Darwiyah, Sosok Ibu Dibalik Ketaguhan Hati Miftah Mempertahankan Hijabnya

Keluarga Miftah, Pejudo asal Aceh yang di diskualifikasi karena menolak buka hijab/ist

Keteguhan hati Miftah dalam menjalankan syariat Islam meski berkecimpung di olahraga beladiri bukanlah suatu kebetulan.

Miftah kecil, kata Darwiyah, sang ibunda, dididik dengan pendidikan agama yang kentara. Ia mengajarkan sendiri ilmu agama kepada Miftah hingga ia memutuskan merantau ke Jawa dari tanah kelahirannya Aceh Barat Daya.

Sebelum bersekolah di Sekolah Menengah Luar Biasa (setingkat SMA) di Kota Kembang, ia lebih dulu sekolah di SLB di Jantho.

Usai sekolah, Miftah yang pulang ke Susoh meminta izin melanjutkan kuliah di Bandung. Apa nyana, keluarganya tak punya biaya cukup hingga khawatir studi Miftah tak bakal selesai.

“Dia sangat ingin kuliah. Kalau tidak diizinkan dia minta pulang dan di rumah saja bersama saya,” kata Darwiyah.

Darwiyah yang hanya seorang ibu rumah tangga, dan suaminya Salimin yang seorang guru akhirnya mengizinkan ia melanjutkan kuliah. Pilihan Miftah jatuh pada Universitas Pasundan. Ia memilih jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia.

Agar tak terlalu membebani keluarganya, Miftah berlatih olahraga prestasi yaitu Taekwondo. Belakangan ia menekuni Judo sebagai olahraga yang kemudian mengharumkan namanya hingga ke tingkat internasional dan membuat ia kini menjadi salah satu mahasiswa yang meraih beasiswa atlet dari pemerintah.

“Latihannya sangat keras,” kata Darwiyah. Ia khawatir pastinya, namun semua ia serahkan pada Yang Maha Kuasa.

Darwiyah masih ingat, Miftah menghubungi dirinya malam sebelum Miftah dijadwalkan bertanding di kejuaraan Asian Para Games. Saat itu, Miftah memang sudah melaporkan; esok ia akan bertanding dengan mengenakan jilbab.

“Dia bilang kemungkinan akan dilarang main karena aturannya ngak boleh pakai jilbab,” kata Darwiyah. “Saya merestui keputusan Miftah. Saya bilang pertahankan jilbabnya,” kata Darwiyah terharu.

Apa yang disampaikan Miftah pada Darwiyah terbukti. Esoknya, ia didiskualifikasi sebelum bertanding di kelas 52 kg dengan Gantulga Oyun dari Mongolia.

Namun demikian, perlakuan itu harus diketahui bukanlah bentuk diskriminasi bagi para difabel, melainkan aturan yang dibuat untuk keamanan para atlet.

Kegagalan bertanding Miftah tak diketahui Darwiyah. Pasalnya ia tak memiliki televisi di rumahnya. Ia baru mengetahui setelah salah seorang tetangganya memberi ucapan selamat. Miftah dianggap ‘juara’ meski tak pernah bertanding.

“Saya terharu. Alhamdulillah ia tetap pertahankan jilbabnya. Saya Rindu dua,” kata Darwiyah.