 610, 93 milyar atau sekitar 13,70 persen.

Hal demikian disampaikan Kepala Kanwil DJPb Provinsi Aceh Zaid Burhan Ibrahim pada kegiatan Media Meeting kinerja APBN Triwulan I Tahun 2019, Selasa (09/04).

Burhan menyebutkan, secara umum realisasi APBN di Aceh pada Triwulan I tahun 2019 sudah jauh lebih baik dari tahun sebelumnya. Ia merincikan, realisasi pendapatan Negara sebesar 15, 28 persen menunjukkan adanya pertumbuhan positif sebesar 1,91 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Selanjutnya penyerapan belanja Negara di Aceh sampai dengan akhir triwulan I tahun 2019 sebesar 14,44 persen juga menunjukkan pertumbuhan positif sebesar 3,12 persen.

“Begitupun dengan belanja pemerintah pusat yang dilaksanakan oleh instansi vertikal, Kementrian, dan lembaga di daerah telah terealisasi Rp. 2.206,2 milyar atau lebih tinggi 3,35 persen dibandingkan periode lalu,” lanjutnya.

Selanjutnya kata Burhan, untuk DAK fisik triwulan I tahun 2019 belum ada yang terealisasi atau nihil. Hal itu disebabkan karena pemerintah daerah belum menyampaikan laporan realisasi penyerapan dana dan capaian output kegiatan DAK fisik tahun 2018 serta belum disampaikannya daftar kontrak kegiatan tahun 2019.

“Batas waktu penyampaian dokumen persyaratan penyaluran melalui OMSPAN dilakukan paling lambat tanggal 22 Juli 2019,” tambahnya.

Pada kesempatan itu Burhan juga menyampaikan bahwa pihaknya juga melakukan kajian fiskal regional tahun 2018 di provinsi Aceh.

Dari kajian itu pihaknya menyampaikan beberapa rekomendasi antara lain mendorong pemerintah daerah untuk lebih berperan aktif dalam pembiayaan usaha mikro kecil menengah (UMKM), membuka seluas-luasnya akses bagi investor untuk menanamkan modalnya di Aceh dan mengambangkan kawasan-kawasan khusus di Aceh, yang diproyeksikan mampu mendongkrak perekonomian Aceh.

Selanjutnya mengambangkan potensi wisata syariah, kelautan dan perikanan, serta kopi arabika gayo menjadi produk unggulan Ache yang masih sangat potensial untuk dikembangkan.