Indeks Kerukunan Beragama Aceh Sangat Rendah?

Masjid Al-Makmur Banda Aceh/diliputnews

Forum Kerukunan Umum Beragama (FKUB) Aceh menyatakan indeks kerukunan beragama di provinsi itu berdasarkan hasil penelitian ternyata masih rendah.

“Berdasarkan penelitian pada 2017, Aceh berada di urutan dua paling bawah. Artinya, indeks kerukunan beragama di Aceh paling rendah dibandingkan provinsi lainnya di Indonesia,” kata Ketua FKUB Aceh, H Nasir Zalba, di Banda Aceh, Sabtu.

Menurut dia, hasil penelitian yang menyebutkan indeks kerukunan beragama di Aceh paling rendah tidak sama dengan kenyataan. Padahal, Aceh merupakan provinsi paling toleransi terhadap kerukunan antarumat beragama.

Memang, kata dia, ada beberapa kejadian menyangkut konflik beragama. Seperti konflik pembangunan masjid di Kabupaten Bireuen dan konflik agama di Kabupaten Aceh Singkil.

“Namun, konflik tersebut tidak mempengaruhi secara umum kerukunan umat beragama di Aceh. Masyarakat Aceh sangat menjunjung tinggi toleransi sesama umat beragama,” kata Nasir.

Sementara itu, Idaman Sembiring, seorang pendeta di Aceh, menyatakan masyarakat di provinsi ujung Barat Indonesia tersebut sangat toleransi, kenyataanya juga tidak pernah terjadi konflik beragama.

“Kami sudah 37 tahun menetap di Aceh. Selama itu pula tidak pernah ada konflik beragama. Aceh sangat toleransi,” katanya.

Jadi, lanjut dia, sangat keliru kalau ada yang menyatakan, indeks kerukunan umat beragama di Aceh rendah. Serta menyebutkan Aceh berada urutan dua terbawah kerukunan umat beragamanya.

Mantan Rektor Universitas Islam Negeri Ar Raniry Banda Aceh Aceh, Prof Yusni Saby menyatakan, permasalahan yang terjadi dalam kerukunan umat beragama harus segera diselesaikan.

“Setiap permasalahan menyangkut dengan kerukunan umat beragama yang dibiarkan berlarut-larut. Jika dibiarkan akan menjadi konflik yang besar serta sulit diselesaikan,” kata Yusni. Antara